Featured Post

Recommended Story

Novel's Project: Castlevania The Holy Heart, Cpt 3: Memoar Kelam (Sample Testing)

Ilustrasi: Alucard, Phonyssa, The church, Red-lips Lady (Medea), Hofifa, Lisa, Dracula. Catatan bagi Pembaca: Kisah ini terjadi jauh sebelum...

Novel's Project: Castlevania The Holy Heart, Cpt 3: Memoar Kelam (Sample Testing)

Novel's Project: Castlevania The Holy Heart, Cpt 3: Memoar Kelam (Sample Testing)


Ilustrasi: Alucard, Phonyssa, The church, Red-lips Lady (Medea), Hofifa, Lisa, Dracula.





Catatan bagi Pembaca: Kisah ini terjadi jauh sebelum meledaknya revolusi Perancis tahun 1792, maupun bangkitnya tirani Erzabeth Bathory sebagai Sekhmet, Jauh Sebelum Richter Belmont, Maria dan Aneth, pahlawan kita terlahir…

Melainkan, ramalan ini telah diberitakan sejak 300 tahun sebelumnya….




Biografi Singkat Karakter Utama: 



Adrian Farenheit Tepes (Alucard):
dalam serial film originalnya Castlevania diinformasikan lahir sekitar pertengahan tahun 1450-an. Ciri-ciri fisiknya berkulit pucat, mata keemesan dengan rambut putih panjang yang ikal. Ayahnya Lord Dracula Tepes dan ibunya seorang manusia bernama Lisa, seorang dokter dari desa kecil bernama Lupu, yang ada di wilayah kerajaan Wallachia. Sekarang di era modern termasuk ke wilayah Romania. Darah campurannya, menjadikan Alucard lahir sebagai Dhampire (setengah manusia setengah Vampir) Namun, khusus dalam cerita ini, setelah ia terlibat perang berdarah dengan misi membunuh ayahnya yang mengamuk menggenosida umat manusia setelah kematian ibunya, yang dibakar oleh gereja dan dituduh sebagai penyihir (yang di mana bagian narasi ini juga terdapat dalam cerita aslinya) Alucard pun bertransformasi menjadi Vampir sepenuhnya dan mewarisi Kastil Dracula di Wallachia. 



Phonyssa Afeta Belmont: Ini adalah karakter penggemar utama yang dibuat oleh penulis dalam cerita ini. Lahir setelah 133 tahun setelah perang melawan Dracula usai. Berambut kemerahan teh jahe dan bermata biru laut, seperti leluhurnya Sypha. Saat usianya menginjak 16 tahun ia pun memilih jalan hidupnya dengan mendalami pengetahuan-pengetahuan rahasia, termasuk sejarah dan sihir. Ia kemudian bergabung dengan kaum Pencerita (Speaker) dari garis leluhur ibunya–Sypha Belnades atau yang belakangan dikenal Sypha Belmont, alih-alih menjadi pemburu vampir sebagaimana leluhurnya dari garis ayah–Trevor Belmont. Yang kedua leluhurnya itu adalah teman seperjuangan Alucard mengalahkan Dracula di masa lalu.


Wallachia, Moving Castle (Kastil Dracula) 1631, seminggu yang lalu...


Nyssa selalu melakukannya. Hampir setiap malam. Ruang inti kastil sudah terasa seperti bangkai raksasa.

Roda-roda gigi raksasa itu diam, membeku di posisi tak wajar beberapa miring, beberapa saling mengunci, seolah mesin itu mati di tengah jeritan. Retakan menjalar di poros besi, bekas masa lalu hentakan sihir Sypha yang memaksa kastil berpindah tanpa koordinat. Tidak ada dengungan. Tidak ada ritme. Hanya keheningan setenang hantu pendiam yang lengang di telinga.

Justru itu yang berbahaya.

Nyssa berdiri di bibir platform runtuh. Jalur resmi sudah lama ambruk. Jadi, untuk mencapai sisi barat ruangan, satu-satunya cara adalah melintasi roda gigi raksasa yang tak lagi bergerak, tidak stabil dan bisa bergeser kapan saja.

Ia menguji pijakan pertama. Logam tua mengerang pelan.

Nyssa tidak melompat gegabah. Ia berpindah perlahan tapi pasti, dari satu gigi ke gigi lain, menjaga pusat berat tubuhnya tetap stabil. Beberapa roda miring ketika diinjak cukup untuk membuatnya terpeleset jika ia panik. Di satu titik, sebuah roda bergeser setengah inci, memaksa Nyssa meloncat pendek ke poros terdekat, mencengkeram tepi logam dingin dengan jari-jari yang mulai mati rasa. Meskipun telah melakukannya hampir seratus kali dalam beberapa bulan. 

Tidak ada mesin yang membunuhnya di sini, hanya kesalahan manusia. Dari poros, ia berdiri dan melompat lagi, melemparkan tubuhnya untuk mencengkram jalinan rantai terdekat yang menggelantung dari struktur roda yang mencuat diatasnya. Ia Mengayunkan tubuhnya sendiri sebelum akhirnya mendarat di platform sisi barat dengan berguling. 

Sekarang lututnya menghantam lantai. Napasnya tertahan. Debu halus beterbangan, sisa abu alkimia yang tak pernah dibersihkan sejak kehancuran.

Gang sempit itu menanti. Gelap Total.

Nyssa mengangkat tangan. Percik api kecil menyala di ujung jarinya, bukan untuk menyerang melainkan sekadar menegaskan bahwa ia masih menguasai dirinya. Cahaya itu menyingkap perubahan dinding: dari logam mesin menjadi batu kasar. Simbol-simbol alkimia Dracula menghilang, digantikan pahatan sederhana dan fungsional.

Belmont.

Lorong itu menurun pelan, dan udara berubah lebih kering, lebih tenang. Ia keluar dan mencapai titik akhir di anjungan dan perpustakaan yang tenggelam dalam kegelapan. Rak-rak menjulang seperti bayangan diam. Tidak ada cahaya. Tidak ada debu tebal. Ruangan ini tidak mati hanya tidur.

Nyssa bergerak ke sudut yang ia perkirakan sejak awal. Percik api masih menyala dari ujung jarinya. 

Kotak listrik.

Bukan bagian dari mesin teleportasi melainkan tambahan pasca-perang, teknologi sederhana yang dipasang Alucard untuk menyalakan ruang-ruang tertentu tanpa menghidupkan inti kastil. Matanya menyipit, Ia membuka panelnya, memeriksa kabel semua masih utuh. Lalu menarik tuasnya. Listrik mengalir dengan dengungan rendah, terpisah dari mesin teleportasi yang mati. Lampu-lampu menyala satu per satu, cahaya kuning redup menyapu rak buku, meja kerja, dan peti-peti besi bersegel lambang Belmont.

Perpustakaan itu terbangun. 

Lorong batu itu berbau lembap dan besi tua bau yang menempel di lidah, seperti menjilat koin yang lama terkubur. Nyssa berhenti bukan karena mendengar sesuatu, melainkan karena tidak ada apa-apa yang terdengar. Tidak ada cicit tikus. Tidak ada tetesan air dari pipa. Tidak ada gema langkahnya sendiri. Kesunyian semacam itu bukan anugerah. Itu peringatan. Karena tikus-tikus itu entah bersembunyi ketakutan oleh pemangsa yang lebih kuat mengintai? Atau bangkai-bangkai hewan itu tubuhnya telah mengering di pojokan tanpa setetes darah pun tersisa? Atau bahkan perpaduan dari keduanya?

Kulit di tengkuknya meremang, bukan dingin, melainkan tekanan seperti jari-jari tak kasatmata yang menimbang jarak antara nadi dan gigi. Ia membiarkan bahunya turun perlahan, menjaga agar napasnya tidak berubah menjadi terengah. Ia bisa merasakan langkah-langkah samar dari getaran tulang di bawah nadinya. Satu, dua, tiga, empat. Nyssa mengetuk ngetuk buku jarinya ke pagar logam beranda platfrom, menghitung.

Dia tidak menoleh ke belakang. Dia tidak perlu melakukannya.

Bau darah lama menyelinap masuk bukan amis, melainkan manis yang membusuk. Lidahnya menangkap rasa pahit yang belum ia cicipi. Tubuhnya mengingat sebelum pikirannya sempat menamai rasa itu.

Ia membuka tas kulit di pinggangnya. Gesper logam menggesek pelan. Jarinya menyentuh serbuk worm wood kasar, kering, berbau getir yang membuat sinusnya berdenyut. Bau itu selalu memanggil ingatan ibunya: meja kayu, mortir batu, tangan yang gemetar namun tak pernah ragu.

Akar valerian ia hancurkan dan haluskan perlahan. Krek. Suara itu terasa terlalu keras di dalam kepalanya sendiri. 

Mereka menunggu. Makhluk-makhluk itu tidak bergerak.

Garam laut kering jatuh ke cairan, mendesis lirih seperti napas tertahan. Asap daun ashwood naik mengepul abu pucat, berbau hangus dan pahit dipanaskan oleh belerang dan apinya dalam panci. Nyssa mengoleskannya ke pergelangan tangan, ke leher, ke bawah rahang. Kulitnya terasa dingin, lalu panas, lalu mati rasa. Ia menegakkan punggungnya. Menghembuskan napas yang baru ia sadari ia tahan. Rahangnya terasa pegal karena terlalu lama terkunci.

Ia tidak pernah mengejar. 

Tujuannya bukan untuk itu, tujuannya hanya bertahan cukup lama untuk menyelesaikan misi. Misi itu bernama Adrian Farenheit Tepes. Ia memikirkan jarak yang Alucard bangun, jarak dingin, terukur, penuh kendali. Jarak seseorang yang pernah membuka diri, lalu dihancurkan. Nyssa tidak membenci jarak itu. Apalagi menyalahkannya. Ia memahaminya. Ia hidup di dalam jarak yang sama. Namun jantungnya itulah yang tidak bisa ia kompromikan. Karena itu berarti ia harus tetap hidup, menyelamatkan dirinya sendiri, sebelum bisa menyelamatkan orang lain.

Ia menuruni tangga seng menuju repositori. Setiap langkah menghasilkan dentang logam yang memantul, naik turun, seolah menertawakan kehati-hatiannya. Tangannya menyentuh dinding batu yang dingin dan basah. Lumut tipis terasa licin di telapak tangannya. Repositori itu menelannya dengan udara dingin dan bau debu tua. Di sini, pengetahuan tidak berusaha menyelamatkan siapa pun. Itu hanya menunggu ditemukan. 

Nyssa membuka arsip penelitian vampir. Diagram rahang. Catatan tentang kelenjar. Coretan marah dari tangan-tangan yang menulis sebelum sekarat. Air liur vampir. Ia membaca perlahan, bibirnya hampir menyentuh kata-kata itu.

Mild aphrodisiac. Tubuh yang melunak sebelum pikiran sempat menolak.

Hypnotic binder. Sugesti yang masuk seperti benang, menjahit paksa kehendak makhluk malam ke dalam pikiran.

Lingering scent marker. Jejak sekaligus Undangan untuk makhluk malam lain.

Nyssa menutup buku itu dengan hati-hati, seolah takut bunyinya akan memanggil sesuatu. Dadanya terasa berat. Ia menekan dua jari ke pergelangan tangan, menghitung detak. Yang sekarang tak terkendali. Karena itu ia bereksperimen. Konsisten meskipun beberapa kali menghadapi kegagalan. 

                                                                            ***

Malam di kamar Alucard selalu terasa berbeda lebih sunyi, lebih lembab, seakan udara langsung menempel di kulit terangnya. Peti mati itu terletak di tengah ruangan, kayunya hitam pekat, ukirannya halus seperti doa yang dibekukan. Nyssa telah melakukan ini selama berminggu-minggu. Setiap malam, dia akan membuat teh sesuai jadwal, seperti kebiasaan yang dilakukan mentornya setelah berburu atau menyempurnakan ilmu pedangnya. Tapi itu bukan sembarang teh. Itu adalah ramuan tidur. Dan, ketika ruangan menjadi sunyi dan hening?

Nyssa membuka tutupnya perlahan.

Cahaya bulan jatuh langsung ke wajah mentornya. Kulitnya pucat, hampir tembus cahaya. Rambut pirangnya menangkap kilau perak. Bulu mata panjangnya menciptakan bayangan tipis di bawah mata emas yang tertutup. Penampilan yang hampir menipu, nyaris seperti malaikat. Membawa tanda kebaptisan.

Ia tampak tenang. Terlalu tenang.

Nyssa menelan ludah. Bau khas vampir, dingin, logam, dan sesuatu yang membuat jantung berdebar mengisi paru-parunya. Ia menyalakan api kecil di ujung jarinya. Cahaya jingga memantul di kayu peti. Panasnya menjilat kulit Alucard, memancing keringat perlahan sejurus jemari Nyssa menangkup dahinya.

“Maaf,” bisiknya. Kali ini suaranya nyaris tak terdengar.

Ia mengumpulkan keringat itu dengan kain tipis. Bau logam dan sesuatu yang lain sesuatu yang membuat perutnya berkontraksi. Aroma khasnya.

Di dalam tidurnya, Alucard mengerutkan dahi.

Ia terbangun mengigau, seolah merasakan panas, seolah bisa merasakan bahwa seseorang terlalu dekat.

“I-ibu....?” suaranya parau, dan serak. Hampir tidak ada. Dan, garis kerutan itu. Garis kerutan yang melintang di alisnya entah mengapa terlihat rapuh dan manusiawi. 

“Ibu... di sini,” jawab Nyssa cepat setengah kikuk, tangannya berhenti. Berganti membelai mentornya untuk menenangkannya. Otot-otot yang menegang di bawah sentuhannya. pun kembali rileks perlahan. Setetes air mata mengalir turun dari pangkal kedua mata yang tertutup. 

                                                                                   ***

Ia menyesap sampel itu sedikit saja. Sensasi itu datang seperti sentuhan yang tidak diminta. Hangat. Menekan. Dunia terasa terlalu dekat.

Cepat-cepat ia meneguk ramuan penetralisir.

Pahit. Membakar lidah. Menenangkan. Detak jantungnya melambat. Otot-otot yang kendur dan lemas kembali tangkas. Pikiran yang sebelumnya berkabut kembali fokus. Setelah ke-dua belas kalinya ia berhasil. Matanya terpejam, senyum tipis penuh kelegaan tersungging di bibirnya yang hampir pucat.


                                                                                  ***
Alextaf bertengger di salah satu pohon terdekat kastil Dracula. Berambut gelap dan bermata kebiruan. Matanya memicing tajam mengawasi sebagaimana elang yang mengintai mangsanya sebelum melompat dan memanjat salah satu atap reruntuhan paviliun terdekat. Lalu melompat menyelinap turun melalui salah satu retakan di reruntuhan mengikuti Nyssa ke ruang inti kastil bagai bayangan pelindung yang tak terlihat. Dialah keponakan yang begitu ia sayangi dan banggakan. Ayahnya adalah kakaknya tersayang, Seymour Hoff Belmont. Meskipun belakangan namanya berganti hanya menjadi Seymour Hoff. Tanpa beban 'Belmont' sekalipun. Pria berambut kecokelatan. Mata almond keabuan, rahang tegas. Berdedikasi tinggi. Otot padat disempurnakan oleh latihan selama belasan tahun sedari kecil. Pewaris generasi ketiga dari trah Belmont. Ayahnya adalah Simon Belmont yang terkenal sementara Kakeknya adalah Trevor Belmont yang legendaris. Tentu saja, murid dari Alucard yang legendaris. 

Meskipun, kakinya tak pernah lagi menginjakkan tanah Belmont setelah hari itu... 
Alextaf masih mengingatnya. Tatapan keabuan Simon Belmont dingin, menyipit, selalu penuh perhitungan. Ia menatap putranya lekat-lekat, sebelum beranjak dari kursinya. Ia mendekat hanya sampai berjarak satu inci dari putranya sebelum tangannya perlahan meraba dan menarik cambuk yang dikaitkan pada sabuk di pinggang putranya. Ia menghentakkan cambuk  ke lutut putranya memaksanya berlutut.  Sebelum berpindah dengan gesit ke belakangnya dan kemudian menyayat lambang Belmont yang terpampang di rompi kulit putranya. Melukai dan menggores punggung Seymour dengan pedangnya sendiri. Kakaknya mengerang, kesakitan. Percikan darah menetes mengotori lantai. Sebelum pamannya beranjak pergi begitu saja meninggalkan ruangan. Jawaban dan kenyataan yang begitu dingin menampar sebagaimana sengatan amunisi. Seorang Belmont tidak boleh melukai pewaris dan keturunannya sendiri, kecuali sekarang ia akhirnya telah dibebaskan dari beban ekspektasi dan tanggung jawab yang mengakar dalam nama keluarga. Dan, bukan lagi termasuk salah satu dari mereka. Namun, hanya orang asing. Yang siap dilupakan. Kakaknya menelan kenyataan itu tanpa gentar, tanpa lutut yang gemetar dan bahu tetap tegak sejak diskresi pada hari itu. 

Alextaf adik sepupunya? Panik, bersegera menyusul, berusaha membujuk pamannya untuk berubah pikiran dari menghapus putranya sendiri dalam silsilah keluarga. Namun, Simon Belmont adalah pria yang dingin dan keras jika aturan dan kepercayaannya sekalipun sebagai seorang ayah telah dilanggar. Begitu juga Seymour, ia bahkan tak pernah menolehkan kepalanya lagi ke belakang, ke masa lalu, ke tempat, tatapan dan tangan-tangan yang dahulu pernah disebutnya sebagai keluarga. Mereka berdua memang memiliki kemiripan-sangat mirip. Sehingga Alextaf hanya mampu menatap kakaknya dari belakang punggungnya sejak saat itu. 

Namun, semuanya bukan masalah besar ataupun kehancuran pada awalnya. Alextaf selalu mengawasi kakaknya dari kejauhan semenjak saat itu. Di sebuah gubuk kayu yang sederhana, disitulah kakaknya tinggal bersama isterinya Zyzian. Wanita yang begitu kakaknya cintai. Meskipun ada rumor yang mengatakan bahwa gadis itu adalah keturunan Chaldean, garis penyihir dari daerah Tigris Babilonia kuno yang mempunyai sejarah perseteruan dan penghianatan berantai dengan arthurian. Garis Merlin. Garis keturunan penyihir yang tertanam dalam nadi Belmont. 

Karena itulah Pamannya sangat tak menyukainya. Ia tak akan membiarkan sedikit rumor ataupun celah mengotori nama Belmont di mata kedua kubu, gereja dan para bangsawan. Dan yang di dengar dan lihat Alextaf dari bayangan lilin berkelebat setiap malam? adalah pemandangan sakral dan menggelikan, tawa bahagia tanpa beban, pasangan memadu kasih, desahan atau erangan yang menggairahkan. Hingga di suatu puncak hari, tengah malam. Suara tangis bayi terdengar dari rumah kecil itu. Kelahiran keponakannya tersayang. 

Gerombolan kelelawar telah mengepung di sekitaran rumah mereka. Membentuk formasi bagaikan awan hitam berbentuk tangan dan kuku-kuku tajam sang kegelapan, menaungi rumah mereka dari badai salju. Menunggu dengan sabar. Sejak saat itu kesadaran yang menghujam bagaikan cambuk Helsing, buyut-buyutnya seakan menyayat nadinya. Ramalan turun temurun dan legendaris Sypha Belnades seratus tiga puluh tiga tahun yang lalu memanglah benar adanya. 

Alextaf menembus badai salju yang mengganas di luar. Formasi kelelawar carpatians di atasnya diam dan tenang. Mereka tidak berkontraksi, hanya menunggu. Menunggu khidmat. Penuh penghormatan. Mantel tebal dan sepatu botnya terasa berat dipenuhi beban salju. Ia Mematahkan gembok dan engsel kayu dengan satu pelintiran tangkas tangannya menerjang masuk ke ruangan. Api perapian menjilat-jilat tanpa henti, sigil berbentuk cakram matahari menyala dan memendarkan api lembut di sekitaran ranjang persalinan, puluhan batang lilin menggelantung dan mengambang di udara menerangi ruangan. 

"Kau ke sini?" 

Itulah kali pertama Seymour, kakaknya, menatapnya dengan lembut dan haru sejak perpisahan mereka. Seymour memeluknya, Alextaf membeku di tempat beberapa saat. Sebelum ia membalas pelukan kakaknya dengan tangkas dan membiarkan kehangatan menjalar ke tubuhnya. 
"Aku tahu kau tidak akan melupakan kami." Seymour tersenyum tipis, salah satu tangannya beristirahat di bahunya lembut setelah melepaskan pelukan. Seolah menyambutnya kembali. 
"Jadi semua ini.. benar?" Tanya Alextaf sedikit tercengang, meskipun berusaha tenang. Matanya beredar ke sekeliling sekali lagi. Sebelum akhirnya melanda ke Zyzian, gadis berambut kemerahan jahe, masih berkeringat dan terengah pasca melahirkan. Namun, tetap tersenyum terhadap tamu tak diundangnya. Dan, di sisinya lah keponakan kecilnya terbaring. Mata terpejam. Kulit terang. Dan tubuh mungilnya dibalut dengan kain wol berlapis-lapis. Alextaf mendekat, satu-dua langkah perlahan dengan tubuh yang gemetar sebelum berlutut di sisi ranjang. Membelai pipi mungilnya.

"Phonyssa, keponakanmu." Ujar kakaknya lembut ikut berlutut di sisinya sebelum mengangkat tubuh mungil bayi itu ke pinangannya. Alextaf terkejut, aura kelembutan dan keayahan-nya jelas terpancar sekarang. Menggantikan kesan tegas, keras kepala dan galak dari luar yang biasa ia tampakkan. Begitulah keajaiban dari cinta, pikir Alextaf. Bisa membuat siapapun melunak dan bertekuk lutut. "Putriku sayang." Seymour mendaratkan ciuman lembut ke dahi Nyssa sebelum akhirnya menyerahkan tubuh mungil itu ke Alextaf. 

Alextaf menggendong tubuh mungil itu dengan kikuk dan tangan yang gemetar. Sebelum akhirnya kakaknya membantu menyandarkan Nyssa bayi ke bahunya. Dia menggeliat dan menguap nyaman di bahu Alextaf. Kain wol yang membalut rambutnya pun tersibak, menampilkan rambut tebal kemerahan jahe seperti ibunya. Dan sejak saat itulah keinginan dan insting untuk selalu melindungi dan menjaga keponakannya tertanam dalam nadinya. 

Cinta memang menciptakan pelangi, mengisi segalanya dan membuat kita hidup. Keponakan kecilnya tumbuh bahagia menjadi gadis kecil yang lincah dan cerdas dalam asuhan dan cinta kedua orang tuanya. Namun, sayangnya Alextaf lupa bahwa cinta itu pedang bermata dua. Selain bisa membuatmu merasa hidup, itu juga bisa membunuhmu dan menghancurkanmu.
                                            
                                                                                          ***

Nyssa terduduk dan terkulai ke lantai. Bukan karena ramuannya. Namun, karena emosi yang selama ini ia bendung, akhirnya dilepaskan. Kelegaan, kepuasan, ambisi, lelah dan kemarahan atas setiap tantangan yang dibebankan oleh semesta di pundaknya dan orang-orang terdekatnya bercampur aduk dan  meledak. Matanya mulai berkaca-kaca, dadanya naik turun. Dia mati-matian berusaha menahan diri untuk tidak mengerang, berteriak, dan berdarah sadar dirinya sedang di awasi. Jadi ia hanya mengatupkan rahangnya dan menekan giginya sampai patah. Selaras ombak masa lalu kembali menerpa di kepalanya.

dia beruntung? Tidak, dia bekerja keras dalam diam." Karena saat kau tak memiliki banyak orang yang bertepuk tangan untukmu? Di situlah integritasmu diuji."

~ Def Tanoshii 

                                                                                 ***
Brasov, 1620 Masehi, Rumania.

Nyssa masih mengingat hari kejadian itu. Lilin berkedut, tersibak angin lembut musim dingin dari ventilasi kecil di atas jendela. Malam setelah matahari terbenam itu berlangsung damai, seperti malam-malam sebelumnya pikirnya. Nyssa duduk di pangkuan ibunya. Rambut kemerahannya kusut dan basah kuyup sehabis mandi. Usianya baru sepuluh tahun. Jari jemari ibunya menyisiri rambutnya sembari mengeringkannya dengan api hangatnya. Tiba-tiba ibunya menurunkannya dari pangkuannya lalu menghadapnya sembari berlutut. Mensejajarkan tinggi mereka. Mengaitkan kain wol yang sempat terlepas ke bahu dan menutup kulit terang telanjangnya. 

"Kemarikan tanganmu sayang." Ibunya menjulurkan kedua telapak tangannya kepada Nyssa. "Ibu ingin mengajarimu sesuatu. Tempelkan telapak tanganmu ke telapak tangan ibu." Nyssa kecil pun menurutinya dengan tatapan penuh penasaran. "Jika kau ingin bisa memanggil api seperti ibu, kau harus bisa merasakan kehadiran dan panggilan mereka. Di setiap ruangan, sudut, lorong, dan tempat yang kau pijak." Bulu kuduk nyssa bergidik, ia bisa merasakan tempat-tempat di mana api memercik, di perapian, di sudut -sudut kamar, di lorong gudang persenjataan dari lampu minyak tanah, bahkan dari lampu api obor di kandang kuda di halaman belakang. Seolah-olah mereka memanggilnya. "Fokuskan pikiranmu. Rasakan perubahan suhu dan udara di sekitarmu. Sang enlil-udara, bersahabat dengan kita. "

"Ayo ikuti ibu. Pejamkan matamu. Dan sambutlah panggilan mereka." Nyssa pun mendengarkan dengan seksama, mengikuti arahan ibunya dengan sungguh-sungguh. Sejurus kemudian, rasa panas pun mulai mendidihkan darahnya dan mempercepat denyut nadinya. Di saat itulah, pertama kalinya Nyssa membuat api dengan usahanya sendiri. Percikan api mulai menjalar dari jari-jemarinya. Mata Nyssa pun melebar, terengah takjub. Sebelum berubah menjadi tawa dan jeritan antusias kemudian. Nyssa melihat mata kebiruan ibunya berpendar terang. Pupilnya memantulkan jilatan api mereka. "Bagus sekali!" Ibunya memujinya.

Hingga tiba-tiba, tanpa peringatan dan tanpa undangan. Makhluk keji itu datang. Tawa riang pun lenyap. Seakan ditelan badai melankolis. Ia menerobos masuk secepat kilat. Jubah hitamnya berkibar-kibar. Rambut pirang keperakannya nyaris seperti malaikat. Menampilkan tanda kebaptisan. Yang tidak menyembuhkan kebejatan. 

"Siapa kau?!" Ibunya berteriak mengancam, tak gentar, tak takut. Ia refleks menamengi Nyssa kecil dengan tubuhnya. Namun, Nyssa sudah paham satu hal dari aromanya, tanpa diberi tahu. Vampir. Pupil kehijauannya tajam seperti ular. "Kau tak perlu tahu namaku. Aku hanya kesini untuk mendengarkan irama jantung kecil putrimu yang memabukkan. Sekaligus.. menjadi malaikat kematianmu, mungkin?" Suaranya dingin dan ganas sejurus seringai keji menampilkan taring emasnya.

Refleks ibunya pun langsung bekerja detik itu juga. Segala peralatan tajam terdekat, yang mampu dijangkau dikerahkan. Garpu, pisau daging di meja makan, lilin yang membara di sudut jendela dilayangkan ke udara dalam perintah serempak telekinesis jemari ibunya. Namun, ketiganya seolah berhenti membeku di hadapan vampir itu. Lilin yang membara berhenti persis depan mata kanannya. Garpu di titik nadi lehernya dan pisau daging membeku di depan jantungnya. Sebelum sedetik kemudian? semuanya berbalik arah. Darah segar menyiprat ke tembok kayu rumah sederhana itu. Ibunya memekik dan langsung runtuh terkapar. Darah mengalir dari salah satu ujung matanya yang kini buta, dari ujung bibirnya yang pucat. 

"Lari Nyssa, Lari..." Ibunya berbisik menatapnya dengan bibir gemetar dan putus asa untuk terakhir kalinya. Dan Nyssa melakukannya. Dengan keputusan asaan, ketakutan dan kemarahan yang membara dalam dada. Ia berlari ke gudang persenjataan ayahnya. Tak peduli seberapa gemetar tubuh kecil dan ringkihnya itu. Lalu menyelinap ke dalam sebuah tong kayu hampir kedap. Barulah setelah hampir setengah jam berlalu. Pamannya Alextaf mengangkat tubuh ringkihnya keluar dari gentong itu. Melewati mayat ibunya yang terkapar.

Setelah itu? ayahnyalah yang runtuh. 

Malam-malam hangat berubah sedingin kutub selatan. Arak menggantikan doa, Pelukan hangat digantikan makian hati yang bersedih. Perlindungan digantikan dengan penjara. Nyssa kecil sering dikunci di kamarnya, mendengarkan langkah berat di luar pintu, menghitung waktu dengan detak jantungnya sendiri. Ayahnya menjadi sering pulang larut malam, dan keesokan paginya? Belasan arak sudah menumpuk di meja. Ayahnya akan tidur dari pagi sampai sore, lalu pergi dari petang sampai tengah malam. 

Pernah di suatu hari ayahnya tidur seharian di kursi ruang tamunya, tidak berkutik dan tak beranjak dari tempatnya sama sekali. Nyssa kecil yang cemas pun menyibakkan selimut baunya dari wajahnya. Tangan kecil dan gemetarnya menempel di dahi ayahnya yang berkeringat dan mengkerut membentuk garis-garis tegas, sehingga tampak sepuluh tahun lebih tua dari sebelumnya. Demam. Nyssa beranjak ke kamar mandi menyendok air dengan panci lalu menempelkan tangannya sendiri. Mendidihkannya. Ia mengambil kain kecil sebelum mencelupkannya dan memerasnya. Beranjak kembali ke kursi dan mengompres dahi ayahnya yang terus menggumamkan nama ibunya dalam tidurnya. Dan pemandangan itu begitu mencabik-cabik hatinya.

Jadi, begitu petang tiba ia nekat keluar rumah. Meninggalkan ayahnya sendirian. Berjalan sejauh tiga mil untuk menemui tetangga terdekat. Jejak kaki kecil dari sepatu botnya terukir di atas salju tebal. Nyssa kecil mengetuk pintu tiga kali sebelum akhirnya pintu itu terbuka. "Maaf ibu, ayahku sakit, apa Anda punya persediaan lebih untuk kami?"
"Oh.. maafkan kami, nak. Tapi musim dingin masih panjang dan kami.. sudah hampir kehabisan persediaan." Jawab wanita tua berambut keabuan mengedikkan bahunya. Dan begitu seterusnya. Namun, Nyssa tidak menyerah. Hingga sampai ke rumah keenam. Dia telah berkelana jauh mencapai gang Saxon. Nyssa menghembuskan napas panjang menguatkan hatinya meski tangan mungilnya hampir membeku. Ia mengetuk pintu itu tiga kali. Keheningan panjang. Tidak ada jawaban. Nyssa hendak berbalik untuk beranjak. Ketika pintu akhirnya terbuka. Seorang pria tiga puluh tahunan muncul. Seusia ayahnya, Nyssa pikir. "Ya, ada yang bisa dibantu?" Saat itulah ia pertama kali bertemu Jackson tukang dan pengrajin kayu. "Oh, maaf pak. Ayahku sakit..." Kata Nyssa ragu-ragu. "Apa Anda masih punya persediaan lebih untuk kami..? Sekedar untuk makan malam!" Jelas Nyssa buru-buru menambahkan. Jackson pun tersenyum. Pandangannya menyapu isteri dan anak-anaknya sejenak. "Ya, kurasa kami punya sisa dua potong roti dan segelas susu yang cukup?" Isterinya pun mengangguk pengertian. 

Dan, sepulangnya di rumah?

"Berani-beraninya kamu!" Dua potong roti kering berserakan, sebotol susu tumpah mengotori lantai. Ayahnya meledak lagi dengan frustasi seperti biasa.
"Ayah sudah bilang jangan pernah keluar dari rumah lagi seenaknya. Apalagi berkelana sendirian. Kau mau kematian ibumu menjadi sia-sia?! Kau mau ibumu membenciku karena tidak bisa menjagamu? Menjaga kalian?"

Hening sesaat. "Ayah sudah gagal menjaga ibumu, Nyssa.. tolong jangan membuat ayah mengulang kesalahan lagi.." rutuk Seymour, menghembuskan napas panjang nyaris putus asa. Sebelum menguncinya lagi seharian di dalam rumah keesokan harinya.

Hingga pada suatu senja, ketika ayahnya telah meninggalkan rumah. Seseorang membobol jendelanya secara paksa. Nyssa mendengar Hujaman benda tajam berkali-kali. Jendela itu telah dipasang papan geranit tebal yang diukir dengan sigil-sigil magis tertentu. Tepat di lantainya ada taburan bubuk perak yang disebar membentuk simbol sigil segitiga dengan garis zig-zag menembus kedua pangkal segitiga di tengahnya. Sigil api. Jebakan ini jelas dimaksudkan untuk membakar hangus makhluk malam yang berani masuk di tempat. Ayahnya melakukan hal sama untuk setiap jendela di rumah mereka. Tapi ini masih akhir siang. Matahari bahkan baru tergelincir sedikit. Jadi, Nyssa tidak berpikir vampirlah yang menerobos kali ini. 

Nyssa mundur selangkah saat sebuah lubang dari retakan kecil mulai tercipta di jendela. Pikirannya penasaran, ingin mengetahui siapa yang berani membobol rumahnya. Namun, instingnya memerintahkan kakinya untuk mulai berlari dan bersembunyi. 
"Nyssa!" Nyssa berhenti di tengah pelariannya dan menoleh ke sumber suara. Itu pamannya Alextaf. Seorang laki-laki muda bersemangat  dan tampan, dengan tahi lalat kecil di bawah pelipis mata kananya. Pikir Nyssa kala itu. Sehingga Nyssa pun penasaran akan secantik apakah bibinya nanti kalau pamannya menikah. Bermata biru dan berambut gelap. "Ayo keluar sebentar." Rutuk pamannya, masuk melompati jendela. Ajakan pamannya pun langsung diterima dengan suka cita oleh Nyssa. 

Pelabuhan Saxon adalah ledakan warna dan suara. Dari Rumah Nyssa mereka mengendarai kuda. Udara asin bercampur bau ikan, bir hangat, dan asap kayu. Musik mengalun dari biola kasar dan seruling kayu. Genderang dipukul dengan ritme sederhana namun menghentak. Nyssa kecil duduk di depan pamannya. Dinaungi oleh dada bidangnya. 

"Parkir kuda di sebelah sini hanya dua thaler perjam!" Seorang pria tua botak mata tajam penuh perhitungan, gigi emas menuntun dan mengarahkan mereka dengan lambaian topinya. Mereka turun mengikat kuda mereka sebelum beranjak.

Di tengah alun-alun, para penari berputar. Laki-laki mengenakan rompi wol gelap dan celana lutut, sepatu kulit mereka menghentak tanah. Perempuan mengenakan gaun sederhana dengan apron, rok mereka terangkat sedikit saat berputar. Tarian itu hidup. Nyssa kecil tertawa, suaranya tenggelam dalam sorak penonton. Matanya mengikuti penari yang saling berpegangan tangan, berputar, lalu berpisah. Seorang badut jalanan melempar apel ke udara. Seorang pemusik menyanyikan kisah ophelia. Untuk sesaat, dunia terasa aman. Destinasi terakhir mereka sebelum beranjak pergi, mereka habiskan di kedai bir dan daging asap dekat pelabuhan. 

"Bagaimana kabar ayahmu Nyssa?" Tanya pamannya sembari menunggu pesanan mereka. "Kondisinya sudah membaik..." Jeda. "Setidaknya ia sudah bangun dari tidurnya sore ini.. lagi pula musim dingin telah usai jadi kuharap ayah akan baik-baik saja.." kedua tangan kecilnya mengepal di sisi meja. "Aku tak mengerti paman.. ia sangat mudah meledak-ledak. Seperti kesetanan menatapku. Pulang larut malam dengan arak-arak semakin menggunung." 
"Dia berduka Nyssa, sangat dalam.." keheningan menebal di antara mereka. "Sampai menggerogoti dirinya sendiri.." gumam pamannya hampir tak terdengar. "Kau sangat mirip ibumu.." pamannya tertawa getir. 

Ya, tentu saja. Nyssa kecil tahu itu. Dan mungkin itulah sebabnya ayahnya sangat membencinya. Ia adalah pengingat dan kenangan atas luka ayahnya. 
"Apapun yang terjadi Nyssa.." pamannya menghembuskan napas panjang. Dia menegakkan pundak keponakannya. Mensejajarkan wajahnya dengan Nyssa. " Kau tetap satu-satunya keluarga yang ia miliki. Dia tak membencimu... Dia hanya..." Hening sejenak. "Terluka. Dan melampiaskannya padamu." Jadi.. rawatlah si tua itu. Mengerti?" 
Dan ya, itu memang kenyataan. Dan Nyssa tidak bisa melarikan diri begitu saja. Jadi tak ada yang patut dilakukannya kecuali mengangguk. Berlatih menjadi orang dewasa bahkan sebelum waktunya. 

Malam itu empat tahun setelah kematian ibunya. Nyssa berusia empat belas tahun. Ia berpesan kepada ayahnya sebelum ia pergi dan kembali mengurungnya di dalam rumah. "Malam ini, pulanglah untuk makan malam." Ayahnya hanya menatap putrinya lama sebelum berbalik. "Ayah..." Nama itu terasa getir dan asing. "Kumohon..sekali saja." ayahnya tidak menjawab, tapi bahunya mengendur sedikit sebelum beranjak mengunci pintu.

Malam itu ia mempersiapkan makan malam. Susu, buah-buahan, dan daging asap. Dan ya, beberapa lembar daun sirih pereda demam. Untuk berjaga-jaga. Berharap hal ini mampu melembutkan dan meyakinkan ayahnya bahwa beberapa hal masih tetap sama, bahkan setelah kematian ibunya. Malam itu ia menunggu ayahnya dengan hati berdebar. Dan begitu ia melihat ayahnya dengan langkah hampir gontai dari kejauhan ia terlonjak dari kursinya. Hari itu entah mengapa ayahnya terlihat terluka untuk kesekian kalinya. Tubuhnya yang tangkas terlihat laksana gubuk reyot yang bisa ambruk kapan saja. Tatapannya menyapu meja makan sebelum kemudian mendarat ke Nyssa. 

"Apa-apaan semua ini?! Apa kau sengaja kabur dan mencuri?!" Teriak ayahnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Dibalik auman amarahnya.
"Tidak ayah... Paman Alextaf menemuiku lagi.." 
"Lagi?" Ayahnya mengerang kesakitan mencengkram kepalanya seolah berusaha tetap waras. Nyssa remaja cepat-cepat menuntun ayahnya untuk duduk dan tenang, mengambilkannya segelas air. Tapi ayahnya langsung menghempaskan gelas itu. "Ayah!" 

"Kita mati bersama-sama Nyssa. Aku tak sanggup lagi. " Rintih ayahnya putus asa. Sebelum akhirnya beranjak mencengkram tubuh Nyssa begitu erat sehingga menyakitkan. Menatapnya dengan tatapan begitu asing yang sinis, penuh kegilaan? "Kau tahu Nyssa, Sir Madeflare tewas di tengah perburuan demi melindungi ayah? Dan mengapa ia perlu melindungi ayah? Karena ayah memiliki putri cantik yang sangat dicintai sang abadi dan ayah masih perlu melindunginya dan jantung kecilnya!" Ayahnya nyaris menggeram kali ini. Luka-luka lama dibendung amarahnya seolah meledak ke permukaan. Suaranya putus-putus seolah tubuhnya dicabik-cabik delapan pedang tak kasat mata. "P-pikirkan baik-baik Nyssa kalau kita mati, tak ada lagi pelarian dari vampir, tak ada lagi yang perlu mati berkorban dan kita bisa bersatu lagi dengan ibumu seperti dulu.. sampai kapan kita egois dengan hidup kita yang singkat ini.." suaranya bergetar serat akan keputusasaan. 
Nyssa terkulai lemas. Seolah energi tubuhnya terkuras. air mata putus asa mengalir deras dari pangkal matanya yang membengkak. Bahkan terasa begitu asin di lidahnya sendiri. "Tidak ayah, kumohon aku ingin hidup.." suaranya nyaris tertahan. 
"Sebentar saja.. percayalah ini tidak akan sakit.." ayahnya mulai menghunuskan belatinya tinggi-tinggi, selagi mengapit tubuh mungilnya ke dinding. Menargetkan jantungnya. Namun di saat itulah segalanya berbalik secepat kilat. Mata pisau menembus udara, menggores leher ayahnya tepat di nadi. Pupil ayahnya melebar. Memekik. Nyssa menjerit-jerit histeris. Darah segar menyemprot dan mengalir dari luka yang terbuka. Sejurus sebelum ayahnya ambruk. Masih menatap Nyssa terkejut, dengan mata terbuka namun tak lagi melihat. Tangan Nyssa bergetar menggerayangi tubuh pucat mati ayahnya. Tubuhnya sendiri melemas seakan urat-urat dicopot satu per satu dari dagingnya bagaikan senar-senar biola yang sumbang. Di Saat itulah ia melihat pamannya Alextaf. 

"TIDAAAAAAAAK!" teriak Nyssa marah dan terguncang. Ia melarikan diri ke kandang kuda. Berharap bisa melarikan diri dari kenyataan. Menatap pamannya bagaikan binatang buas yang tak mau melepaskan mangsanya, Nyssa terus berlari, ia tak sanggup lagi menatap mata pamannya semenjak tragedi berdarah itu. 
Angin malam menyeruak. Dingin, tak berperasaan. Berkelebat dan mengguncang jilatan obor. Percikan esnya mendesis kala menyentuh api. 
"Hei.." panggil pamannya lembut. duduk di sisinya.
Nyssa meringkuk di sudut kandang membenamkan kepalanya semakin dalam di antara kedua lututnya. Frustasi dan kecewa. Laksana dunianya yang abu-abu telah berubah menjadi kehampaan sepenuhnya sekarang. Rambut kemerahan dan gaun merah muda pucatnya berkelebat lembut diterpa sang angin. Seolah mereka menarik serta semua kepolosannya pada hari itu. Tergantikan oleh kenyataan yang dingin dan getir.

"Paman tahu kau terguncang.." keheningan lama menggerayangi sejalan penjara keterasingan tak kasat mata terbentuk memisahkan mereka. 
"Dan kau membenci paman.." kaki pucat Nyssa berkedut meskipun angin musim dingin membekukannya. Nyssa tidak menjawab atau menanggapi. Tidak, saat setiap syaraf di kepalanya serasa serat kusut yang dipaksa dipintal.

"tapi pak tua itu sudah lama mati... bersama ibumu." Kedua kaki pucat Nyssa menegang sekarang.
"Kenapa tidak aku saja..?" Suaranya parau seakan memaksa memuntahkan belasan pasak yang tertancap di kerongkongan. " Sejak awal...kenapa tidak aku saja yang mati..?" Nyssa akhirnya menatap pamannya dengan mata sembap dan putus asa. Dirinya kini terlihat seperti roh pucat yang baru saja meninggalkan jasadnya. "Kenapa harus seseorang yang mati demi aku..?" Tanyanya lebih kepada dirinya sendiri. Meskipun berusaha menatap pamannya lekat-lekat. Bibir pucatnya gemetar. Ingin menertawakan dirinya sendiri atas kesengsaraan yang perlahan tapi pasti, menghisap kewarasannya  layaknya rawa, menenggelamkannya ke dasar kegelapan batin. Nyssa remaja tertawa kering, dan tajam. Nyaris seperti kerasukan. Membuat siapapun wajah yang menatapnya sepucat hantu. "Kenapa kalian tidak membakar jantungku saja?!" Teriak Nyssa melengking dan mulai tak terkendali. Pamannya pun langsung mencengkram tubuhnya erat-erat. Sehingga hampir menyakitkan. Mengoyakkan tubuh ringkihnya seolah itu mampu mengembalikan kewarasannya. "Sadarlah Nyssaaaa!" Teriak pamannya. Geramannya terdengar putus asa sekarang. "Kalau kau mati semua pengorbanan mereka akan sia-sia.. kematian ibumu, ayahmu, tanganku yang berdarah dan semua orang akan sia-sia.." jika kau terbunuh begitu saja tanpa perlawanan.. kau punya dua pilihan. Jantungmu dimanfaatkan dan dunia hancur oleh makhluk malam dan imoralitas.. atau.. jantungmu menitis..dan mereka juga akan terus memburu dan membunuh orang lain". 

"Jadi.. kau memang tak punya pilihan lain selain bertahan hidup.. sayangnya. selama mungkin." Pamannya menatapnya tajam kali ini. Dentang lonceng menembus udara mengerang nyaring. Senyaring kebenaran. 

Pamannya merogoh sesuatu di antara lipatan bandana biru ayahnya, yang kini melingkari dahi lebarnya. Pin logam berkarat berbentuk perisai dengan lambang lingkaran geometris dan gagak perak ditengahnya terukir tegas. Lambang  kaum pencerita terpampangSebelum pamannya menekannya ke telapak tangan Nyssa. Seakan-akan itu nubuat yang telah diwariskan. 

"Carilah para pencerita Nyssa. Belajarlah. Dan hiduplah.." 
 
Segerombolan gagak berpisah, berterbangan tak tentu arah di atas menara-menara gereja. Seolah terusik oleh sesuatu. Banyak cerita yang berbisik.. bahwa gagak itu adalah peliharaan dan pelayan penyihir, jikalau kelelawar kepunyaan vampir. Dan di saat itulah Nyssa sadar, bahwa ia tak pernah sendirian. Ia selalu diawasi. Entah untuk dilindungi ataupun dihabisi kali ini? Semua belumlah pasti. Bahkan sejak nafasnya pertama kali berhembus ke dunia. 

Bersambung.. cerita akan di update sekitar 23 Januari-25 Januari sejak tanggal terakhir upload.

English Translation Version: 

"There's no fears could swallowed me, only more presistent." ~Phonyssa.

Wallachia, Moving Castle (Dracula’s Castle), 1631, a week ago

Nyssa always did this. Almost every night.
The castle’s core chamber had begun to feel like the carcass of a colossal beast.
The giant cogwheels stood still, frozen in unnatural positions some tilted, some locked into each other as if the machine had died mid-scream. Cracks crawled along the iron shafts, scars left by Sypha’s magic when the castle had been forced to relocate without coordinates. There was no hum. No rhythm. Only a silence so ghostly it rang in the ears.
That was precisely what made it dangerous.
Nyssa stood at the edge of a collapsed platform. The official walkway had long since fallen apart. To reach the western side of the chamber, there was only one way: crossing the massive gears motionless, unstable, capable of shifting at any moment.
She tested her first step.

The ancient metal groaned softly.
Nyssa did not leap recklessly. She moved slowly but deliberately, from one tooth to another, keeping her center of gravity steady. Some gears tilted under her weight just enough to send her slipping if she panicked. At one point, a wheel slid half an inch, forcing her into a short jump toward the nearest shaft. She grabbed the cold metal edge, fingers already going numb.
She had done this nearly a hundred times over the past few months.
Nothing here would kill her on its own.
Only human error. From the shaft, she rose and jumped again, hurling herself toward a hanging chain suspended from a protruding gear above. She swung once, then released, landing on the western platform in a controlled roll.
Her knees hit the floor.
Her breath caught. Fine dust rose residual alchemical ash never cleaned since the collapse.
The narrow passage awaited her.
Total darkness.
Nyssa raised her hand. A small spark flared at her fingertips not as an attack, merely a reminder that she still had control. The light revealed a shift in the walls: from mechanical metal to rough stone. Dracula’s alchemical sigils vanished, replaced by simple, functional carvings.

Belmont.

The corridor sloped downward, the air growing drier, calmer. She emerged onto a balcony overlooking a library drowned in darkness. Towering shelves loomed like silent sentinels. No light. No thick dust. This room was not dead.
It was sleeping.
Nyssa moved to the corner she had anticipated from the start. The spark still burned faintly at her fingers.
The power box.
Not part of the teleportation engine, but a post-war addition simple technology Alucard had installed to light select rooms without activating the castle’s core. She narrowed her eyes, opened the panel, checked the wiring. Still intact. She pulled the lever.
Electricity flowed with a low hum, isolated from the dead teleport system. Lamps flickered on one by one, their dim yellow glow sweeping across bookshelves, worktables, and iron chests sealed with the Belmont crest.
The library awakened.
The stone corridor smelled damp and metallican odor that clung to the tongue, like licking an ancient coin pulled from the earth. Nyssa stopped not because she heard something, but because she heard nothing at all. No rats. No dripping water. Not even the echo of her own footsteps.


That kind of silence was not a blessing.
It was a warning.
Either the rats were hiding in terror from a greater predator…
or their dried corpses lay tucked away, drained of every drop of blood.
Or both.
The skin at the nape of her neck prickled not from cold, but from pressure, like invisible fingers measuring the distance between artery and fangs. She let her shoulders drop, keeping her breath steady. She felt faint steps through the vibrations in her bones. One. Two. Three. Four.
Nyssa tapped her knuckles lightly against the metal railing, counting.
She did not turn around.
She didn’t need to.
The scent of old blood seeped in not sharp, but sweet and rotting. Her tongue caught a bitterness she had never tasted before. Her body recognized it before her mind could name it.
She opened the leather pouch at her waist. The metal clasp whispered softly. Her fingers touched coarse wormwood powder dry, bitter, pungent enough to make her sinuses throb. The scent always summoned her mother’s memory: a wooden table, a stone mortar, trembling hands that never hesitated.

She crushed valerian root slowly.
Crack.
The sound felt far too loud inside her head.
They waited.
The creatures did not move.
Dry sea salt fell into the mixture, hissing softly like held breath. Ashwood leaves smoldered, pale smoke rising burnt, bitterheated with sulfur and fire in the pan. Nyssa rubbed it onto her wrists, her neck, beneath her jaw. Her skin went cold, then hot, then numb.
She straightened.
Only then did she realize she had been holding her breath. Her jaw ached from clenching.
She did not hunt.
She never did.
Her goal was not victory.

Her goal was survival long enough to complete the mission.
The mission had a name: Adrian Fahrenheit Tepes.
She thought of the distance Alucard maintained cold, measured, controlled. The distance of someone who had once opened himself, and been destroyed. Nyssa did not resent it. She understood it.
She lived within that same distance.
But her heart her heart was not negotiable.
Because that meant she had to stay alive.
Save herself first.
Only then could she save anyone else.
She descended the steel stairs into the repository. Each step rang metal striking metal echoing upward and downward, as if mocking her caution. Her hand brushed the cold, damp stone wall. A thin layer of moss slicked her palm.
The repository swallowed her with its cold air and the scent of ancient dust. Here, knowledge did not attempt to save anyone.
It only waited to be found.
Nyssa opened the vampire research archives.
Jaw diagrams.
Notes on glands.
Angry scrawls written by hands that had died before finishing their sentences.
Vampiric saliva.

She read slowly, lips nearly touching the page.
A mild aphrodisiac.
The body softened before the mind could resist.
A hypnotic binder.
Suggestion entered like thread, forcibly stitching the will of the night creature into the victim’s mind.
A lingering scent marker.
A trace and an invitation for other creatures of the dark.
Nyssa closed the book carefully, as though the sound itself might summon something. Her chest felt tight. She pressed two fingers to her wrist, counting the pulse.
Unsteady.
That was why she experimented.
Relentlessly.
Despite repeated failures.
                              
                                            ***

Night always felt different in Alucard’s chamber quieter, heavier, as if the air clung directly to pale skin. The coffin stood at the center of the room, its wood pitch-black, carvings fine as frozen prayers.
Nyssa had been doing this for weeks.
Every night, she prepared tea according to a schedule, mimicking a habit her mentor had kept after hunts or long days refining his swordsmanship. But this was no ordinary tea.
It was a sleeping draught.
And when the room fell completely still 
Nyssa lifted the lid slowly.
Moonlight spilled across her mentor’s face. His skin was pale, nearly translucent. Blond hair caught silver highlights. Long lashes cast faint shadows beneath closed golden eyes.
An appearance that was almost deceptive.
Almost angelic.
Marked by baptism.
He looked peaceful.
Too peaceful.
Nyssa swallowed.
The scent of a vampire cold, metallic, and something else that made her heart race filled her lungs. She ignited a small flame at her fingertip. The orange glow reflected off the coffin wood.
The heat licked Alucard’s skin, coaxing sweat to bead as Nyssa cupped his forehead.
“I’m sorry,” she whispered. This time, her voice barely existed.

She collected the sweat with a thin cloth. The metallic scent mingled with something deeper something that made her stomach tighten. His scent.
In his sleep, Alucard frowned.
Half-conscious, he stirred, as if sensing heat, as if sensing someone too close.
“M-mother…?”
His voice was hoarse. Thin. Almost gone.
The crease between his brows fragile, painfully human.
“I’m here,” Nyssa answered quickly, awkwardly.
Her hand stilled, then shifted to stroke his hair, soothing him. The tension beneath her touch eased. A single tear slid from the corner of his closed eye.

                                                ***
 

She tasted the sample just a fraction.
The sensation came like an unwanted touch.
Warm.
Pressing.
The world felt too close.
Immediately, she swallowed the neutralizing draught.
Bitter.
Burning.
Grounding.
Her heartbeat slowed. Muscles regained their edge. The fog lifted from her thoughts.
The twelfth success.
Nyssa closed her eyes. A thin, exhausted smile curved her lips.
“Is she lucky? No. She works in silence.
Because when no one applauds you, that is where integrity is tested.”
~Def Tanoshii

                                         ***


Alextaf perched in one of the trees near Dracula’s castle.
Dark-haired. Blue-eyed.
His gaze narrowed, sharp as a hawk’s before the dive.
He leapt, climbed the ruins of a nearby pavilion roof, then slipped through a cracked opening, following Nyssa into the castle’s core like an unseen guardian.
She was his beloved niece.
His brother Seymour Hoff Belmont had been her father. Though the name had since been reduced to simply Seymour Hoff, stripped of its legacy.
A man with brown hair. Ash-gray almond eyes. A firm jaw. Unyielding dedication. His compact musculature was the product of relentless training since childhood.

Third-generation heir of the Belmont line.
His father: Simon Belmont. The Well-known.
His grandfather: the legendary Trevor Belmont.
A student of Alucard himself.
And yet his feet would never again tread Belmont ground after that day.
Alextaf remembered it clearly.
Simon Belmont’s gray gaze cold, narrowed, calculating fixed on his son. He rose from his chair, approached until only an inch separated them.
Then his hand reached out.
Not in affection.
He seized the whip from his son’s belt and snapped it across Seymour’s knee, forcing him to kneel. In one fluid motion, Simon moved behind him and slashed the Belmont crest from Seymour’s leather vest cutting flesh, carving blood with his own blade.
Seymour groaned.
Blood splattered across the floor.
Simon left without another word.
A Belmont may never wound his own heirunless that heir had been freed from the burden of expectation and blood.
Unless he was no longer one of them.
Only a stranger.
Ready to be forgotten.



Note: Dear readers, the translation of this chapter has been shortened because it is too long and requires extensive editing. However, you can still translate this story into your own language using Google’s translation feature on the website.

Will be continued... within January, 23th-25th!






 


 















Novel's Project: Castlevania The Holy Heart, Cpt 2: Penyusup Kecil (Sample Testing)

Novel's Project: Castlevania The Holy Heart, Cpt 2: Penyusup Kecil (Sample Testing)

 



Ilustrasi: Alucard, Phonyssa, The church, Red-lips Lady, (Medea), Hofifa, Lisa, Dracula.


Catatan bagi Pembaca: Kisah ini terjadi jauh sebelum meledaknya revolusi Perancis tahun 1792, maupun bangkitnya tirani Erzabeth Bathory sebagai Sekhmet, Jauh Sebelum Richter Belmont, Maria dan Aneth, pahlawan kita terlahir…



Melainkan, ramalan ini telah diberitakan sejak 300 tahun sebelumnya….




Biografi Singkat Karakter Utama: 



Adrian Farenheit Tepes (Alucard): dalam serial film originalnya Castlevania diinformasikan lahir sekitar pertengahan tahun 1450-an. Ciri-ciri fisiknya berkulit pucat, mata keemesan dengan rambut putih panjang yang ikal. Ayahnya Lord Dracula Tepes dan ibunya seorang manusia bernama Lisa, seorang dokter dari desa kecil bernama Lupu, yang ada di wilayah kerajaan Wallachia. Sekarang di era modern termasuk ke wilayah Romania. Darah campurannya, menjadikan Alucard lahir sebagai Dhampire (setengah manusia setengah Vampir) Namun, khusus dalam cerita ini, setelah ia terlibat perang berdarah dengan misi membunuh ayahnya yang mengamuk menggenosida umat manusia setelah kematian ibunya, yang dibakar oleh gereja dan dituduh sebagai penyihir (yang di mana bagian narasi ini juga terdapat dalam cerita aslinya) Alucard pun bertransformasi menjadi Vampir sepenuhnya dan mewarisi Kastil Dracula di Wallachia. 



Phonyssa Afeta Belmont: Ini adalah karakter penggemar utama yang dibuat oleh penulis dalam cerita ini. Lahir setelah 133 tahun setelah perang melawan Dracula usai. Berambut kemerahan teh jahe dan bermata biru laut, seperti leluhurnya Sypha. Saat usianya menginjak 18 tahun ia pun memilih jalan hidupnya dengan mendalami pengetahuan-pengetahuan rahasia, termasuk sejarah dan sihir. Ia kemudian bergabung dengan kaum Pencerita (Speaker) dari garis leluhur ibunya–Sypha Belmont, alih-alih menjadi pemburu vampir sebagaimana leluhurnya dari garis ayah–Trevor Belmont. Yang kedua leluhurnya itu adalah teman seperjuangan Alucard mengalahkan Dracula di masa lalu.

                                                                        ***


Wallachia, 1631 Masehi.

“Ternyata kau belum tidur..” rutuk Sumi berdiri di ambang pintu. Gaun tidur putihnya menari lembut. “Boleh aku masuk?” Sumi mendekat dan menarik tali tirai, kelambunya tersibak ke atas secara otomatis seperkian detik kemudian.

Sesaat rayuan kematian itu terasa menyenangkan. Menghangatkan. Seolah-olah kau seperti memiliki rumah lagi. Sumi, seorang gadis berkulit oriental asal matahari terbit dengan rambut hitamnya sebahu duduk di tepi ranjangnya. Taka, murid dan karib dekatnya menyusul kemudian.
“Sepertinya ini masih terlalu awal juga untukku tidur.” jawab Alucard tertawa kecil, menyambut mereka dengan hangat.

“Kami juga sebenarnya tidak bisa tidur, bolehkah kami berbaring, kami selalu tenang kala ada di dekat Anda..” ujar Sumi, sambil memeluknya. Taka juga terlihat damai menyandarkan bahunya ke kepala tempat tidur.

“Anda mungkin seorang manusia, tapi darah Dracula juga mengalir dalam nadi Anda. Anda cerdas, abadi, tangkas dan kuat. Mewarisi Sains manusia milik keluarga Belmont dan ilmu sihir Dracula sekaligus.” Jari jemari Sumi membelai lembut tulang pipinya sebelum turun menelusuri titik-titik di dagunya, matanya memicing lembut. “Bagaimana bisa orang sehebat Anda selalu sendirian?” bahkan satu pun pelayan atau budak.. tak Anda pelihara. “ Sejenak keheningan menebal di antara mereka, laksana pedang yang menunggu dicabut dari sarungnya.

“...Apa yang membuat Anda begitu sedih? Apa yang Anda sembunyikan dari kami?”

Sumi menatapnya, jauh menghujam ke dalam dua iris matanya yang keemasan dan Alucard membalasnya dengan senyum lembut. “Dulu.” aku memang sendirian..” tapi sekarang, mungkin.. tidak lagi?” Jari-jemarinya pun turut membelai tangan wanita yang mengasihinya itu. Untuk sesaat, Alucard bahkan luluh ia menarik Sumi mendekat dan membiarkan kerentanan yang telah terlampau lama ia sembunyikan keluar sepenuhnya.

Karena ternyata seperti inilah rasanya dibutuhkan dan dicintai. Seperti inilah rasanya kau memiliki keluarga lagi setelah kau hampir kehilangan segalanya---kehilangan wanita yang mengandungmu, dan bahkan membunuh ayahmu atas dukanya dan kehausannya akan darah yang telah lama menyulapnya menjadi gila dan linglung.

Dengan tanganmu sendiri,

demi menyelamatkan umat manusia yang bahkan tidak mengenalmu.

Ia baru saja mempersilahkan secercah harapan mengepul di dadanya, mungkin itu pilihan yang baik atau buruk? Alucard tak peduli lagi. Selama keluarganya–orang terdekatnya ada di sisinya.

Tak pernah sekalipun terlintas di benak Alucard bahwa kehangatan malam itu akan berubah secepat guntur ketika akhirnya ia terlelap.

Tubuhnya yang mula-mula rileks pun menegang, ia tak bisa bergerak bebas. Karena ia terjerat cambuk magis yang langsung meninggalkan bekas memar terbakar di kulitnya. Sengaja dijerat. Tatapan Sumi dan Taka yang sehangat fajar, kini berubah sedingin kutub Selatan. Bersamaan mereka menghunus belatinya tinggi-tinggi dan menargetkan jantungnya. Membenarkan tindakan mereka untuk membunuhnya, jika tak mau diperbudak. Namun, refleks dan instingnya memang selalu tajam dan gesit di saat-saat genting. Pedang magisnya telah terbang melayang menebas leher kedua muridnya itu secepat cahaya. Dan, sekali lagi untuk kedua kalinya dalam hidup, ia selalu ditakdirkan membunuh orang-orang yang dicintainya.

                                                                          ***

Ia tersentak. Mata vampirnya terbuka lebar waspada. Namun, air mata dingin yang mengalir membasahi pipinya tetap tak bisa disangkal. “Tinggalkanlah semua harapan..” rutuknya berbisik, lebih kepada dirinya sendiri, perlahan-lahan kembali mengatur napas. Telinga vampirnya berkedut, seolah menerima getaran sesuatu yang tak asing. Jemarinya refleks mencengkeram sprei.

Jantung manusia.

“....sejak kapan kau ada di sini…Belmont?”

tanyanya akhirnya setelah beberapa saat, tanpa menurunkan kewaspadaannya sedikit pun. Pedang magisnya spontan melayang di antara mereka dengan satu kibasan lihai jemarinya, seolah menjadi benteng utama. Hal ini jelas terpantul di pupil Nyssa dan Alucard. Meskipun mereka telah tinggal bersama di kastil selama beberapa bulan sebagai mentor dan murid, meskipun leluhurnya sendiri adalah karib dekatnya, atau bahkan mungkin keluarga sejatinya yang selalu dirindukan. Namun, bukan berarti Alucard juga siap memberikannya bentuk ‘kepercayaan’ ini.

                                                                              ***

“aku kesini untuk membawakanmu obat..” jelas Nyssa, membawa secangkir minuman di atas baki.

Keheningan kembali merambati mereka. Rambut merahnya menari-nari lembut diterpa angin malam dari jendela yang terbuka—lumayan kontras dengan gaun tunik putihnya yang sederhana. Namun, Nyssa tidak peduli. “...kuperhatikan kau sering bermimpi buruk, guru..? mungkin ini bisa membantu Anda..” rutuknya lagi setelah beberapa saat.

Alucard hanya melirik ke cangkir seraya mengendus lembut. Seringai getir dan sinis tersungging di bibirnya kemudian.

“Kenapa kau repot-repot membuatkanku ramuan matcha dan sengaja membuatku bernostalgia tentang para pengkhianat tidak tahu terimakasih itu Belmont..!? ha-ha..manis sekali, kau memang sangat perhatian.” Suara tawa parau dan sarkasme itu selalu berhasil menghujam Nyssa sampai ke ulu hati dan nyaris tak pernah gagal membuatnya kesal.

“Ya tuhan! Bisakah Anda berhenti menaruh rasa curiga pada setiap orang yang Anda temui!?”

“Jika Anda memaksa akan saya beri tahu. Saya.. memang belajar resep ini ketika berkelana ke Jepang dan bertemu dengan seorang geisha yang ternyata juga kitsune. Lalu ia mengajari saya. dan tenang saja, saya telah memodifikasi rasanya sehingga tak terlalu pahit seperti kemarin. Saya menambahkan campuran matcha, buah asam, mint dan madu!” jelasnya mendengus sebal sembari terus mengaduk minumannya di atas meja rias Alucard.

Ia merasakan pedang Alucard yang refleks berbalik arah di balik punggungnya, menguntit setiap langkahnya dan gerak-geriknya. Cukup untuk membuatnya merasa seperti penyusup amatir di pasar gelap Targoviste yang tertangkap basah. Penjaga dan pendeta sipil, tidak akan melepaskan tikus kecil sepertinya begitu saja. Kecuali dengan pancingan dan suapan kecil. Tiga kantong perak yang disulap dari kuku-kuku mayat.

Jadi, gagasan nakal itu sontak terlintas di benaknya. Nyssa menyeringai tipis dari balik rambutnya yang tergerai. Pertama-tama ia harus bernegosiasi dan berhasil mendapatkan kepercayaan mentornya itu.

“Dan bisakah Anda jangan terus memanggil saya dengan sebutan Belmont! Ya, Anda memang benar.. saya juga menyandang nama Belmont. Tapi saya juga memiliki nama!”

“Dasar Pak Tua!” maki Nyssa lirih menghembuskan napas panjang.

“Jadi, Anda mau meminumnya atau tidak?” tanyanya lagi mengangkat baki setelah selesai.

Sebelum Nyssa bisa menyadari, meja dan kursi di pojok ruangan telah bergeser ke depan dan ke belakangnya dalam ritme ketukan magis kuku-kuku Alucard yang elegan. Tanpa dipersilahkan Nyssa pun menaruh minuman ke meja dan duduk.

“Bagaimana aku bisa minum dengan tenang, kalau mulut kecilmu yang cerewet itu tak bisa diam!” balas Alucard ketus. Dahinya berkerut dan pandangan menyelidiknya tak pernah lepas dari cangkir.

Nyssa menyeringai kecil. “Jadi, Anda hanya mau menatapnya sampai pagi?”
Tanpa basa-basi, Nyssa meminum ramuannya dalam sekali teguk. Hanya sebagai pembuktian. Mata Alucard terus mengikuti, memicing dan menimbang gerak-geriknya.
“Saya akan sekarat dalam lima detik jika ini benar-benar racun.” ujar Nyssa ketus.

Alucard masih mengatupkan rahangnya kesal merasa kalah telak. Namun, akhirnya mengalah. “kenapa kau di sini..? bukankah aku sudah melarangmu masuk?!”

“Sebenarnya saya punya permintaan khusus..” Nyssa akhirnya mengutarakan niatnya setelah ketegangan di antara mereka menipis. “dan apa itu?” Alucard kembali mendengus, dengan malas ia kembali menjatuhkan diri ke tempat tidur tanpa melemahkan pertahanannya sedikit pun. Pedang peraknya masih melayang di udara sebagai pembatas tak terucap.

“Untuk melakukan penelitian. Meneliti Anda lebih tepatnya. Mengapa manusia begitu mudah luluh dan terbuai oleh bujuk rayu vampir dan seberapa besarkah dampak atau efeknya? Bujuk rayu yang saya maksud termasuk penanaman sugesti secara paksa atau hipnotis. “

Nyssa mondar-mandir, dahinya berkerut. Jelas berpikir dengan satu tangan menangkup dagunya. Sementara pedang Alucard di belakangnya berdesing lembut mengikutinya. “... dan benarkah bahwa spesies kalian mengeluarkan senyawa afrodisiak ketika kalian berbicara.. dan berhubungan intim?” Nyssa berhenti di tempat. Ia menoleh sekilas untuk melirik Alucard yang sekarang duduk di tepi ranjang dan nyaris ternganga menatapnya.

Nyssa pun mendengus panjang seraya tertawa sinis, “haha.. kenapa dengan wajah Anda? Apa Anda sangat percaya diri bahwa saya repot-repot ke kamar Anda untuk merayu lalu membunuh Anda begitu saja? Meskipun saya masih bisa melakukannya tanpa pedang kalau saya mau.”

Seringai nakal dan sinis sekilas tersungging dari ujung bibirnya. Namun, Nyssa cepat-cepat menetralkan wajahnya dengan berdehem. Ia tahu bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuk repot-repot memancing emosi mentornya itu, apalagi sampai meledeknya. Karena ini mungkin menjadi satu-satunya kesempatan bagi Nyssa untuk bernegosiasi dan menyempurnakan penelitiannya.

Mata Alucard menyipit, seolah menakar kata-kata muridnya itu. Sebelum mengembuskan napas panjang seolah menyerah. “haahhh.. apa ini gara-gara pertarunganmu dengan New Blood petang tadi?” tanya Alucard malas, anehnya juga bercampur dengan nada protektif yang tulus. Nyssa pun terbelalak membeku di tempat sejenak. “..bagaimana Anda tahu?” mata Nyssa otomatis menyipit-menyelidik.

“Cermin Jarak..” tukas Alucard bosan. Tangannya mengibas pelan mengangkat sebuah boks kayu Kokka berukir kuningan dari sebuah peti di seberang jendela yang mendarat mulus ke atas meja di hadapan Nyssa. Kotaknya terbuka dan serpihan kaca runcing kembali menyatu serentak, menampilkan cermin utuh dalam seperkian detik. Sebelum akhirnya tertutup kembali dengan satu kibasan tangan Alucard.

“cukup untuk berjaga-jaga dan menguntitmu diam-diam.” Alucard terkekeh penuh kemenangan. “Pengalamanku selama tiga generasi dengan Belmont telah mengajariku tentang seberapa bebal dan keras kepalanya mereka.” rutuk Alucard ketus setengah meledek. Nyssa pun seolah dilempar sebongkah batu tepat ke wajahnya. Romannya datar dan mengeras, kedua tangannya di kedua sisi meremas-remas gaun tidurnya, gamang.
Takut kalau misi pribadinya sampai terbongkar. Takut jika aktivitas konsolidasinya dengan Akwi terungkap. Namun, Alucard sendiri tampaknya tak terganggu sedikit pun. Apa itu karena ia belum mengetahuinya? Atau ia memang sangat lihai menyembunyikan fakta? Nyssa sendiri belum bisa menilai.

Ia pun mengambil napas panjang lalu menghembuskannya. Alih-alih menanggapi lelucon sarkastis agar Alucard bertambah antusias, Nyssa memilih melanjutkan perannya. “Ya, persis seperti yang Anda duga, Master..” Nyssa membukuk meletakan satu tangan di dadanya berpura-pura tersanjung. Meskipun sebenarnya ingin sekali merobek topeng congkak mentornya itu.

Mata keemasan Alucard menyipit dan pedang peraknya masih melayang di udara sebagai pembatas. Keheningan mulai menebal kembali, sebagian oleh ketegangan, sebagian oleh kecurigaan yang belum sirna, sebagiannya lebih terasa sebagai tuduhan. Seringai mengancam perlahan terbentuk dari sudut bibir Alucard, cukup untuk menampilkan salah satu taring runcing mentornya itu. “Dan pertanyaanmu soal afrodisiak..Phonyssa Afeta Belmont.. “ dia mendesis halus. “Teori yang cukup menarik, tapi daya tarik kami bukan soal kimia.. itu hanyalah feromon yang telah terbumbui oleh lapisan-lapisan mitos selama berabad-abad. Karena manusia itu sangat rentan dan mereka cenderung meromantisasi apa yang membuat mereka ketakutan lalu membuat kesimpulan sendiri.”

Tangannya berkedut sedikit mencengkeram sprei seraya bangkit, kuku tajamnya mengibas ringan ke arah Nyssa, mempersilahkan. “Tapi.. mari kita dengarkan hipotesismu dulu, Belmont..” perintahnya, akhirnya sudi meneguk ramuan tidur di atas meja yang mulai mendingin. Seringai puas diam-diam merayapi bibir Nyssa tatkala mendengar Alucard mendesah kecut karena rasa asam yang pasti telah membekukukan lidahnya sekarang.

“hipotesis jujurku tetap menegaskan bahwa kaum dan spesies Anda mengeluarkan semacam cairan yang mengandung senyawa afrodisiak baik secara sensual maupun seksual. Sayangnya, meskipun saya belum bisa memastikan seberapa besar dampak dan efeknya bagi manusia. Tapi beberapa catatan ilmiah terdahulu, termasuk jurnal milik Leon Belmont menampilkan data wawancara dengan lebih dari tiga ribu penyihir dari seluruh dunia sebagai subjeknya. Bahwa cairan vampir, yang berdarah murni lebih baik—Nyssa melirik tajam penuh konspirasi, sementara dahi Alucard mulai berkerut. Mentornya itu menggeliat tak nyaman di atas kasur, dan memunggunginya.

“..termasuk keringat, air liur atau.. bahkan sperma.. sering digunakan sebagai bahan utama pembuatan ramuan cinta dan santet. “ saya berasumsi ini sejenis tipe yang kuat dan memabukkan, bisa membuat korbannya kecanduan dan terhipnotis. Layaknya heroin.”

Alucard pun bangkit setelah beberapa saat. Mendengus panjang. Kemampuan Nyssa dalam sihir pencerita membuatnya mampu menerjemahkan dan menangkap emosi Alucard hanya dalam hitungan detik. Kesal, jengkel dan kagum.
Sebenarnya hal ini telah banyak membantu Nyssa sebagai kaum pencerita dan penjaga tradisi lisan, menyalurkan empati kepada para pendengarnya. Namun, siapa sangka kemampuannya ini juga memiliki peran krusial semacam ini. Membaca kompleksitas mentalitas mentornya sendiri :)

“Tak salah lagi. Seperti yang kuharapkan, Belmont dengan ketajaman Sypha Belnades. Kalian memang tak mudah disetir dan ditipu, ya ‘kan?” Alucard terkekeh getir, alisnya sedikit terangkat. Di samping topik pembicaraan serius mereka, Nyssa kini bisa menangkap ketertarikan bahkan mungkin antusiasme dari tatapan mentornya itu. “Kau tak salah.” Alucard mengaku seraya mengedikkan bahu, meskipun belum merendahkan pedangnya sejengkal pun.

“Cairan vampir memang ampuh, terutama saat momen intim. Salah satu kegunaannya berperan untuk memperkuat sugesti dalam kontrol pikiran maupun hipnotis.” Pandangannya menangkap Nyssa—kini pupilnya yang kebiruan telah berpendar penuh antusias. “Jadi apa Anda keberatan saya jadikan subjek, Master?”

Udara kamar seketika menegang. Cahaya dari lampu minyak berkedip, seolah ikut menahan napas. Alucard—yang sebelumnya tampak santai, meski selalu penuh kewaspadaan—mengangkat kepalanya dengan gerakan cepat dan terukur. Mata keemasannya langsung menohok tajam menghujam Nyssa, seakan membelah ruang untuk memastikan ia tak baru saja salah dengar.

“Menjadikanku subjek?” ulang Alucard perlahan, seakan menilai ulang tiap suku kata. Jari jemarinya yang pucat dan ramping dengan kuku-kuku tajamnya menelangkup dagunya. Ujung pedangnya turun sedikit, tapi tetap berada di antara mereka. “Kau ingin meneliti… spesiesku?”

Nyssa tidak mundur. Ia hanya menarik napas, lalu menambahkan dengan tenang, “Mungkin… itu juga yang membuat Lisa tertarik hingga menikahi ayah Anda. Dan… mungkin itu juga yang membawa saya ke sini malam ini.”

Itu adalah kebenaran dari sudut pandangnya—kebenaran yang dingin, ilmiah, dan tidak dibungkus drama. Namun penyebutan nama Lisa—ibu mentornya, Alucard—membuat perubahan halus muncul pada wajah vampir itu. Rahangnya menegang. Matanya berkedip lambat sekali, seperti hewan buas yang baru saja diusik.

“Kau berani membandingkan dirimu dengan ibuku,” katanya dengan suara yang tidak meninggi, namun justru jauh lebih berbahaya dalam intensitas serendah itu.

“Bukan begitu maksudku.” Nyssa sedikit memalingkan wajahnya, tak nyaman. Tapi kembali menatap Alucard—bagaimanapun ini kesempatannya---ia tak boleh mundur, terlebih lagi sudah sejauh ini. “Tapi aku seorang peneliti. Aku melakukan pekerjaanku. Untuk orang-orangku dan...untuk hidupku.” Tangannya mencengkram dada erat, merasakan degup jantungnya. “Dan saya punya hipotesis bahwa Taka dan Sumi melakukan hal yang sama sepertiku… namun mereka sengaja menutupi niatnya. Sementara saya—saya memilih terus terang.”

Itu adalah titik pertama di mana mentornya tampak ragu. Bukan ragu untuk mempercayainya, tetapi ragu untuk menyerang. Pupilnya bergerak ke kanan, seolah menimbang ulang pengkhianatan dua orang terdekatnya di masa lalu. Namun rasa ingin tahunya ini—atau kemarahan barunya—ironisnya malah membuatnya melangkah maju.

“Jadi menurutmu, kau lebih jujur daripada mereka,” katanya dingin. “Kalau begitu… apa yang ingin kau lakukan dengan ‘penelitian jujur’ mu itu?”

Nyssa tidak menjawab. Ia justru mengulurkan tangannya mencari validasi dan kepastian. Saatnya mengeluarkan senjata pamungkasnya.

“Ini kontraknya.” Tawarnya lantang, penuh percaya diri. Ia menyeringai tipis.

Mentornya menatap tangan itu bak senjata baru yang asing dan belum diketahui bagaimana cara menangkalnya.

“Barangkali hasil riset ini memang menakutkan bagi mereka. Mungkin itu sebabnya mereka ingin membunuh Anda sebelum selesai. Selama bertahun-tahun manusia jatuh ke dalam mimpi buruk mereka sendiri. Perbudakan oleh spesies Anda, itu adalah masa lalu yang tak pernah bisa kami lupakan.”

Nyssa mengucapkannya datar, persis seperti mencatat hasil eksperimen. “Tapi Anda masih berguna dalam pengetahuan alkimia dan sains. Bukan hanya untuk saya, tapi mungkin untuk generasi kami mendatang. Jadi saya tidak akan membunuh Anda.”

Ia menarik napas. “Di sisi lain… Anda boleh saja membunuh saya kalau saya ketakutan di tengah proses, sama seperti mereka. Dan.. memanfaatkan jantung saya.” Pupil Alucard menyipit dan menajam mendengar kata-kata itu, walaupun hanya dalam beberapa detik. Seolah tersugesti.

“Kita sebut saja ini perjanjian yang adil.” Tukas Nyssa tegas. Sekarang penuh tekad. Ia mengulurkan tangannya lebih jauh. “Jika Anda setuju, Master. Saya akan menjelaskan bagaimana prosedur penelitiannya pada Anda.”

Alucard terdiam lama. Sangat lama. Hingga akhirnya pedang di tangannya bergetar pelan lalu menguap dalam wujud kabut. “…Kau mempertaruhkan nyawamu hanya untuk menguji reaksiku?” Katanya akhirnya, hampir tidak terdengar. Namun, seringai buas tersungging di bibirnya. Mengindikasikan bahwa ia menantang, tidak menolak.

“Baiklah.” Alucard mendekat, ia mungkin tak menerima jabatan tangan Nyssa belum. Tapi setidaknya menurunkan wajahnya sejajar dengan Nyssa. “Tapi jika kau berteriak atau panik di tengah jalan… jangan harap ada belas kasihan.” Bibirnya itu melengkung layaknya bayangan pisau yang tersenyum.

Di luar dugaan, Nyssa justru nyaris melonjak kegirangan. Alis Alucard terangkat heran menatapnya. Tapi Nyssa tak ambil pusing dengan reaksi mentornya itu. Ia langsung berlari ke seberang ruangan ke kamarnya dan kembali dengan segulung perkamen riset di tangannya.

Nyssa pun mulai menjelaskan dengan bersemangat “Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya. Penelitian saya ini bertujuan mencari tahu seberapa besar pengaruh atau dampak romansa vampir terhadap manusia. Termasuk teknik sugesti yang sering mereka andalkan. Hipnotis.” Ia berhenti sebentar, memastikan mentornya itu mendengarkan.

“Dan langkah pertama yang saya pertimbangkan adalah.. membuat Anda jatuh cinta pada saya. Agar Anda bisa bertindak alami. Tapi.. saya juga ingin membandingkan hasilnya dengan kondisi di mana Anda tidak perlu mencintai saya. Melainkan, ada niat terselubung. Menggoda untuk tujuan riset.”

Nyssa mengangkat alat monitor detak jantungnya. “Pertama, saya akan mencoba mengukur reaksi fisiologis saya terhadap hipnotis Anda.”

“Jadi… tolong, sekarang. Cobalah merayu...”

Untuk sesaat, Nyssa jelas gelisah dan berpikir Alucard akan menertawai permintaan itu. Namun yang terjadi jauh lebih berbahaya dari rasa malu atau tawa.

Rahang Alucard mengeras. Mata keemasannya meruncing, bukan marah, tetapi… menikmati tantangannya. Ketika ia melangkah maju dalam satu kedipan mata, Nyssa merasakan seluruh ruangan berubah iklim seolah udara menempel di kulitnya. “Merayumu...?” Gumam Alucard, suaranya menurun hingga menjadi sehalus dan setajam silet. “Untuk sains.” Ia mendekat. Telapak tangannya mendongakkan dagu Nyssa ke atas agar menatap kedua pupilnya yang keemasan membakar. Sentuhan kuku panjangnya nyaris menggores kulit.

“Baiklah.” Satu kata saja cukup membuat Nyssa menegang. Namun jelas, ia tidak siap untuk yang terjadi setelahnya. Alucard tak berbicara melainkan lebih mengerikan lagi ia menembus pikiran Nyssa. “Apa aku menakutimu?” Kata-kata itu tidak terdengar tetapi terasa, meluncur dan menembus halus bagai kuman dan parasit langsung ke alam bawah sadarnya, mempengaruhi sistem limbik dan sebaliknya, menekan saraf-saraf halus yang seharusnya kebal terhadap rangsangan verbal. Mengambil alih perfontal korteks secara perlahan-lahan. Dan kemudian, dengan bibirnya berjarak hanya sehelai napas dari telinga Nyssa, Alucard berbisik secara fisik:

“Atau justru… keberadaanku membangkitkan sesuatu yang lain?”
Nyssa terengah bukan karena hasrat, tetapi karena tubuhnya menolak segala mekanisme logis untuk tetap tenang.

Monitor detak jantungnya bergetar keras.

150 bpm.

Ia merasakan dirinya hampir membalas rayuan kematian itu. “Ya?”
Bibirnya sedikit terbuka. Terlena-hampir memberikan persetujuan. Insting itu jelas buatan dan bukan miliknya.

“Cukup!” Serunya, tersentak mundur.

Alucard juga demikian, menarik kembali telepati dan niatnya. Sikapnya berubah menjadi netral, tetapi matanya mengamati jarum monitor jantung Nyssa yang masih naik-turun dengan liarnya.

“Seratus lima puluh,” katanya datar. “Lonjakan yang signifikan.” Alucard mengangkat alis.

“…Jadi begitulah efeknya.” Tukasnya sinis. Namun melembut kala menambahkan, “Kau memintanya sendiri, tapi lantas panik ketika berhasil. Kau sungguh sangat… manusiawi.” Nyssa memalingkan wajah, mencatat data dengan pena yang bergetar dan napas yang masih belum stabil. “Cukup untuk hari keseratus.”

Nyssa menarik napas, lalu untuk kedua kalinya malam itu-mengatakan sesuatu yang membuat Alucard mengaktifkan insting pemburunya.

“Sebenarnya aku sudah mengamatimu sejak hari pertama aku tiba.”

Alucard menatapnya lama sekali, dahinya berkerut, Nyssa bisa memaklumi dan memahami bahwa tindakannya ini membuat mentornya tak nyaman atau kesal. Namun, sepertinya Alucard masih memilih mengalah dan akhirnya bertanya, “…Apa lagi yang sudah berhasil kau temukan?”

Nyssa menutup bukunya. Anehnya, ia mendapati rasa penasaran dan pengertian yang tulus dari tatapan mentornya itu. Itu sedikit memberikan Nyssa kelegaan dan harapan.

“Sebuah formula untuk menaklukanmu. Ini lebih merupakan cara untuk menghindari manipulasi vampire. Teknik, bukan mantra. Seperti mengalihkan pikiranmu dengan ayat-ayat atau pujian untuk menolak sugesti vampir. Dan saya juga telah berhasil membuat ramuan penetralisir air liur mereka. Salah satunya seperti yang Anda minum tadi, tapi tenang saja karena bahan-bahannya juga sudah saya modifikasi dengan herbal alami berkhasiat seperti mint, asam jawa, matcha dan madu sebagai obat relaksasi Anda. Jadi, secara teknis itu tak hanya mampu menetralkan air liur, tetapi juga sebagai ramuan relaksasi dan terapi sistem saraf otak pasca trauma!”

Kesalahan terbesar Nyssa adalah tidak menyadari bagaimana antusiasmenya itu terdengar. Alucard berubah bak ancaman yang berwujud. Ia berdiri, cape hitamnya di seberang jendela tiba-tiba jatuh tersibak dari tiang gantungannya seakan teresonasi oleh emosinya dan tatapan keemasannya berubah menjadi api.

“Formula… untuk menjinakkanku?” Alucard mendesis pelan.

Nyssa nyaris mengutuk dirinya sendiri. Salah memilih kata. “Aku tak bermaksud—”

“Kau pikir aku alkimia—atau subjekmu?” Suaranya senyap, tetapi mampu menyayat udara. “Kau pikir aku hanya binatang buas yang bisa kau jinakkan? Belmont..?”

Ia melangkah. Tidak cepat. Tidak meledak. Tapi justru itulah yang membuat Nyssa sadar ia telah melewati batas.

“Taka dan Sumi setidaknya berbohong. Mereka pura-pura peduli. Pura-pura menghormati.” Ia berhenti hanya selangkah dari Nyssa, mengintimidasi dengan tingginya.

“Tapi kau… mengatakan niatmu tanpa trepidasi sedikit pun.” Senyum dingin melintas dalam sekejap.

“Keluar.”

Kata itu menghantam Nyssa lebih keras dari telepati manapun. Dan entah bagaimana pada detik berikutnya Nyssa telah terdorong menjauh keluar kamar dalam satu kibasan telunjuk Alucard—sebelum membanting pintu tepat di depan wajah pucat Nyssa.

“....Sial..” Gertak Nyssa pada diri sendiri.

Bersambung..
Cerita Bagian 3: Memoar Kelam akan di Update Selasa, 23 Desember 2025.


English Version Translation:





                                                      Castlevania: The Holy Heart 

                                                        (Chapter 2: Little Intruder)

Wallachia, 1631

“So you’re still awake…” Sumi muttered from the doorway, her white nightgown swaying lightly as she stepped inside. “May I come in?” She approached and tugged the drawstring; the canopy curtains lifted automatically a heartbeat later.

For a moment, the seduction of death felt comforting. Warm. As if he finally had a home again. Sumi—an oriental girl from the land of the rising sun, with shoulder-length black hair—sat on the edge of his bed. Taka, her fellow student and close friend, followed soon after.

“It seems a bit too early for me to sleep,” Alucard replied, chuckling softly as he welcomed them.

“We couldn’t sleep either… may we lie down? We always feel calm when we’re close to you,” Sumi whispered, wrapping her arms around him. Taka leaned his shoulder against the bedframe, looking just as serene.

“You may be human, but Dracula’s blood runs in your veins. You are brilliant, long-lived, agile, and strong. You inherit the Belmonts’ human science and Dracula’s sorcery at once.” Sumi’s fingertips brushed his cheekbones, then glided down to his chin. Her eyes narrowed gently. “How can someone like you… always be alone? You do not even keep a single servant. Not one slave.”

A heavy silence thickened between them, like a blade waiting to be drawn.

“…What makes you so sad? What are you hiding from us?”

Sumi’s gaze pierced into the molten gold of his eyes, and Alucard returned it with a tender smile. “I used to be alone,” he murmured. “But now… perhaps… not anymore?” His fingers moved to trace hers. For a moment, Alucard softened entirely—he pulled Sumi closer, letting the vulnerability he had buried for so long spill out.

Because this—this must be what it feels like to be needed. To be loved. To have a family again after losing everything—after losing the woman who carried him, and later killing his own father, driven mad by grief and bloodlust.

With his own hands.

To save humankind that never even knew him.

A tiny ember of hope began to glow in his chest. Whether that was wise or foolish—Alucard no longer cared. As long as his family—those closest to him—stayed by his side.

Not once did it cross his mind that the warmth of that night would vanish as quickly as thunder the moment he drifted into sleep.

His once-relaxed body tensed suddenly. He couldn’t move. A magical whip coiled around him, burning his skin with instant welts. He had been bound on purpose. The warmth in Sumi and Taka’s eyes was gone—now colder than the polar ice. In unison they raised their daggers high, aiming for his heart, justifying their betrayal: kill him rather than serve him.

But his reflexes—his instincts—had always been razor sharp. His enchanted sword flew like a streak of light, severing both their heads before the blades could reach him.

And once again, for the second time in his life, he was destined to kill the ones he loved.


                                        ***

He jolted awake. His vampiric eyes snapped open, instinctively alert. Yet the cold tears sliding down his cheeks could not be denied.

“Abandon all hope…” he whispered to himself, forcing his breath to steady. His ears twitched—catching a vibration he recognized. His fingers clenched the bedsheet.

A human heartbeat.

“…How long have you been here… Belmont?” he asked at last, never lowering his guard. His sword floated instantly between them at the flick of a finger, a silent barrier. It was reflected clearly in both their pupils. Despite living together for months as mentor and student, despite Nyssa being descended from his closest friend—perhaps even his truest family—trust was something Alucard was never ready to give.


                                      ***

“I came to bring you medicine…” Nyssa explained, carrying a cup on a tray.

Silence uncoiled between them again. Her red hair fluttered in the breeze from the open window, contrasting with her simple white tunic. She did not seem to care.

“I’ve noticed you often have nightmares, Master… I thought this might help,” she murmured after a pause.

Alucard glanced at the cup, sniffed lightly, then let out a sharp, bitter laugh.

“You went out of your way to make me a matcha tonic—and remind me of those ungrateful traitors at the same time, Belmont? How sweet. You are very thoughtful.” His dry, sarcastic laugh hit Nyssa like a punch to the gut, as always.

“For heaven’s sake! Could you stop doubting every person you meet!?”

“If you must know, I learned the recipe while traveling in Japan. From a geisha—who was also a kitsune. She taught me. And don’t worry, I modified the recipe so it’s not as bitter as yesterday. I added matcha, tamarind, mint, and honey!” she grumbled, stirring the drink with clear annoyance at his vanity.

She could feel his sword tracking her from behind, shadowing every step like a predator tailing prey. Enough to make her feel like an amateur smuggler caught in Targoviste’s black market—where guards never let a little rat escape unless bribed with three silver pouches carved from a corpse’s nails.

So a wicked idea sparked in her mind. Nyssa smirked from behind her falling hair. First, she needed to negotiate. And win her mentor’s trust.

“And could you stop calling me Belmont? Yes, you’re right, I am a Belmont. But I also have a name.”

“Old man,” Nyssa muttered under her breath.

“So? Are you going to drink it or not?” she asked again, lifting the tray.

Before she realized it, the table and chair glided across the room at Alucard’s command, positioning themselves in front of and behind her. She set the cup down and took a seat.

“How am I supposed to drink in peace when your tiny, noisy mouth won’t stay shut?” he snapped. His eyes never left the cup.

Nyssa smirked faintly. “So you plan on staring at it until morning?”

Without warning, she picked up the drink and swallowed it in one gulp. Alucard’s eyes followed every movement, sharp and calculating.

“I’d be dead in five seconds if this were poison,” she grumbled.

Alucard gritted his teeth—he hated losing—but finally relented. “Why are you here? I told you not to enter.”

“…I actually have a special request,” Nyssa admitted once the tension eased. “And what is it?” he asked, dropping onto the bed again, though his sword remained suspended between them.

“For research. To study you, to be precise. I want to know why humans so easily fall under a vampire’s persuasion—and how strong that effect is. Including forced suggestion or hypnosis.”

Nyssa paced, one hand on her chin, thinking. The sword hummed behind her.

“…And is it true that your species releases an aphrodisiac compound when you speak… or during intimacy?” She froze, glancing at Alucard—who now sat on the bed, nearly slack-jawed.

She snorted. “What’s with that face? Do you really think I came here to seduce you and kill you? Although I still could do it without a sword, if I wanted.”

A sly, taunting grin flickered across her lips before she cleared her throat and forced her expression back to neutral. Now wasn’t the time to provoke him.

Alucard narrowed his eyes, assessing her words, then sighed. “Is this because of your fight with New Blood earlier?” His tone was both annoyed and oddly protective.

Nyssa stiffened. “How do you know?” she asked sharply.

“Long-distance mirror,” he said flatly. With a flick of his hand, a wooden box carved with golden kokka rose from across the room and landed on the table. The shattered shards inside reassembled instantly into a polished mirror before closing again.

“Just enough to keep watch on you.” Alucard chuckled triumphantly. “Three generations of dealing with Belmonts have taught me how stubborn they are.”

Nyssa felt as though a stone had been hurled at her face. Her hands clenched the fabric of her nightgown. Fear prickled her spine—fear that her personal mission with Akwi might be discovered.

But Alucard seemed unconcerned. Did he truly not know? Or was he hiding it? She couldn’t tell.

She took a breath. “Yes, exactly as you guessed, Master…” She bowed theatrically with one hand on her chest—though she longed to tear that smug look off his face.

Alucard’s golden eyes narrowed again, his sword still floating as a barrier. Silence thickened once more—part suspicion, part tension, part accusation. A threatening smirk pulled at his lips, revealing a fang. “And your question about aphrodisiacs… Phonyssa Afeta Belmont…”

He hissed the name.

“An interesting theory. But our allure isn’t chemistry. It’s simply pheromones—mythologized for centuries by humans who are fragile, romanticize their fears, and jump to conclusions.”

His clawed hand twitched, gesturing for her to continue. “But go on. Let’s hear your hypothesis, Belmont.”

He finally took a sip of the now-lukewarm tonic. Nyssa’s smile twitched in satisfaction as he winced at the sourness.

“My honest hypothesis is that your species secretes a substance containing aphrodisiac properties—sensually and sexually. I’m unsure of the exact magnitude, but older scholarly notes—including Leon Belmont’s journal—record interviews with over three thousand witches worldwide. Vampire fluids—especially from purebloods—”

Nyssa shot him a conspiratorial glance. His brow tightened. He shifted uncomfortably.

“…including sweat, saliva, even… semen… have long been used in love potions and curses. I assume the substance is potent and intoxicating—addictive, hypnotic. Like heroin.”

After a beat, Alucard exhaled sharply. Nyssa’s storytelling magic allowed her to sense his emotions instantly: irritation, disbelief… and admiration.

“Of course,” Alucard muttered. “A Belmont with Sypha Belnades’ sharpness. You’re not easy to manipulate.”

There was genuine interest now in his gaze.

“You’re not wrong,” he admitted. “Vampire secretions are potent—especially during intimacy. They strengthen suggestion and mind control.”

Nyssa’s eyes lit up.

“So,” she said, tilting her head, “would you mind if I used you as a subject, Master?”

The air in the room snapped tight. The oil lamp flickered, as if holding its breath. Alucard lifted his head sharply, golden eyes drilling into her.

“Use me… as your subject?” he repeated, slow and measured. His fingers tapped his chin. The sword dipped slightly, but remained between them. “You wish to study my species?”

Nyssa didn’t flinch. She inhaled once.

“Perhaps… that is also what attracted Lisa to your father. And… perhaps that is what brings me to you tonight.”

It was a clinical truth from her perspective. But the mention of Lisa—his mother—triggered a subtle shift in Alucard's expression. His jaw tightened. His eyes narrowed like a beast disturbed in its den.

“You dare compare yourself to my mother,” he said—not loud, but far more dangerous for that reason.

“That’s not what I meant.” Nyssa turned her gaze away briefly, then squared herself again. She had come too far to retreat now. “I’m a researcher. I do my work. For my people and… “For my life.” Her hand clutched her chest tightly, feeling the thundering pulse beneath her palm. “And I have a hypothesis that Taka and Sumi did the same thing I did… except they hid their intentions. While I—” she drew a slow breath, “I prefer honesty.”

It was the first moment her mentor appeared uncertain. Not uncertain about believing her, but uncertain about striking her. His pupils shifted to the right, as if reassessing the betrayal of the two people once closest to him. But that very doubt—his curiosity, or perhaps his newly awakened anger—ironically brought him a step closer.

“So you believe yourself more honest than they were,” he said coldly. “Then tell me… what exactly do you intend to do with this ‘honest research’ of yours?”

Nyssa didn’t answer. Instead, she extended her hand toward him, seeking both validation and certainty. It was time to bring out her ultimate weapon.

“This is the contract.” She offered it boldly, her confidence unwavering. A thin grin curved on her lips.

Her mentor regarded that outstretched hand as though it were some new, unfamiliar weapon whose function he had yet to decipher.

“Perhaps the results of this research truly frightened them,” she continued. “Maybe that’s why they wanted to kill you before it was finished. For years, humans have fallen into their own nightmares. Enslavement by your kind… that is a past we can never forget.”

Nyssa spoke in a flat, clinical tone, as if merely reading out experimental data. “But you still hold value in alchemy and science. Not only to me, but perhaps to future generations as well. So I will not kill you.”

She inhaled lightly. “On the other hand… you’re free to kill me if I get frightened halfway through—just like they did. And… use my heart.”

Alucard’s pupils tightened, sharpening for a brief second at those words. As if the suggestion itself tempted him.

“Let’s call this a fair agreement,” Nyssa concluded firmly, resolve lighting her voice. She extended her hand even farther. “If you accept, Master, I will explain the research procedures to you.”

Alucard remained silent. For a long, long moment. Until finally, the sword in his hand shivered slightly—then dissolved into mist. “…You’re risking your life just to test my reaction?” he murmured at last, almost too quietly to catch. Yet a feral smirk ghosted across his lips. Not rejection—challenge.

“Very well.” Alucard stepped closer, not quite accepting her handshake—yet. But he lowered himself until his face aligned with hers. “But if you scream or panic halfway through… do not expect mercy.” His smile curved like the edge of a blade pleased with its own sharpness.

Unexpectedly, Nyssa nearly jumped in excitement. Alucard’s eyebrow rose at her reaction, baffled, but she paid it no mind. She darted across the room—into her quarters, then returned with a rolled parchment clutched in her hands.

She began explaining, breathless with enthusiasm. “As I mentioned earlier, this research aims to determine the magnitude of a vampire’s romantic influence over humans. Including the suggestion techniques your kind frequently employs. Hypnosis.” She paused briefly, ensuring he was listening.

“And the first step I considered was… making you fall in love with me. So you would behave naturally. But I also want a comparative condition—where you don’t need to love me. Instead, where there is an ulterior motive. Seduction for the sake of research.”

Nyssa held up her heart-rate monitor. “First, I want to measure my physiological response to your hypnosis.”

“So… please, now. Try seducing me…”

For a moment, Nyssa was certain Alucard would laugh at the absurdity of the request. But what followed was far more dangerous than embarrassment or laughter.

Alucard’s jaw tightened. His golden eyes narrowed—not in anger, but in appreciation of the challenge. With a single blink, he stepped forward, and Nyssa felt the room shift in climate—air clinging to her skin.

“Seducing you…?” Alucard murmured, his voice dropping into a whisper so smooth and deadly it could slice flesh. “For science.”

He approached. His palm lifted her chin, forcing her to meet the burning gold of his pupils. The tips of his claws skimmed dangerously close to her skin.

“Very well.”

That single word alone made Nyssa tense. But she was utterly unprepared for what came next.

Alucard didn’t speak.

Something far more terrifying happened—he slipped directly into her mind.

Are you afraid of me?

The words were not heard—they were felt, seeping into her like fine dust—like a parasite—straight into her subconscious, manipulating her limbic system, suppressing nerves that should have been immune to verbal triggers. Gradually overriding her prefrontal cortex. And then, with his lips a breath away from her ear, Alucard whispered aloud:

“Or does my presence… awaken something else in you?”

Nyssa gasped—not out of desire, but because her body refused every logical mechanism that should have kept her calm.

Her heart-rate monitor spasmed violently.

150 bpm.

She felt herself nearly answering that seductive death. “Y-yes…?”

Her lips parted—entranced, on the cusp of surrender. Instincts that were clearly manufactured, not her own.

“Enough!” she shouted, stumbling backward.

Alucard also withdrew, pulling back both his telepathy and his intent. His expression regained neutrality, but his gaze tracked the frenzied dance of the monitor’s needle.

“One hundred fifty,” he stated flatly. “A significant spike.”

He lifted an eyebrow.

“So that is the effect,” he said with cold amusement. Then, softer—almost indulgent, “You asked for it yourself, but panicked when it worked. You are… exceedingly human.”

Nyssa turned her face away, jotting down the data with unsteady hands and breath. “That’s enough for day one hundred.”

Nyssa inhaled again, then—for the second time that night—uttered something that reactivated Alucard’s predatory instincts.

“Actually, I’ve been observing you since my first day here.”

Alucard stared at her for a long while, brow furrowing. Nyssa could understand why her statement unsettled him—perhaps even irritated him. Still, he restrained himself and eventually asked,

“…And what else have you discovered?”

Nyssa closed her notebook. Strangely, she found genuine curiosity—and a hint of understanding—in his gaze. It offered her a sliver of comfort. And hope.

“A formula to tame you,” she said. “It’s more a method to resist vampire manipulation. A technique, not a spell. Like distracting your mind with verses or praises to reject hypnotic influence. And I also created a neutralizing potion for vampire saliva. One of them is what you drank earlier, though don’t worry—I modified the ingredients using natural herbal remedies such as mint, tamarind, matcha, and honey for your relaxation. So technically, it doesn’t only neutralize saliva, but also serves as a relaxation and post-trauma neural therapy tonic.”

Nyssa’s mistake was failing to realize how her excitement sounded aloud.

Alucard’s entire presence shifted into something predatory. He rose to his feet. His black cape by the window suddenly dropped from its hook as if resonating with his fury. His golden eyes ignited like flame.

“A formula… to tame me?” Alucard hissed.

Nyssa cursed herself internally. Wrong choice of words. “I didn’t mean—”

“You think I’m alchemy—your experiment?” His voice was low, slicing through the room like a blade. “You think I am some beast you can domesticate? Belmont…?”

He took a step. Not fast. Not explosive.
And that was exactly what made Nyssa realize she had crossed the line.

“Taka and Sumi at least lied. They pretended to care. Pretended to respect.”

He stopped one step away from her, towering, suffocating in his presence.

“But you… you speak your intentions without a shred of trepidation.” A cold smile flickered.

“Get out.”

The word struck Nyssa harder than any telepathy.
And in the next instant, she found herself shoved out of the room with a single flick of Alucard’s finger—
before the door slammed shut in her pale face.

“…Damn it…” Nyssa muttered under her breath.





To be continued...
The Story Will be updated on Monday, December, 22th 2025.