CERPAN: KARMA: RASIONALISASI CINTA (The Most Innovative Story Nominee) from FULL-VERSION DWIFIA DEBATE
Cerpan Chapter 13 Projek Novel Sci-Fiction
![]() |
| Ilustrasi: Tedfia(left), Dwingga(right), Mayan(middle) |
Catatan Penulis:
Dimohon membaca cerita ini dari awal sampai akhir
supaya tidak salah paham.
Cerita ini hanya Fiksi, setiap informasi di cerita ini
murni adalah Imajinasi dan Interpretasi penulis semata
tentang teori-teori ilmiah
dan nilai-nilai Islam yang sering diperdebatkan.
Sinopsis: Di tengah riset arkeologi Baghdad dan misteri tablet Sumeria kuno, Dwingga, mahasiswa muda yang terobsesi pada kosmologi dan sejarah--dipertemukan dengan Tedfia Nur Roselie. Arkeolog muda kontroversial yang mengalami fenomena neurologis aneh: berbicara dalam bahasa purba saat tidur dengan pola otak yang mustahil dijelaskan sains modern. Ketika seminar Tedfia memicu teror, perdebatan tentang Tuhan, dan perburuan rahasia “Ageless” kaum abadi berambut perak yang konon tersembunyi di balik sejarah manusia. Dwingga terseret semakin jauh ke dalam konspirasi yang mengaburkan batas antara iman, sains, dan realitas multidimensi. Namun semakin dekat ia pada Tedfia, semakin ia menyadari bahwa gadis itu mungkin bukan sekadar manusia yang mencari kebenaran… melainkan pintu menuju sesuatu yang seharusnya tidak pernah disentuh umat manusia.
Long-Story take From: Karma: Love’s Rationalization
Nominated for The Most Innovative Story
by P.T. Betterfly Indonesia Production.
Full-Version of Dwifia Debate
“Imagination is more Important than Knowledge”. ~Einstein
“The important thing is not to stop questioning.
Curiosity has its own reason for existence”. ~Einstein
“Cerita ini bukan tentang menyindir,
namun tentang visualisasi yang tak pernah terjadi
dalam hidupku..”
Aku masih ingat awal kita bertemu,
di lift rumah sakit yang sakral itu.
Ada badai sahara di matamu–liar tapi memikat.
dibalik topeng panggungmu yang setegas baja.
Seandainya aku bisa menjinakkan badai itu,
akankah kau mengizinkan?
Tubuhmu ternyata serapuh porselen,
sensitif bak putri malu saat kusentuh pertama kali.
Bahumu yang kurengkuh, kau bergidik,
seolah aku ancaman.
Saat itu aku bertanya, apa aku sebuas itu di matamu?
Makianmu meledak seperti ibu yang memarahi anak bandel.
Padahal, kaulah yang menabrakku duluan,
tersandung high heels dan ego.
“Jangan pernah mendebat wanita,” kata mereka.
Tapi aku justru mencari caramu marah.
Dengan berdebat, karena aku bisa menatapmu lebih lama.
Kata-katamu sinis,
bak anak panah Ishtar yang menghujam jantungku.
Tapi entah mengapa, itu menjadi gramofon episodik
yang terus mengalun dayu-- di sanubariku.
Air matamu di lift itu--jatuhnya seperti mantra,
medan gravitasi yang senantiasa menjagaku dalam orbit.
Sejak saat itu, retakan di hatiku mulai menyerupai wajahmu.
Namun kini, tatapanmu sepanas api Sekhmet.
Senyummu sebuas singa betinanya—
berani, menakutkan, sekaligus memesona.
Aku takut kau akan menghancurkanku.
Tapi bagaimana jika bara itu justru menyembuhkanku?
Tedfia, kau Sekhmetku,
api yang menghanguskan ku sekaligus penawarnya.
Irak, Baghdad University, 2002
“Hei.. dengerin nggak?!” sengatan kecil dari jari-jari mungilnya yang mencubit lenganku menarikku ke realitas.
Dering bel bergetar dan menggema di seluruh area kampus sekarang.
“Ah.. i-iya..”
“pantas saja! kau ini dari tadi ngelamun ya!” Gadis cantik berambut hitam shaggy itu menatapku cemberut sebelum bangkit, “aku bilang.. kalau kau ingin tahu rahasia ageless, temui aku saat tengah hari, ikuti arahan menara segitiga Irak sebelum garis bujurnya mencapai 60°, maka bayangannya akan menuntunmu padaku.” Gadis itu berbalik lagi, memberiku seringai kecil sebelum meninggalkanku di UKS. Aku mendengus sebal, menatap nomor telepon yang sengaja ia tuliskan di pergelangan nadiku.
“haahh..Kenapa sih ngga coba jelasin simpel aja?! Gini amat perjuangan nakhlukin crush.”
***
Seminggu sebelumnya, Depok, 2002.
Suara nyaring clonteng panci ditabuh, menusuk telingaku, memporak-porandakan pagi.
“Sahur woy sahur! Eh Iga! Baguuunnn! Lo sekarang kan piket masak nasi sama nyuci piring!”
“Berisik ah Pak Lurah! Ganggu mimpi indah gue aja!” Aku pun membalut tubuhku dengan selimut rapat-rapat.
“Eh.. Banguuun! Udah kayak bini Lo aja gue, gedorin Lo tiap pagi!” teriaknya sinis.
“Ah.. sini dek, Abang kelonin..” godaku menggeliat dramatis, mengeratkan satu kakiku ke guling.
“Idihh.. cuih, najiss.. geter akuuu!” Rafi mendelik bergidik geli, nada main-mainnya tak bisa disembunyikan dalam satu kibasan, dia membuka selimutku. hening yang mencurigakan mengikuti.
Lo ngompol ya ga!? Kok selimut Lo basah..??” Rafi, Lurah Kos tertawa cekikikan. Refleks aku pun menendang gulingku panik, gelagepan.
“Ahahaha.. pasti ngimpiin crush Lo lagi ye..cieee-cieeee.” mm-muah..hahahahaaa”. Goda Rafi dengan gestur dibuat-buat. Aku pun memutar bola mataku, geli sendiri. Entah mengapa hatiku ringan meskipun malu berat. “Eh, Gesss, tahu nggaa! Iga ngomp—
Aku pun melompat menerjang dari balik punggungnya, menyumpal mulut Rafi rapat-rapat “Diem nggaaaak!?”
“Lepasin woy..!!” Rafi melawan menjatuhkanku ke kasur, tapi cengkraman kakiku di perutnya tetap tidak mengendur sehingga ia menggigit tanganku, refleks aku pun melepaskannya. Rafi lari terbirit-terbirit.
“Woyy Ojo kesusuuuu!” aku mengerang kesal bangkit melemparkan selimut ke lantai dan mengejarnya. Tentu saja karena ini menyangkut harga diri maskulinku. Tanganku hampir meraih kaosnya, jika saja aku tidak tersungkur ke lantai di tengah perburuan. Terpeleset oleh selimut sialan.
Rafi pun menyeringai gelak tawanya tak terbantahkan saat ia menutup pintu tepat di depan wajahku. Namun, dia kembali semenit kemudian, hanya untuk melemparkan handuk ke wajahku yang sudah merah temaram. “Nih! Nanti kasur dan sepreinya nggak usah dicuci sekalian yaaak!” Tawa penuh kemenangannya membahana ke seisi koridor kos. Ya, ya.. kekalahan pertamaku sejauh ini. Aku pun bangkit meringis.
HP di atas meja berkedip dengan notifikasi SMS. 04:50
Prof. Amad Roselie: “Dwingga, saya tertarik sama replika kuil Innana mu dengan bahan lokal, nanti temui saya di ruangan saya ya, Pagi ini segera, soalnya saya juga masih ada urusan lain”.
Tanganku gemetar, gelisah dan senang mengepul di dada. Dua Minggu lalu sebelum UAS, Prof. Roselie memang mengumumkan bahwa siapapun mahasiswa yang tugas akhirnya menarik akan diundang sebagai asisten penelitian dan terbang bersama beliau ke Baghdad. Ya, aku rasa ini adalah karma, kemenangan pertamaku setelah kekalahan hari ini.
Tak Butuh waktu lama untuk aku bersiap-siap dari mandi, shalat, mencuci seprei dan kasur hingga berpakaian. Untuk tanggungan piket aku meminta bertukar Jadwal dengan yang lain. Untuk sarapannya aku cukup memakan sepotong roti sisir sisa kemarin untuk mengganjal perut.
“Iga, Pinjam motormu dulu dong, buat jemput Feni!”
“Loh? Woy, tapi aku juga butuh buat kencan sama Profesor gue pagi ini!”
“Lah, Lo pake sepeda gunung gue aja dulu! Nanti kuisiin bensinnya sekalian, plus spesial KFC combo buat loooo!” Teriak Rafi, suaranya semakin samar menjauh ke jalan raya.
Tapi, imbalannya setimpal juga sih. Tanpa buang waktu lagi aku pun memakai helm dan mengayuh sepedaku setengah mengebut karena mengejar waktu, hingga dua puluh menit kemudian aku berhasil mencapai lantai tiga, gedung Fakultas Ilmu Budaya, ruangan Profesor Roselie.
Beruntungnya, beliau belum hadir sehingga memberiku ruang untuk sekadar menghela nafas dan mengabari beliau bahwa aku sudah sampai. Lima belas menit kemudian beliau pun datang, pria paruh baya dengan alis tebal dan mata yang tajam, hidung mancung, serta kumis dan jenggotnya yang tebal namun terawat. Persis keturunan Arab-eropa, namun sedikit kontras dengan kulitnya yang sawo matang.
“Prof.” Aku bangkit dari kursi seraya menjabatnya dengan tangan yang masih gemetar.
“So, Dwingga sudah sarapan, nak?” Tanya beliau, tulus. Seraya duduk mengelap kaca matanya dengan kain sejenak.
“Sudah ko Prof.” Aku pun mengangguk nyengir berusaha menyembunyikan kegugupanku.
“So, ini karya miniaturmu ya?” Beliau mengangkat miniatur kuil Ziggurat dari lemari besarnya. Miniatur berskala 1:50, dengan tangga utamanya di sisi timur, persis arsitektur Eanna Tample Uruk. Aku pun cepat-cepat bangkit meraihnya, membantu Profesor meletakkannya ke atas meja kerja.
Profesor pun berdehem sejenak kemudian, “Jadi, bisa kamu jelaskan lebih lanjut tentang karya miniaturmu Dwingga, bahan material utamanya, keunikannya dan sebagainya?” Nggak papa, santai aja sambil duduk aja.” Perintah Profesor. “Baik, Prof. Aku pun duduk kembali, menghela nafas sejenak.” Jadi, untuk material utamanya Saya memakai tanah liat depok yang sudah dijemur selama dua hari tanpa proses pembakaran. Sedangkan untuk perekatnya saya memakai tanah liat, dicampur lem kanji dan semen putih.” Profesor pun mendengarkan dengan seksama, seraya sesekali mengangguk. Setiap validasinya menghilangkan keraguanku dan menyalakan semangatku, beliau juga mengkonfirmasi sesekali dan bertanya. Sampai tak terasa waktu bergulir aku pun sampai pada penjelasan dan kesimpulan terakhir tentang keunikan karyaku.
”Dan, untuk keunikannya, saya juga menambahkan sentuhan lokal, seperti tanaman Melati dan bunga Sepatu di tamannya sebagai simbol kesuburan dan cinta khas budaya Nusantara, menggantikan teratai, gandum dan kurma dalam budaya Akkadia-Sumer. Anyaman bambu berbentuk bintang delapan juga saya tambahkan sebagai simbol Innana di atap tertinggi. Jika karya saya ini bisa dipamerkan, saya juga mungkin akan menambahkan inovasi pencahayaan LED yang lembut untuk meniru cahaya Venus, saat fajar dan senja.”
Profesor pun berdehem, memberikan senyum puas. “Satu pertanyaan lagi Dwingga, kenapa kamu memilih membuat Miniatur Dewi Inanna, dari pada miniatur lainnya?”
“Karena.. Innana, Dia–
Pertanyaan itu menghantam seperti batu ke permukaan air tenang. Aku terdiam, menahan gelombang kenangan. Namun, Profesor menatapku lembut, menungguku dengan sabar. “..Dia.. dia tangguh, berani dan kuat, Dewi perang. Namun, dia juga penuh kelembutan dan kasih.. layaknya.. seorang ibu. Dia tangguh dan kuat menghadapi kehidupan, namun juga lembut dan penuh kasih kepada anak-anaknya.”
“Karya ini…”
Jawabku setengah serak. “Untuk ibu..”
Ruangan pun lengang sesaat, keheningan menebal. Profesor juga hanya tersenyum penuh pengertian. “B-beliau.. masih hidup, tenang saja, maksudku.. Profesor. Karena itu saya hanya ingin membuatnya tersenyum bangga.” Meski hanya sesaat.. kesadaran dingin itu meluncur tanpa izin.
“Jadi,” kata beliau lagi berdehem, tersenyum menatapku. “Kamu bakal ikut saya ke Baghdad sebagai asisten penelitian saya. Dan, mudah-mudahan karyamu ini juga bisa dipamerkan sehingga peluangmu mendapat promosi beasiswa S2 Baghdad, juga semakin besar..sekarang, ada pertanyaan?” Profesor pun bangkit, hendak berbalik.
“Profesor?”
“Iya?” Ia menoleh nyengir.
“Kapan kita berangkat?”
“Besok Siang.” Jawabnya nyengir lebar.
***
Langit Kuwait, Penerbangan ke Irak.
“dii-diit... dii-diit..” dering Telepon berbunyi, kelewat nyaring dalam lautan kantuk yang masih senyap. Aku terbangun dan menepuk pundak Profesor pelan. “Prof, permisi ada telpon.”
Profesor menghembuskan nafas pelan. Sebelum terbangun sepenuhnya menjawab panggilan. Suara perempuan dengan aksen arab fasih terdengar. Profesor mengangguk-ngangguk “Na’am.. Na’am..” rutuknya di sela-sela kantuknya.
“Kita akan ke Baghdad University setelah mendarat, aku mendapat laporan dari kepala asrama bahwa keponakanku sakit dan keadaannya darurat.” Ucap profesor kepadaku.
Kami tiba saat subuh, turun dari taksi, kami langsung bergegas menyeret koper kami. Koridor-koridor terlihat sibuk meski hari masih gelap, dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswa berjubah yang hendak shalat berjamaah. Sekelompok petugas membawa tandu dengan gesit melewati kami. Seorang gadis terlihat menggeliat dalam tidurnya, seolah bermimpi buruk dan menggumamkan kata-kata yang tidak koheren.
Deg.
Tedfia?!
Rasanya tiba-tiba badai pasir datang di tengah-tengah gurun yang terik dan tenang. Orang-orang mulai berkerumun dan Profesor memintaku menunggu di luar. “Permisi, sebenarnya siapa pasien yang sakit?” Tanyaku dalam bahasa arab kepada seorang gadis yang berdiri di dekatku.
“Tedfia Nur Roselie, dia keponakan Profesor Amad. Ia kerasukan saat tidur bergumam dalam bahasa asing, yang tidak kami pahami. Entahlah, tapi orang mulai beranggapan kalau dia gila.” Jawab gadis bermata keabuan berkerudung lebar itu. Terdengar skeptis, namun khawatir. Aku terdiam, tak tahu harus berkata apa. Saat sarapan, barulah aku berani membuka percakapan. “Prof, bagaimana keadaan keponakan Anda?” Apa sudah membaik?” tambahku cepat-cepat, berusaha menyamarkan kecemasanku dengan basa basi.
“Ya, dia sudah sadar, malahan ngorok duluan pas di ruqyah.” jawabnya seraya menenggak teh kurmanya. Tulus meski bernada sarkas. “Aku tahu kau pasti mempertanyakan pendekatanku sebagai akademisi Dwingga, tapi..terlalu banyak kejanggalan di sini. Hasil rekam pola gelombang otaknya nya menunjukkan aktivitas kognitif yang sangat tinggi pada fase REM terutama korteks bahasanya yang terlalu–
“terstruktur.” Timpalku.
Profesor pun mulai membelai-belai janggutnya berulang kali–gelisah. Lalu mengangguk menatapku. Udara pun semakin menegang di antara kami dibalut keheningan dan bulu kuduk yang semakin meremang. Pasien epilepsi temporal biasa seharusnya mengalami gelombang listrik yang kacau, acak dan tak terstruktur. Jika dalam kasus ini hasil rekam gelombang otaknya teratur, ritmis dan terstruktur maka ini bisa disamakan dengan pola aktivitas berpikir secara sadar. Bukan pasien yang kejang dan tidak sadar.
Profesor pun menghembuskan napas panjang menggaruk tengkuknya, isyarat keengganan untuk terperangkap dalam siklus over thinking tak berujung.
“Oh, ya Dwingga, saya minta tolong kamu temenin dan awasin ponakan saya untuk seminar di Iraqi Museum menggantikan saya sementara, saya nggak tenang aja kalau dia kesana sendirian, soalnya dia itu agak—
Profesor mengerucutkan bibirnya.
“Liar.” Ucapnya sarkas, memecah keheningan sambil menyeka mulutnya dengan tisu.
***
Museum Irak, Baghdad.
Seminarnya berjalan dengan lancar dan syahdu, pengunjung datang dari berbagai lapisan, baik kalangan akademisi: Mahasiswa dan beberapa profesor sampai turis-turis yang penasaran. Mereka duduk melingkari ruangan auditorium, memenuhi segala penjuru dan berbagai sudut. Aku memilih duduk di deretan kedua setelah para pakar. Menatap gadis yang selalu membuatku gemetar. Gadis memikat sekaligus mematikan seperti vampir dalam novel yang meneror tidurku..
Kata-katanya tegas dan gesturnya tajam ketika menjelaskan, layar TV LED lebar terpampang di belakangnya menampilkan gambar tablet tanah liat kuno berukirkan aksara-aksara paku. Transkrip latinnya berbunyi “DINGIR I-LAḪ LUGAL SILVER ME.”
“Tablet ini, ditemukan di reruntuhan Eridu, memuat nama ‘Ilah’. Banyak arkeolog menerjemahkannya sekadar sebagai ‘dewa’, tapi lihatlah konteksnya–Ia disebut Lugal, penguasa dunia bawah dan pembantai kaum berambut perak. Jadi, mungkin saja–‘Ilah’ bukanlah Tuhan seperti yang kita pahami hari ini. Melainkan seorang manusia... raja yang dipuja, ditakuti, dan kemudian disembah.”
Nafasku tercekat. Ruangan mulai gaduh.
Salah seorang pakar mengangkat tangan dan bangkit
PROF. HADDAD (arkeolog senior, ateis klasik)
“Teori yang menarik, Nona Tedfia..? tapi Anda bermain di wilayah yang licin. Anda menyamakan Ilah dengan Tuhan monoteistik. Padahal, dalam konteks semitik awal, kata Ilum atau Elah hanyalah istilah umum untuk ‘dewa’, bukan satu entitas tunggal. Tidak ada bukti tekstual yang menunjukkan hubungan langsung antara Ilah Sumeria dan Allah Islam.” Tuturnya dalam Bahasa Inggris.
DR. AL-JALIL (ahli bahasa semitik)
“Dan, menambahkan saja, dari sisi linguistik, hubungan antara Ilah dan Allah hanya bersifat fonetik, bukan historis. Bahasa Arab muncul jauh setelah Sumeria lenyap. Ada ribuan tahun celah di antara keduanya, terlalu besar untuk diklaim sebagai satu kesinambungan spiritual.”
DR. NASSER (teolog Muslim):
“Selain itu, Anda bermain api, Nak. Tauhid bukan hasil evolusi budaya, tapi wahyu.
Anda sedang mencoba menjelaskan Allah dengan logika manusia. Tapi iman… tidak tunduk pada logika.”
Tedfia menatap tajam ke arah mereka. Ia tidak marah, tapi nada suaranya mengeras. Senyumnya tersungging bak bilah logam temaram yang baru ditempa, dingin dan tajam kala akhirnya diasah.
“Tapi bagaimana kalau wahyu itu adalah jejak ingatan purba manusia terhadap satu kekuasaan besar yang pernah ada? Kalau manusia dulu menyembah raja, lalu menuhankannya, lalu memurnikan makna itu menjadi satu Tuhan yang Esa, bukankah itu juga bentuk pencarian spiritual?”
Aku pun berdehem menjaga wajahku senetral mungkin di tengah suasana yang semakin gaduh. Seorang petugas berusaha mengarahkan pengunjung agar tenang. Beberapa orang bertepuk tangan meskipun sebagian besar menyangkal dan saling berdebat. Di bawah cahaya siang yang menembus jendela-jendela tinggi aula, Tedfia menutup presentasinya dengan kesimpulan yang singkat namun padat. Setelah itu ia turun perlahan, berbincang dengan beberapa akademisi yang mulai mengerumuninya untuk mengajukan pertanyaan. Cahaya layar LED besar di belakang panggung masih menampilkan grafik dan data terakhir presentasinya.
Lalu semuanya berubah dalam sekejap.
Seorang pria berjubah gelap menerobos kerumunan dengan gerakan tergesa. Dalam hitungan detik, kilatan logam muncul dari balik lengan jubahnya. Aku tidak sempat berpikir. Tubuhku bergerak lebih cepat daripada kesadaranku sendiri. Aku berlari ke arah Tedfia tepat ketika peluru kedua dilepaskan. Kudorong tubuhnya menjauh dari podium, tetapi suara benturan itu tetap terdengar memuakkan.
Dor!
Tedfia tersentak keras.
Peluru itu mengenai kaki kanannya. Ia kehilangan keseimbangan dan nyaris roboh, sementara darah mulai merembes cepat di balik kain celananya. Aku menahannya sebelum tubuhnya jatuh sepenuhnya ke lantai. Pada saat yang sama, peluru lain melesat melewati kami dan menyerempet lenganku hingga terasa panas menyayat.
Brak!
Layar LED raksasa di belakang podium pecah ditembus peluru, memercikkan retakan hitam dan serpihan cahaya ke seluruh ruangan.
Jeritan langsung meledak di segala arah. Orang-orang berhamburan. Kursi-kursi terjungkal. Beberapa akademisi berteriak panik sambil berlindung di bawah meja.
Tedfia membelalak, napasnya memburu antara syok dan rasa sakit. Tangannya gemetar mencengkeram lenganku yang berdarah, seolah masih mencoba memastikan aku baik-baik saja meski dirinya sendiri terluka lebih parah.
“Dwingga...” suaranya pecah menahan nyeri. “Jangan bicara,” kataku cepat.
Ia mencoba berdiri, tetapi kaki kanannya langsung goyah begitu menyentuh lantai. Wajahnya memucat menahan sakit. Tanpa berpikir panjang, aku segera merangkul tubuhnya dan membopongnya menjauh dari podium sebelum situasi semakin kacau. Kami menerobos lorong museum yang penuh orang berlari dan saling berdesakan. Darah dari lenganku menetes ke lantai, sementara Tedfia sesekali meringis pelan di pundakku, berusaha keras menahan kesadarannya tetap utuh. Aku langsung menghentikan taksi pertama yang lewat dengan tangan gemetar.
Pengemudi itu sempat terkejut melihat keadaan kami, tetapi segera membuka pintu belakang.
Aku membantu Tedfia masuk terlebih dahulu sebelum ikut naik di sampingnya. Sepanjang perjalanan menuju Universitas, penuh dengan keheningan dan jarak. Tedfia terus menetapkan perhatiannya ke pemandangan jalan, menghindari tatapanku. Syukurlah penembak tadi tak benar-benar mengejar kami. Kakinya yang terluka terangkat ke pangkuanku di balut kain batik dari kemejaku. Sementara syal polkadot hijau-hitamnya membalut lenganku tangkas. Aku menyadari sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada suara tembakan tadi.
Masalah ini jauh lebih serius.
***
“Kau membuat ruangan itu terbakar, Tedfia!” Suara teguran Profesor tenang tapi tegas menembus jarak ketika melihat kaki keponakannya yang kini diperban. Beliau memutuskan menemui kami di ruang UKS universitas. Aku menatap mereka sesekali dari ranjang pasien, seorang petugas tengah bekerja memerban lenganku.
“Tapi paman tahu kau bukan hanya mencari kebenaran sejarah. Kau sedang mencoba balas dendam Nak. Kau menantang Tuhan hanya untuk memuaskan egomu.” Profesor Amad berkomentar lesu, menggeleng dan bersandar ke kursinya lalu lengang. Layaknya seorang ayah yang frustasi sekaligus kecewa pada putrinya.
Tedfia menunduk, menatap teh di tangannya. “Aku mengorbankan waktu tidurku setiap malam, tenggelam dalam buku-buku. Aku meminta satu hal sederhana–kesempatan. Aku belajar, aku sujud, aku menangis. Tapi Allah diam saja. Aku mulai bertanya-bertanya, pakah DIA benar-benar mendengarkan? Atau… kita hanya bicara pada gema masa lalu, pada nama yang diwariskan tanpa arti? menyaksikan ketidakadilan yang berulang kali menang, aparat tetap duduk tenang sambil menyeringai menatap berita koran bahwa mereka telah berhasil meluluskan siswa-siswa terbaik dan berprestasi ke perguruan tinggi, meskipun dengan memanipulasi nilai demi ‘kemaslahatan umat’ dan melindungi akreditasi sekolah semata?”
“Salah satu guruku bahkan secara terang-terangan memuji siswa yang menyontek di kelas, banyak akal dan kolaboratif. Seolah-olah hal itu adalah hal yang wajar jika ingin mendapat nilai bagus. Tapi benarkah? banyak akal dengan membenarkan segala cara? Oh.. begitukah? Pantas saja, Pejabat-pejabat banyak yang korupsi.” Tawanya menggema sarkas saat mengucapkan kata-kata terakhir. Meskipun isak tangisnya mulai tak tersamarkan. “Pintar di atas kertas, namun minim secara empati dan moral.”
“Entahlah paman, mungkin mereka adalah orang yang ‘baik’ namun mengadopsi cara yang salah. Mereka juga ingin memberikan kesempatan terbaik kepada siswanya agar bisa berkuliah. Moral dunia ini memang abu-abu. Tapi bukan berarti kita menormalisasi bentuk kecurangan. Kita tetap bisa memberikan nilai sikap yang tinggi kepada siswa karena mereka jujur dan menjaga integritas meskipun nilai akademiknya masih kurang. Hal itu bisa diatasi dengan pendampingan. Kita tetap bisa menoleransi mereka, karena setidaknya mereka sudah berusaha, jadi pengawasan pun seharusnya lebih intensif dan ketat. Bukannya mevalidasi dan membenarkan kecurangan dengan embel-embel kenakalan remaja. Jika bukan kita yang mendobrak sistem busuk ini, siapa lagi?”
Profesor Roselie menghembuskan nafas panjang lalu tersenyum selama beberapa saat. "Tedfia… iman itu bukan kontrak. Tuhan tidak menjawab dengan cara yang kau harapkan, karena Dia bukan mesin permintaan. Kalau kau gagal, itu bukan karena Allah tak ada, tapi karena dunia ini tidak tunduk pada kehendak kita. Kadang–doa yang tak dikabulkan justru menjaga kita dari jalan yang lebih gelap.” Profesor Roselie mengedikkan bahunya. Matanya berbinar. “Kurasa kau pun akhirnya memahami alasan-Nya membuatmu gagal, kau ditempatkan ke tempat yang paling baik. Baghdad–Internasional.” Timpalnya dengan nada bangga–seolah menyadari sesuatu yang baru dan lebih dalam dari sekadar pemberontakan dan keliaran keponakannya.
“Tapi bagaimana kalau semua ini hanya kebetulan? Bagaimana kalau Tuhan tidak pernah ada, dan semua doa itu cuma cerminan dari rasa takut manusia–takut sendirian di alam semesta?”
“Mungkin begitu. Tapi kalau pun iman hanyalah cermin ketakutan, ia tetaplah satu-satunya hal yang membuat kita manusia. Kau boleh meragukan Tuhan, Tedfia–tapi juga jangan berhenti mencari-Nya. Nak.” Profesor bangkit tersenyum penuh arti menepuk pundak keponakannya. Profesor menoleh sekilas dan mengedipkan mata ke arahku. Aku pun berdehem, menangkap isyaratnya.
"Assalamua'laikum?"
Ia menoleh. “Hanya itu? Setelah membuntutiku tiga lantai di museum layaknya bayangan yang tergila-gila pada aksara paku?”
Aku tersenyum. “Aku cuma penasaran tentang yang kau sebut ‘Ageless’ itu.”
Ia menatapku tajam, seringai kecil tersungging dari ujung bibirnya ketika ia berbalik menatapku. “Oh? Jadi sekarang kamu tanya hal yang benar. Alih-alih menghindari tatapanku seperti satpam linglung.” la mencondongkan tubuh. Jarinya menelusuri udara seolah menulis aksara paku. “Ageless bukan legenda. Mereka yang menulis sejarah di antara baris. "Kaum abadi berambut perak yang menyaksikan kerajaan bangkit dan runtuh.”
“Tapi kenapa aku harus mempercayakan rahasia mereka kepadamu?” Tiba-tiba gadis itu menarik diri. Menyilangkan kedua lengannya. “Buktikan kalau kau bisa menghadapi lebih dari sekadar teori psikologi buku teks. “Apa kebohongan tertua yang pernah manusia ciptakan sendiri?” sekilas seringai menantangnya timbul. “dan jangan curang. Aku bakal tahu kalau kamu google.”
Aku pun berpikir sejenak. “Mmm.. Taman eden, di surga. Iblis yang mengatakan kebohongan untuk menggoda hawa?”
Gadis itu pun memanyunkan bibirnya, tampak tak terkesan. Mengangguk paksa. “Oke,oke.. bukan permulaan yang buruk, kuakui.. lalu katatan, apa hal itu benar-benar nyata? atau hanya bualan semata? Lantas, dimanakah apel keabadian itu?”
“Sejujurnya aku muslim. Jadi aku percaya bahwa itu nyata. Kami menyebutnya dengan surga khuldi. Di sanalah buah itu berada menurut keyakinan kami.” Jawabku lugas.
“...ah, Surga Khuldi?” gadis itu mencondongkan tubuhnya lebih dekat, meski nadanya terasa mengejek. Dan kau masih tetap percaya bahwa surga itu ada..meskipun kau mahasiswa dengan otak tajam.”
“Maaf.. apa kau atheist?” Tanyaku mengerutkan kening spontan.
Ia berhenti di tengah langkah, tatapannya terkunci padaku dingin dan menusuk laksana belati kuno. “Jangan anggap aku tolol, ya... Aku tidak percaya pada dongeng atau tuhan-tuhan tanpa wajah.”
Nada main-mainnya lenyap seketika berganti ketegasan dingin.
“Aku berurusan dengan bukti. Dengan hal-hal yang bisa kulihat, kusentuh, dan kubuktikan.
Iman... cuma kebohongan indah yang manusia gunakan agar bisa tidur tenang di malam hari.”
Aku mengerutkan kening menolak mundur mencoba mencari celah logikanya. “Tapi gimana kamu bisa percaya pada mitos ageless dan mereka nyata tanpa melihatnya langsung? Bukankah itu juga hal metafisik? Kamu lagi mengujiku, kan? Karena kau sendiri tak akan sejauh ini kalau tak percaya juga."
Sekilas rasa defensif muncul di wajahnya. Ia mengangkat dagu, menolak mundur. “Jangan samakan ketertarikanku pada sejarah dengan iman. Ageless itu bukan dewa. Mereka manusia nyata. Ia menunjuk ke udara, nada suaranya tajam. Seringai tajamnya bercampur dengan seringai sarkas.
“Aku punya bukti. Fragmen tulisan mereka. Catatan dari masa mereka. Aku berurusan dengan fakta. Iman hanya untuk mereka yang tak sanggup menghadapi kebenaran menyakitkan.”
“Tapi iman juga punya buktinya sendiri–para nabi.”
“Manuskrip Ṣan‘ā’? Birmingham Qur’an Manuscript? Fragmen Qur’an Hijazi lain dari abad ke-7? Dome of the Rock inscriptions. Inskripsi batu abad ke-7 yang menyebut “Muhammad Rasul Allah”?”
“aku yakin, kau sebagai arkeolog yang berpengetahuan mampu menyimpulkannya dengan baik, karena meski tanpa bukti kerangka analisis DNA pun dampaknya tak bisa disangkal secara global dan lintas generasi. Meskipun memang tradisi Islam kami sangat menjaga beliau secara ketat. Layaknya Socrates, Confucius, bahkan Yesus Kristus yang dianggap bukan fiksi semata meski tanpa proses serangkaian verifikasi DNA.” Bantahku berbisik ke telinganya menambahkan, menyeringai menikmati.
Ia memutar bola mata, nada suaranya sinis. “Ah ya, kitab suci yang ditulis manusia, berabad-abad setelah kejadian. Sangat meyakinkan.”Ia melambaikan tangan dengan sikap meremehkan. mengerucutkan bibir. “Tunjukkan padaku bukti nyata bahwa nabi itu benar-benar ada. Bukan sekadar kata-kata kuno di buku-buku tua.”
“Bukti itu adalah Al-Qur’an itu sendiri. Kau minta bukti selain kitab, tapi kau sendiri percaya pada tablet kuno yang ditulis manusia. Bukankah itu justru tidak masuk akal?” Timpalku sedikit sarkas sekarang.
Matanya menyipit, sedikit tersinggung, tapi enggan kalah. “Minatku pada tablet kuno adalah sejarah, bukan iman.” Nada suaranya terdengar mulai defensif. “Aku menganalisisnya seperti teka-teki. Ini tentang memahami masa lalu, bukan menyembahnya.“Kitab sucimu hanya kisah untuk mengatur manusia. Tak ada bukti nyata di dalamnya.”
“Oh, ya? Kenapa kamu nggak coba analisis sendiri dulu sebelum menghakimi?” Timpalku menelengkan kepala seraya menyilangkan tangan kali ini. Aku pun tersenyum menggoda, sedikit menantangnya.
Mata Tedfia menyipit, terganggu namun penasaran. Ia sedikit tersenyum sinis. “Oh, dan apa yang membuatmu berpikir aku belum melakukannya?” Ia mencondongkan tubuhnya dan berbisik ke telingaku. “Kau pikir aku belum mempelajarinya, mencari sesuatu yang berharga?” Nada suaranya sarkastik. “Kau ingin membujukku, ya? Dai?"
“Bolehkah aku bertanya sesuatu?” Kataku akhirnya.
“...Ya?” Jawab gadis itu senewen.
“Pernah Mendengar Ekpyrotic Universe?”
Tedfia memicingkan matanya sesaat, ragu. Semesta baru yang dihasilkan dari tabrakan membran kosmos?
"Ya, kenapa?”
Aku mengangguk pelan. “Kurang lebih. Dalam model itu, alam semesta kita dianggap seperti membran–brane–yang bertingkat–semuanya saling mengapung di ruang berdimensi lebih tinggi. Big Bang bukan benar-benar awal mutlak, tapi akibat tabrakan antar-brane dimensi.”
“Analoginya bayangkan alam semesta kita seperti novel yang terdiri dari berlembar-lembar kertas. Aku mengambil buku paling atas dari tumpukan di atas meja dan membuka lembaran nya secara cepat. “Sekarang bayangkan setiap lembarannya adalah brane atau semesta berbeda. Mereka tampak terpisah, tetapi sebenarnya berada dalam satu ruang yang lebih besar. Dalam teori brane cosmology, ruang besar itu disebut bulk–semacam dimensi lebih tinggi tempat semua brane ‘mengapung’.”
“Tunggu,” potong Tedfia. “Terus..kenapa kita nggak bisa melihat lapisan lain?”
“Karena seluruh materi dan cahaya kita terikat pada ‘halaman’ kita sendiri.” Aku mengetuk kertas pelan. “Ibarat karakter novel tidak bisa keluar dari kertas tempat ia dicetak.”
Ia menyilangkan tangan di dada. “Lalu hubungannya dengan agama?”
Aku menatap kopi hitamnya yang mendingin di tangannya sesaat sebelum kembali menatap wajahnya.
“Konsep ‘langit berlapis’ dalam agama bukan hanya sekadar alegori melainkan juga kosmologis. Bukan sebagai lapisan awan literal, tapi kemungkinan struktur realitas yang bertingkat.”
Tedfia memicingkan mata.
Aku melanjutkan sebelum ia menyela. Lihat pola alam semesta. Banyak hal dibangun secara berlapis. Atmosfer bumi punya strata. Bumi sendiri terdiri dari kerak, mantel, inti luar, inti dalam. Tubuh manusia juga tersusun dari sistem dan lapisan berbeda. Bahkan struktur galaksi tersusun dalam hierarki kosmik.”
“Dan kau menghubungkan itu dengan tujuh langit?” tanyanya skeptis.
“Bukan mencocok-cocokkan secara harfiah,” jawabku cepat. “Lebih ke kemungkinan bahwa teks kuno mencoba menjelaskan realitas bertingkat dengan bahasa yang bisa dipahami manusia sezamannya.”
Tedfia terdiam.
“Dalam brane cosmology,” lanjutku, “mungkin saja realitas kita cuma satu lapisan kecil dari struktur multidimensi yang jauh lebih besar. Kita tidak bisa melihat dimensi lain bukan berarti dimensi itu tidak ada.”
Ia mulai memperhatikanku lebih serius sekarang.
“Jadi menurutmu surga dan neraka itu... dimensi lain?”
“Mungkin.” Aku mengangkat bahu kecil. “Atau bentuk eksistensi yang tunduk pada hukum fisika berbeda kita belum tahu.”
“Aku terkekeh pelan. “Quantum mechanics bilang partikel bisa berada di dua keadaan sekaligus. Relativitas bilang waktu tidak absolut.” Simpelnya waktu itu relatif. “
Tedfia menatapku beberapa detik sebelum berkata pelan, “Isra’ Mi’raj?”
Aku mengangguk. “Gimana kalau cuma para nabi yang bisa mengakses dimensi lain atas izin allah?” Karena ketika sesuatu bergerak mendekati kecepatan cahaya--buraq? Waktu pun berjalan sangat melambat. Seolah-olah membeku”. Dan bisa saja waktu di sana berjalan berbeda, dengan zona waktu di bumi. Bahkan zona waktu di setiap belahan bumi juga berbeda. Baghdad dan Jakarta selisih empat jam. Aku mengalami sendiri, saat penerbangan. Dua belas jam perjalanan. Berangkat pukul 21.00 malam. Penerbangan diundur. Seharusnya bila ikut zona waktu Jakarta aku sampai jam sembilan pagi. Tapi begitu aku sampai Baghdad jam menunjukkan Pukul 05.00 subuh. Karena antara WIB dan waktu baghdad berputar empat jam lebih lambat. Jadi seolah-olah waktuku berjalan mundur delapan jam perjalanan saja di jam lokal. Karena telah berbeda area dan garis waktu, meskipun di stop-watchku tetap menunjukkan waktu asli perjalanan yakni dua belas jam."
Ia menghela napas pelan, lalu tertawa kecil tak percaya.
“Agama dan Fisika dalam satu percakapan. Ga, otakmu itu aneh deh.” Timpalnya tersenyum tulus.
.jpeg)