Almari Takdir: Ujian Dimulai-Nominasi 30 Cerpen Terbaik, Fun Bahasa (Def Tanoshii) Pendekatan Interkultural
Cerpen Chapter 15
![]() |
| Ilustrasi |
Miringkan Ponsel Jika ada teks yang terpotong
Detik berikutnya dirinya telah berada di puncak tebing yang dikeliling lautan biru yang luas dan tenang. Ia berdiri di atas lempengan batu berukir tulisan-tulisan jawa kuno yang tidak Ia pahami. Arunika bisa mendengar suara kicauan gerombolan burung walet yang melintas. "Kau telah berada di domainku-daerah jangkauanku sekarang."
‘‘Tapi siapa kau?“ Tanya Arunika kepada wanita berbaju jawa kuno tersebut.
‘‘Nyai Danyang Lintang Arum”. Wanita itu berdialog dalam bahasa jawa fasih.
"Ujian pertama," kata Wanita itu melanjutkan, "adalah tentang hatimu. “Endi sing luwih wigati, kerjane sing temen utawa restune Sang Hyang?” (Mana yang lebih penting, kerja keras atau iman dan keyakinan terhadap takdir dan restu ilahi?) Arunika terdiam, berpikir. "Selama ini aku percaya kerja keras adalah segalanya. Tapi... jika Tuhan tidak mengizinkan, apa gunanya semua itu?" Tiba-tiba saja Syair Pushkin yang pernah dia baca terlintas begitu saja dipikirannya "Doa dan iman adalah tongkat bagi hati yang lemah, Kerja keras adalah cahaya dalam kegelapan." "Jawabanku," katanya akhirnya, "keduanya. Doa memberikan arah, tapi kerja keras membuat kita berjalan." Nyai Danyang tersenyum puas. Rune di lempengan batu pijakannya itu berpendar terang. "Kau lulus. Tapi perjalananmu baru saja dimulai." Seusai wanita itu mengatakannya, wanita itu menghilang dan dunia di sekitarnya mendadak runtuh, pemandangan langit biru dan gugusan awan memudar perlahan-lahan. Seolah-olah ada yang menghisapnya. Lautan biru tumpah dan tebing yang menjadi tempat berpijaknya runtuh perlahan.
"Aaaaaaaahhhhhh!" Anurika pun terjatuh dalam kehampaan, tak menahu kemana ujian kedua ini akan membawanya. la belum berani membuka matanya.
Hingga akhirnya mendapati dirinya mendarat di antara ranting dan dedaunan pohon jati yang tumbang. "Arunika apa itu kau?" Kau tidak apa?" Seorang pria dengan wajah tampan yang amat familiar mendekat dan mengulurkan tangannya menawarkan bantuan. Matanya membelalak kaget." Alex bagaimana kau bisa ada di sini?!" Pipinya merona. Arunika sudah menyukainya, sejak pertama kali masuk SMA.
"Aku sama denganmu, mencoba mengubah nasibku."
"Jadi.. kau juga bertemu penyihir dan Nyai Danyang itu?"
"Mm-hmm..." Alex mengangguk. Aku bertemu Vasilisa, tapi tidak dengan Nyi.. Danang?? Itu?“ Arunika tertawa, mendengar usaha Alex mengeja nama leluhurnya itu dengan susah payah dalam aksen rusia kentalnya.
Alex membantunya berdiri dan mendapati kakinya berdarah karena tergores. "Kau sungguh bisa berjalan?" "Ya, tidak apa, rutuknya. Ini hanya luka kecil." Jawabnya gugup, ketika Alex mengaitkan lengan Arunika ke bahunya untuk membantunya berjalan. "Aku tidak tahu jalan." Lanjut Arunika, berusaha menepis kecanggungan di antara mereka. "Aku juga," tapi, apapun tantangan yang menghadang, aku yakin kita pasti bisa melewati rintangan ini bersama." Kata-kata Alex itu menusuk jantungnya laksana panah Arjuna dan Cupid, selama Alex tetap bersamanya, ia bahkan rela menyebrangi lautan lava sekalipun.
Ujian kedua membawa keduanya ke medan berbatu dengan sungai terjal di kedua sisinya. Bayangan gelap dan bola-bola api berwajah seram melayang di antara pohon-pohon, menatapnya dengan mata merah menyala. Banaspati. Arunika merinding, tetapi terus berjalan. Bayagan hitam menyerupai dirinya sendiri merambat dan mengamati gerak-gerik Arunika, menyembul dari permukaan sungai.
‘‘Kau tak perlu terlalu memaksakan dirimu, Arunika! Menyerah saja! Lagi pula, kau akan gagal lagi.“ Apa kau ingin mengorbankan nyawamu sendiri demi ambisimu?!“ Arunika berusaha mengabaikan rayuan dan bisikan-bisikan dari ketakutannya sendiri. Refleksi dirinya melambai-lambai berusaha menggapai-gapai dan menariknya jatuh ke aliran arus deras sungai. Mereka tak kenal lelah untuk merayu Arunika. ‘‘Apa kau masih tak mampu menerimaku? Apa kau tak bisa menerimaku sebagai bagian dari dirimu?“
‘‘Kau bukan diriku! Dan aku berbeda denganmu!“ Arunika mengambil bebatuan dan terus melempari mereka sambil terus berjalan. Bayangan mereka hilang timbul di sepanjang aliran sungai. ‘‘enyahlah!“ terdengar tawa jahat yang melengking di udara.
‘‘Kau akan menyesalinya Arunika! Seseorang yang begitu kau kagumi dan cintai itu akan menghianatimu!“ Umpatan-umpatan makhluk itu masih terus saja menggema di udara. Tiba-tiba, Angin berdesir dan bertiup kencang membawa serta kayu, kerikil, debu dan air hujan yang menyakiti matanya, jalanan bebatuan yang licin membuatnya tergelincir dan nafasnya tercekat. Sesuatu yang mendesis dan menggeliat mulai mengepungnya dari segala arah. Rasa paniknya pun memuncak, la menoleh ke segala arah mencari-cari wajah yang familiar baginya." Di mana Alex?!"
Seketika langit menghitam dan suara menggelegar timbul, la segera menangkap sosok Alex yang tiga meter telah berada di depannya. "Alex tolong aku!" Saat itulah gemuruh petir semakin menggelegar dan menyambar apapun yang ada di sekelilingnya. Arunika tidak bisa berhenti berteriak dan ketakutan. Namun, dengan spontanitas dan kelincahannya ia berusaha menghindari kilatan petir, ia berguling ke kanan, dan meringkuk, la juga berguling ke kiri dan bangkit ketika petir itu nyaris
menyambar kepang dan telinganya. Pakaian kemejanya robek di sana-sini. Namun, la tetap berusaha merayap serata mungkin dengan tanah selagi berusaha mempercepat langkahnya dengan merangkak ketika ada kesempatan, perlahan-perlahan berjalan dan berlari menyusul Alex meskipun berkali-kali terjatuh. Ketika hampir meraih pundaknya, Alex menoleh kepadanya dengan ekspresi janggal. la mendengar suara di kepalanya yang meluncur tiba-tiba," Sial! Bagaimana gadis ini bisa menyusul ku?!!"
Belum sempat mencerna apa yang didengarnya, petir tiba-tiba menyambar, memisahkan mereka dengan pohon besar yang Tumbang. Tanah retak di bawah mereka, memaksa mereka berpisah. Dari seberang retakan, ia bisa melihat makhluk berambut panjang gimbal, telinganya runcing, tubuhnya kurus dan berbulu lumayan lebat mirip sinpsnse. Tubuhnya juga telanjang, hanya memakai jarik lusuh yang dikaitkan menutupi kemaluannya. Makhluk itu menatap dan memekik tajam ke arahnya menampilkan gigi-gigi runcingnya membuat Arunika tercekat.
Arunika menggigil ketakutan, tetapi suara Nyai Danyang kembali terdengar di kepalanya dalam bahasa jawa yang kental. "Lanjutkan perjalananmu. Jangan biarkan pengkhianatan menghentikan langkahmu." Dia bukan Alex, melainkan Si Gandurwo Jabang.
Akhirnya, Arunika mencapai puncak tebing merapi tempat lemari takdir berada. Namun, segerombolan kelelawar raksasa keluar dari celah batuan, Arunika sempat bersembunyi sejenak di balik semak-semak. Namun, ada salah satu kelelawar yang telah terlanjur menyadari keberadaannya. Kelelawar itu menukik tajam ke arahnya hendak menyerang. Arunika menghindar, mengambil dahan pohon tajam sebagai senjata. kelelawar raksasa itu hampir menerkam dan mencengkramnya, tetapi kali ini Arunika berhasil merunduk menghindarinya. tanpa berlama- lama, la segera menghujam perutnya dengan ujung ranting tajam. Sehingga kelelawar itu meraung-raung kesakitan lalu terbang menjauhinya. Arunika hampir saja meraih lemari takdir, saat gunung merapi tiba-tiba mulai bergetar hebat, melemparkan batuan lava panas. Ledakan besar akhirnya melemparkannya ke udara, dan lava menyembur tepat ke atas wajahnya, nyaris membakarnya. "Aaaaaaaakhhh" teriakan melengking keluar dari mulutnya. Sebelum akhirnya ia pasrah, air matanya terasa panas dan menyakitkan membasahi kedua pipinya, berpikir ini adalah endingnya. Namun, seekor elang putih besar muncul, menyelamatkannya. Arunika mendarat di punggungnya, elang itu membawanya ke tempat aman ke puncak tebing lain.
Selepas mendarat, Arunika turun dan menggelepar tanpa daya. Dalam satu kibasan sayapnya, elang itu berubah menjadi Vasilisa transformasinya yang sempurna diakhiri dengan kibasan jubah putihnya dalam sekejap mata. "Kau tidak apa?! Apa kau terluka?!"
"Aku Gagal lagi kan?" Air mata Arunika akhirnya mengalir deras. Untuk apa aku bekerja keras jika hasilnya selalu sama!? Kegagalan". Vasilisa pun menatapnya lembut, berusaha menenangkan Arunika dalam pelukannya.
"Kau mungkin merasa telah kehilangan segalanya, namun... Lihatlah...tidak semua..." Di hadapan mereka, sebuah lemari takdir lain dari pohon ek dengan ukiran yang rumit berdiri. Terpampang gedung Universitas Oxford dengan segala keantikan dan kemegahannya di permukaan. Cahaya kemilaunya melambai-lambai seolah telah menyambutnya dan siap memeluknya. "Aku pikir Stanford adalah tujuan dan takdirku," Ujar Arunika, bingung. "Terkadang, Tuhan memiliki rencana lain. Kegagalanmu di Stanford adalah cara-Nya untuk melindungimu, seperti halnya aku berusaha melindungimu di sepanjang perjalananmu tadi, dan menempatkanmu ke tempat yang lebih baik," jawab Vasilisa.
"Maksudmu?"
"Aku melindungingimu dari niat jahat Alex yang berusaha mencelakaimu dengan menumbangkan pohon dan memisahkan kalian. Aku juga berusaha menyelamatkanmu ketika letusan gunung itu hampir membakarmu dengan berubah menjadi elang. Semua itu, adalah caraku melindungimu". Air mata mengalir di pipi Arunika. "Jadi, semua ini bukan kesia-siaan?"
Gemerisik angin menerpa menari-nari di kulitnya membawa semerbak harum melati. Nyai Danyang tiba-tiba muncul dan mendekapnya dalam belaian. ‘‘ Sama sekali bukan, kami selalu melindungimu, Nduk.“ Jawabnya dalam bahasa jawa yang fasih. Dengan hati yang lebih ringan, Arunika memasuki lemari takdirnya menuju masa depan yang lebih cerah. Tiba- tiba saja, la telah mendapati dirinya terduduk di kamarnya kembali, memegangi laptop, ditemani tatapan bersemangat dan penasaran Olga yang sedari tadi menunggu. la menghela nafasnya dan ketika jarinya meng-klik keybord portal pengumuman Oxford, dia tidak perlu menggulirnya karena namanya berada di urutan ke -12 dari atas. Mereka pun terisak, tangis bahagia mereka pecah.
Tamat
Glosarium
.jpeg)