Almari Takdir: Ujian Dimulai-Nominasi 30 Cerpen Terbaik, Fun Bahasa (Def Tanoshii) Pendekatan Interkultural

Almari Takdir: Ujian Dimulai-Nominasi 30 Cerpen Terbaik, Fun Bahasa (Def Tanoshii) Pendekatan Interkultural

 


Ilustrasi
          Cerpen Terbatas

Miringkan Ponsel Jika ada teks yang terpotong


Detik berikutnya dirinya telah berada di puncak tebing yang dikeliling lautan biru yang luas dan tenang. Ia berdiri di atas lempengan batu berukir tulisan-tulisan jawa  kuno yang tidak Ia pahami. Arunika bisa mendengar suara kicauan gerombolan burung walet yang melintas. "Kau telah berada di domainku-daerah jangkauanku sekarang." 

‘‘Tapi siapa kau?“ Tanya Arunika kepada wanita berbaju jawa kuno tersebut. 

‘‘Nyai Danyang Lintang Arum”. Wanita itu berdialog dalam bahasa jawa fasih.


 "Ujian pertama," kata Wanita itu melanjutkan, "adalah tentang hatimu. “Endi sing luwih wigati, kerjane sing temen utawa restune Sang Hyang?” (Mana yang lebih penting, kerja keras atau iman dan keyakinan terhadap takdir dan restu ilahi?) Arunika terdiam, berpikir. "Selama ini aku percaya kerja keras adalah segalanya. Tapi... jika Tuhan tidak mengizinkan, apa gunanya semua itu?" Tiba-tiba saja Syair Pushkin yang pernah dia baca terlintas begitu saja dipikirannya "Doa dan iman adalah tongkat bagi hati yang lemah, Kerja keras adalah cahaya dalam kegelapan." "Jawabanku," katanya akhirnya, "keduanya. Doa memberikan arah, tapi kerja keras membuat kita berjalan." Nyai Danyang tersenyum puas. Rune di lempengan batu pijakannya itu berpendar terang. "Kau lulus. Tapi perjalananmu baru saja dimulai." Seusai wanita itu mengatakannya, wanita itu menghilang dan dunia di sekitarnya mendadak runtuh, pemandangan langit biru dan gugusan awan memudar perlahan-lahan. Seolah-olah ada yang menghisapnya. Lautan biru tumpah dan tebing yang menjadi tempat berpijaknya runtuh perlahan.


"Aaaaaaaahhhhhh!" Anurika pun terjatuh dalam kehampaan, tak menahu kemana ujian kedua ini akan membawanya. la belum berani membuka matanya.

 Hingga akhirnya mendapati dirinya mendarat di antara ranting dan dedaunan pohon jati yang tumbang. "Arunika apa itu kau?" Kau tidak apa?" Seorang pria dengan wajah tampan yang amat familiar mendekat dan mengulurkan tangannya menawarkan bantuan. Matanya membelalak kaget." Alex bagaimana kau bisa ada di sini?!" Pipinya merona. Arunika sudah menyukainya, sejak pertama kali masuk SMA. 


"Aku sama denganmu, mencoba mengubah nasibku." 

"Jadi.. kau juga bertemu penyihir dan Nyai Danyang itu?" 

"Mm-hmm..." Alex mengangguk. Aku bertemu Vasilisa, tapi tidak dengan Nyi.. Danang?? Itu?“ Arunika tertawa, mendengar usaha Alex mengeja nama leluhurnya itu dengan susah payah dalam aksen rusia kentalnya.

Alex membantunya berdiri dan mendapati kakinya berdarah karena tergores. "Kau sungguh bisa berjalan?" "Ya, tidak apa, rutuknya. Ini hanya luka kecil." Jawabnya gugup, ketika Alex mengaitkan lengan Arunika ke bahunya untuk membantunya berjalan.  "Aku tidak tahu jalan." Lanjut Arunika, berusaha menepis kecanggungan di antara mereka. "Aku juga," tapi, apapun tantangan yang menghadang, aku yakin kita pasti bisa melewati rintangan ini bersama." Kata-kata Alex itu menusuk jantungnya laksana panah Arjuna dan Cupid, selama Alex tetap bersamanya, ia bahkan rela menyebrangi lautan lava sekalipun.

 Ujian kedua membawa keduanya ke medan berbatu dengan sungai terjal di kedua sisinya. Bayangan gelap dan bola-bola api berwajah seram melayang di antara pohon-pohon, menatapnya dengan mata merah menyala. Banaspati. Arunika merinding, tetapi terus berjalan. Bayagan hitam menyerupai dirinya sendiri merambat dan mengamati gerak-gerik Arunika, menyembul dari permukaan sungai. 

‘‘Jangan terpengaruh! Tetaplah fokus pada jalurmu!“ Alex mengingatkan.

     

‘‘Kau tak perlu terlalu memaksakan dirimu, Arunika! Menyerah saja! Lagi pula, kau akan gagal lagi.“ Apa kau ingin mengorbankan nyawamu sendiri demi ambisimu?!“ Arunika berusaha mengabaikan rayuan dan bisikan-bisikan dari ketakutannya sendiri. Refleksi dirinya melambai-lambai berusaha menggapai-gapai dan menariknya jatuh ke aliran arus deras sungai. Mereka tak kenal lelah untuk merayu Arunika. ‘‘Apa kau masih tak mampu menerimaku? Apa kau tak bisa menerimaku sebagai bagian dari dirimu?“


  ‘‘Kau bukan diriku! Dan aku berbeda denganmu!“ Arunika mengambil bebatuan dan terus melempari mereka sambil terus berjalan. Bayangan mereka hilang timbul di sepanjang aliran sungai. ‘‘enyahlah!“ terdengar tawa jahat yang melengking di udara.


‘‘Kau akan menyesalinya Arunika! Seseorang yang begitu kau kagumi dan cintai itu akan menghianatimu!“ Umpatan-umpatan makhluk itu masih terus saja menggema di udara.  Tiba-tiba, Angin berdesir dan bertiup kencang membawa serta kayu, kerikil, debu dan air hujan yang menyakiti matanya, jalanan bebatuan yang licin membuatnya tergelincir dan nafasnya tercekat. Sesuatu yang mendesis dan menggeliat mulai mengepungnya dari segala arah. Rasa paniknya pun memuncak, la menoleh ke segala arah mencari-cari wajah yang familiar baginya." Di mana Alex?!"  


Seketika langit menghitam dan suara menggelegar timbul, la segera menangkap sosok Alex yang tiga meter telah berada di depannya. "Alex tolong aku!" Saat itulah gemuruh petir semakin menggelegar dan menyambar apapun yang ada di sekelilingnya. Arunika tidak bisa berhenti berteriak dan ketakutan. Namun, dengan spontanitas dan kelincahannya ia berusaha menghindari kilatan petir, ia berguling ke kanan, dan meringkuk, la juga berguling ke kiri dan bangkit ketika petir itu nyaris


menyambar kepang dan telinganya. Pakaian kemejanya robek di sana-sini.  Namun, la tetap berusaha merayap serata mungkin dengan tanah selagi berusaha mempercepat langkahnya dengan merangkak ketika ada kesempatan, perlahan-perlahan berjalan dan berlari menyusul Alex meskipun berkali-kali terjatuh. Ketika hampir meraih pundaknya, Alex menoleh kepadanya dengan ekspresi janggal. la mendengar suara di kepalanya yang meluncur tiba-tiba," Sial! Bagaimana gadis ini bisa menyusul ku?!!" 


Belum sempat mencerna apa yang didengarnya, petir tiba-tiba menyambar, memisahkan mereka dengan pohon besar yang Tumbang. Tanah retak di bawah mereka, memaksa mereka berpisah. Dari seberang retakan, ia bisa melihat makhluk berambut panjang gimbal, telinganya runcing, tubuhnya kurus dan berbulu lumayan lebat mirip sinpsnse. Tubuhnya juga telanjang, hanya memakai jarik lusuh yang dikaitkan menutupi kemaluannya. Makhluk itu menatap dan memekik tajam ke arahnya menampilkan gigi-gigi runcingnya membuat Arunika tercekat.

 Arunika menggigil ketakutan, tetapi suara Nyai Danyang kembali terdengar di kepalanya dalam bahasa jawa yang kental. "Lanjutkan perjalananmu. Jangan biarkan pengkhianatan menghentikan langkahmu." Dia bukan Alex, melainkan Si Gandurwo Jabang.


Akhirnya, Arunika mencapai puncak tebing merapi tempat lemari takdir berada. Namun, segerombolan kelelawar raksasa keluar dari celah batuan, Arunika sempat bersembunyi sejenak di balik semak-semak. Namun, ada salah satu kelelawar yang telah terlanjur menyadari keberadaannya. Kelelawar itu menukik tajam ke arahnya hendak menyerang. Arunika menghindar, mengambil dahan pohon tajam sebagai senjata. kelelawar raksasa itu hampir menerkam dan mencengkramnya, tetapi kali ini Arunika berhasil merunduk menghindarinya. tanpa berlama- lama, la segera menghujam perutnya dengan ujung ranting tajam. Sehingga kelelawar itu meraung-raung kesakitan lalu terbang menjauhinya. Arunika hampir saja meraih lemari takdir, saat gunung merapi tiba-tiba mulai bergetar hebat, melemparkan batuan lava panas. Ledakan besar akhirnya melemparkannya ke udara, dan lava menyembur tepat ke atas wajahnya, nyaris membakarnya. "Aaaaaaaakhhh" teriakan melengking keluar dari mulutnya. Sebelum akhirnya ia pasrah, air matanya terasa panas dan menyakitkan membasahi kedua pipinya, berpikir ini adalah endingnya. Namun, seekor elang putih besar muncul, menyelamatkannya. Arunika mendarat di punggungnya, elang itu membawanya ke tempat aman ke puncak tebing lain.

 

 Selepas mendarat, Arunika turun dan menggelepar tanpa daya. Dalam satu kibasan sayapnya, elang itu berubah menjadi Vasilisa transformasinya yang sempurna diakhiri dengan kibasan jubah putihnya dalam sekejap mata. "Kau tidak apa?! Apa kau terluka?!" 

"Aku Gagal lagi kan?" Air mata Arunika akhirnya mengalir deras. Untuk apa aku bekerja keras jika hasilnya selalu sama!? Kegagalan". Vasilisa pun menatapnya lembut, berusaha menenangkan Arunika dalam pelukannya. 


"Kau mungkin merasa telah kehilangan segalanya, namun... Lihatlah...tidak semua..." Di hadapan mereka, sebuah lemari takdir lain dari pohon ek dengan ukiran yang rumit berdiri. Terpampang gedung Universitas Oxford dengan segala keantikan dan kemegahannya di permukaan. Cahaya kemilaunya melambai-lambai seolah telah menyambutnya dan siap memeluknya. "Aku pikir Stanford adalah tujuan dan takdirku," Ujar Arunika, bingung. "Terkadang, Tuhan memiliki rencana lain. Kegagalanmu di Stanford adalah cara-Nya untuk melindungimu, seperti halnya aku berusaha melindungimu di sepanjang perjalananmu tadi, dan menempatkanmu ke tempat yang lebih baik," jawab Vasilisa.

"Maksudmu?" 

"Aku melindungingimu dari niat jahat Alex yang berusaha mencelakaimu dengan menumbangkan pohon dan memisahkan kalian. Aku juga berusaha menyelamatkanmu ketika letusan gunung itu hampir membakarmu dengan berubah menjadi elang. Semua itu, adalah caraku melindungimu". Air mata mengalir di pipi Arunika. "Jadi, semua ini bukan kesia-siaan?"


Gemerisik angin menerpa menari-nari di kulitnya membawa semerbak harum melati. Nyai Danyang tiba-tiba muncul dan mendekapnya dalam belaian. ‘‘ Sama sekali bukan, kami selalu melindungimu, Nduk.“ Jawabnya dalam bahasa jawa yang fasih. Dengan hati yang lebih ringan, Arunika memasuki lemari takdirnya menuju masa depan yang lebih cerah. Tiba- tiba saja, la telah mendapati dirinya terduduk di kamarnya kembali, memegangi laptop, ditemani tatapan bersemangat dan penasaran Olga yang sedari tadi menunggu. la menghela nafasnya dan ketika jarinya meng-klik keybord portal pengumuman Oxford, dia tidak perlu menggulirnya karena namanya berada di urutan ke -12 dari atas. Mereka pun terisak, tangis bahagia mereka pecah. 


Tamat


Glosarium

Nyai Danyang Lintang Arum:

















Banaspati:






Gandurwo Jabang:

Dalam Bahasa jawa: Nyai, bisa diartikan sebagai ibu, nyonya/tuan yang terhormat.


Danyang adalah sebutan untuk roh penjaga/leluhur yang menjaga suatu alam atau wilayah tertentu. Misalnya gunung, danau, hutan dan sebagainya. 


Lintang berarti Bintang dalam bahasa jawa


Arum artinya harum atau baik. Nama ini bisa diartikan ruh tuan atau leluhur yang benderang bagaikan bintang dan harum yang menyertai ketika kedatangannya.


Makhluk ini berasal dari mitos jawa dan kalimantan. Sering digambarkan sebagai bola api yang melayang-layang ataupun raksasa yang menyeramkan.



Gandurwo yang ukuran fisiknya tidak pernah tumbuh selaras dengan usianya. Dalam mitologi jawa, makhluk ini memang menyukai manusia dan sering menyamar agar bisa menidurinya.



Music: The Wolf & The Moon-BrunuhVille


Almari Takdir: Mahkamah Takdir-Nominasi 30 Cerpen Terbaik, Fun Bahasa (Def Tanoshii) Pendekatan Interkultural

Almari Takdir: Mahkamah Takdir-Nominasi 30 Cerpen Terbaik, Fun Bahasa (Def Tanoshii) Pendekatan Interkultural

Ilustrasi: Arunika terjatuh dari tebing ketika berusaha menggapai Almari takdir


Cerpen Terbatas


Miringkan Ponsel jika ada yang terpotong

“Andai saja takdir memang semudah itu dipilih.. selayaknya kau memilih pakaian dalam lemari.“ Tetapi nasib memang bisa kau undi dan pilih..“ Sedangkan takdir adalah keputusan mahkamah Hyang Widhi secara mutlak, yang tak bisa diganggu gugat..“


~Arunika Zatkova, Siberia, 15 Juli 2025.

Di kamar kecil dengan lampu kuning yang berkedut remang-remang, Arunika duduk di meja kayu belajarnya, jemarinya yang dingin menggenggam tepi laptop. Matanya, putih keabu-abuan seperti kabut di hutan Siberia, menatap layar login portal Stanford. Rambutnya yang gelap, panjang dan lebat dikepang menjuntai ke punggungnya. Olga, pelayan rumah yang sudah seperti keluarga, mondar-mandir tak sabar. "Arunika, klik saja. Apa pun hasilnya, kau tetap anak yang luar biasa!" ujar Olga sambil meletakkan nampan teh ke mejanya. Arunika menggeleng, "Aku sudah mengorbankan segalanya, Olga. Kalau gagal, apa artinya semua perjuanganku ini?" Arunika menjawabnya dalam bahasa Rusia fasih. Suaranya bergetar. Olga menepuk pundaknya lembut. "Hidup tak hanya tentang hasil. Lihatlah dirimu, kau sudah bekerja keras. Itu lebih dari cukup." Olga menjawabnya dalam bahasa yang sama. 


Namun sebelum ia bisa mengumpulkan keberanian, suara teriakan dari ruang tamu membuatnya tersentak. "Bisnis ini sudah hancur, Irina! Semua itu salahmu!" suara ayahnya membahana, penuh amarah. "Dan kau pikir ide bodohmu itu lebih baik?!" balas ibunya. Arunika memejamkan mata. Tinjunya terkepal. Hati kecilnya protes. "Mereka selalu begini, bertengkar bahkan di saat-saat terpenting. Kadang aku bertanya-tanya pernakah sedikit saja mereka memedulikanku?" Untung saja orang tuanya bertengkar dalam bahasa inggris, yang tidak sepenuhnya dapat dipahami oleh Olga. Namun, tetap saja dari nada tinggi yang mereka gunakan untuk saling berteriak, orang awam pun pasti paham kalau keduanya sedang bertengkar.


Mujurnya Olga selalu bisa mencium ketidaknyamanannya, ia mengusap punggung tangan Arunika sebagai bentuk dukungan. Hal itu pun berhasil sedikit menghapus kegusaran gadis itu dan memantik api keberanian dalam dirinya. Ketika akhirnya ia membuka pengumuman, Bum! dunianya seolah runtuh. Namanya tidak ada di daftar penerima. Arunika menggigit bibir, menahan air mata yang mulai menggenang. "Tidak!" la menggebrak meja, membuat Olga tersentak. Tanpa menunggu, Arunika berlari keluar kamar, langsung ke ruang tamu. "Berhenti bertengkar!" teriaknya, suaranya pecah. "Aku juga gagal masuk Stanford! Kalian pikir dunia kalianlah yang satu-satunya hancur?!" Apakah dengan bertengkar sampai pagi masalah kalian akan selesai?!“ Berhentilah bersikap seperti anak kecil!“

“Saiki, tampa wae kuwi kabeh kaya panganan saben dina! Ngrasaen nganti kowé padha kulina!“ (Sekarang, terimalah hal itu seakan-akan semua itu adalah makanan sehari-hari, sampai kalian terbiasa!)

Arunika mengganti umpatannya dari bahasa inggris ke bahasa neneknya (Jawa) mengingat kehadiran Olga yang terpogoh-pogoh menyusulnya ke ruang tamu. 


Kedua orang tuanya pun terdiam saling pandang, sebelum keduanya tertunduk malu. Namun, Arunika tak memberi mereka waktu untuk bicara. la berbalik berlari ke loteng, satu-satunya tempat yang bisa memberinya kedamaian. Loteng itu dipenuhi aroma kayu basah dan debu. Jendela setinggi tubuhnya, menampilkan pemandangan hutan Siberia yang lebat, mendung, dan berselimut kabut tebal. Jendela itu menjadi satu-satunya sumber penerangan. Arunika menjatuhkan diri di atas sofa tua, air matanya akhirnya tumpah. "Semua ini sia-sia..." gumamnya. “Usahaku?? Mimpiku??


 Sejenak ia memandangi sekelilingnya. Loteng itu selalu sama seperti 12 tahun yang lalu, lukisan-lukisan antik berdebu, rak-rak buku di sudut ruangan, piringan-piringan hitam klasik serta gramofon dan proyektor film hitam putih. Yang paling menarik perhatiannya adalah lukisan pria tua, namun posturnya tetap bugar. Rambutnya sudah beruban begitu pula janggut dan kumisnya, memakai kaca mata lansia. Lencana Angkatan Laut Siberia terpampang gagah di dada sebelah kirinya. Hutan jati lebat yang asri menjadi latar lukisan vintage itu. Ia adalah kakeknya Mr. Sergei Dragunov, orang siberia tulen. Mata Arunika menelisik figurnya dari ujung atas sampai bawah kanvas, sebelum ia bangkit dari sofa lalu menyalakan gramofon, selama ini, lagu dan nyanyian selalu berhasil membuatnya tenang. Baru saja ia hendak berbalik ketika menyaksikan piringan hitam itu mulai berputar, sebelum kakinya tersandung sesuatu di atas karpet 'sebuah buku kulit'


Arunika membuka buku itu dan menemukan lirik dalam bahasa jawa kuno,‘‘Sing sapa wani ngadepi peteng, bakal nemu padhang sakdurunge fajar.” Ternyata Itu adalah Serat Wasita Jati milik neneknya, Serat itu memang berisi tembang-tembang dan mantra Jawa kuno yang bisa membuka Gerbang Mandhala, alam antara dunia dan akhirat tempat para leluhur dan penjaga takdir berkumpul, menurut pitutur neneknya.  ‘‘Ayolah..Ini adalah abad -21, memangnya siapa yang masih percaya takhayul seperti ini?“ Arunika bergumam dan menyeringai skeptis. ‘‘Seandainya lagu-lagu ini memang ajaib, lebih baik lagi jika aku bisa bertemu penjaga takdir dan leluhur-leluhurku kemudian meminta mereka agar megubah takdir malangku.“ Pikiran liarnnya itu membuatnya merinding geli.


la mulai menyanyikan lagu itu perlahan, seperti yang pernah dilakukan neneknya untuk menidurkannya sewaktu kecil. Nada-nada itu mengalir, membawa kehangatan di tengah dinginnya ruangan. Lagu itu membuatnya mengantuk dan perlahan ia tertidur. Arunika terbangun oleh suara gemerisik dedaunan, la mendapati dirinya berada di tengah hutan pepohonan jati. Udara lembap menyelimuti kulitnya, dan rasa dingin menusuk tulang. "Di mana aku?" gumamnya, memandang sekeliling. Tiba-tiba, seorang wanita muncul dari balik pepohonan. Wanita itu mengenakan sarafan putih dengan sulaman emas dan merah lengkap dengan penutup kepala dan tudungnya rambut cokelat keemasannya dikepang panjang menjuntai ke salah satu pundaknya terlihat lebat. "Selamat datang, Arunika," katanya dengan suara lembut tapi penuh wibawa. Arunika bingung menoleh ke kanan dan kirinya. Dia seolah mendengar bias suara--dua suara wanita yang berbeda menyambut dan menyapanya secara bersamaan. Namun, ia hanya melihat ‘satu wanita‘ misterius di hadapannya ini. Alunan samar gamelan merayapi udara.


‘‘Oh.. apa kau lebih suka aku yang memakai sarafan?

Atau..“ Kemudian wanita itu berbalik ‘‘Kowé remen aku nganggo adat Jawa?‘‘

(Kamu lebih suka aku yang memakai adat jawa?“)

Ia berpakaian seperti putri bangsawan Jawa zaman mataram:

berkebaya hitam berhias batik parang rusak dan kalung koin emas,

rambutnya disanggul dan tatapannya setajam wayang.

Anurika pun tersentak dan berteriak spontan, ia merangsek mundur dari tempatnya ketakutan. Makhluk macam apa mereka!

"Siapa kalian?" tanya Anurika, waspada. Suaranya serak dan nafasnya masih tersengal ketakutan. Wanita itu akhirnya berbalik lagi, memperlihatkan wujud wanita memakai sarafan. "Aku Vasilisa, salah satu penjaga dan pengelola takdir di hutan ini.“ Kau telah melewati Gerbang Mandhala, dan kami adalah leluhurmu.“ Seperti yang kau ketahui leluhurmu dari garis ibu dan nenekmu berasal dari kejawen trah mataram dan dari ayahmu adalah trah Slavia Kuno.


‘‘Kau menginginkan impianmu, bukan? Aku bisa membantumu, tetapi hanya jika kau siap melewati tiga ujian."

Arunika menatap skeptis. Tiga ujian? Apakah ini mimpi? Atau Tuhan mengirimkan harapan terakhir?

"Kenapa aku harus percaya padamu?" tanyanya akhirnya.

. Meski setengah hati percaya, ia tetap tak mau menyia-nyiakan kesempatanya. Wanita itu tersenyum samar. "

Karena aku adalah gambaran dari apa yang kau cari: kesempatan, keberuntungan.

Tapi kesempatan tanpa usaha tidak ada artinya.

" Sama seperti halnya tidak ada keberuntungan yang akan kau raih tanpa kerja keras."

Arunika pun tersenyum sinis, teringat akan kegagalan yang tetap ia telan bahkan setelah semua kerja kerasnya.

. "Kurasa bagaimanapun juga aku tetap butuh sedikit keberuntungan", gumamnya.

"Dan aku adalah 'sedikit keberuntungan' mu itu."

Wanita misterius itu menatap tajam ke matanya, lalu tersenyum. Apakah ia berhalusinasi?

la merasa wanita di depannya barusan menjawabnya melalui pikirannya, ke dalam kepalanya?

mau tak mau kejadian ini meruntuhkan sedikit temboknya. 


‘Sebelumnya kau beharap bertemu kami untuk mengubah takdirmu kan?“

Kalau begitu kami tidak bisa, karena kami bukanlah tuhan.

“ Yang mampu kami tawarkan kepadamu adalah ‘Sebuah pilihan dan kesempatan‘ untuk mengubah nasibmu.“

Wanita di hadapannya itu berbalik lagi, Menampilkan wujud wanita jawa berkebaya hitam.

“Ojo cilik ngati Le, Kowe ora kalah, Kowe mung durung wayahe menang.”

Arunika akhirnya mengangguk lemah setuju.



Glosarium

Hyang Widhi

Sebutan yang merujuk pada tuhan di agama hindu.

Mandhala

Istilah yang merujuk pada suatu konsep perjalanan spiritual dalam agama hindu.

Serat Wasita Jati

Serat jika merujuk ke budaya jawa, bisa berarti karya sastra berbentuk tulis. Wasita artinya nasihat atau petuah. Jati artinya keaslian atau kemurnian.

Arunika Zatkova

Artinya cahaya fajar atau Cahaya yang tenang dan diam.

Slavia Kuno

Bangsa atau ras yang dipercaya sebagai nenek moyang dari bangsa-bangsa Slavia modern, seperti Rusia, Ukraina, Polandia, Ceko, Slovakia, Bulgaria, Serbia, Kroasia, dan lainnya.


Bersambung di Part 2


Music: If You Fall I Will Carry You by Efisio Cross-Epic Music World


Harry Potter: Hogwarts & didikan Kejawen (Cerpen)

Harry Potter: Hogwarts & didikan Kejawen (Cerpen)

 

Sampul Cerita: Hermione (Kiri), Tirta Ningrum (Kanan), Brata Sanjaya, 
Abra Dintara.


[[ Find Me on Instagram: @defita_nur_rohmah



Langit Britania Raya yang biasanya kelabu mendadak terang disambar sinar keemasan. Semua mata di halaman Hogwarts mendongak saat seekor Garuda Putih raksasa, bersayap selebar lapangan Quidditch, menembus awan dan meluncur ke bawah. Sedang ujung bulu-bulunya berwarna merah kontras yang memikat.


Brata Sanjaya, makhluk sakral dari tanah Jawa, hinggap megah di pelataran kastel dengan kuku emas mencengkeram udara.


Di punggungnya berdiri sosok yang menggetarkan auranya: Abra Dintara Pemimpin Kedutaan Sihir Indonesia. Mantan panglima Keraton Sihir Mataram, kini penyambung lidah dunia Timur. Di belakangnya, sosok perempuan berbusana kebaya dan sari hijau mengilap turun dengan anggun. 


Tentu saja, kehadiran mereka hanya permulaan, lebih dari satu lusin pengawal di atas punggung Garuda yang dalam perjalanan menyusul. 


Dialah Putri Tirta Ningrum, darah murni klan penyihir tertua di Jawa—Tirta Wardani. Parasnya tenang seperti danau, tapi menyimpan pusaran kekuatan magis air dan kelenturan hati seorang diplomat. Sedang sorot matanya amat dalam, tapi meneduhkan.


Tapi ini bukan hanya diplomasi biasa. Mereka datang untuk meresmikan kerjasama antar-akademi: 

Sebuah konsolidasi internasional.

Hogwarts dan Akademi Kejawen.


Atau... Setidaknya itu yang mereka kira, jika semuanya berjalan lancar...

                             ***

Sementara itu, di balik menara bayangan, sepasang mata memperhatikan segalanya.


Mantan murid Hogwarts yang menghilang secara misterius bertahun-tahun silam, tersenyum tipis di balik jubah hitamnya. Sepasang ekor cicak transparan bersayap merambat dari ujung sepatunya, ke celana, dari balik jubahnya yang berkibar pelan. Sebelum akhirnya hinggap di pundak kirinya dan mulai saling memadu kasih. 


"Cece', Hemidac.. kalian hari ini sangat bergairah ya, Haha!" Pria itu melirik pundak kirinya dan menyeringai tipis. Kalian bahkan tak menghiraukan ku."

"Aku dengar di Indonesia.. cicak itu dianggap pembawa sial, nasib buruk bahkan kematian.. dan itu tidak salah... Kita akan kirimkan 'kematian' itu dengan cara yang amat menggairahkan..." 

Suaranya serak, matanya berkelebat licik.


                                ***

Aula Besar Hogwarts disulap jadi panggung diplomasi. Makanan lokal bercampur dengan sajian eksotis: pie labu berdampingan dengan nasi liwet, pudding berdampingan dengan... ceker ayam sambal korek. Beberapa siswa Hufflepuff menutup hidung.

Putri Tirta Ningrum pun menyeringai miring. Ia tahu betul bahwa ceker di kalangan penyihir Eropa adalah bahan ritual kuno, penuh tabu dan kekuatan.


Dia mengambil satu. Dengan tangan telanjang.


“Di tempat kami,” katanya sambil duduk tegak, “ceker bukan alat sihir. Ia adalah makanan nenek. Kami rebus. Kami sambal. Kami habiskan.” jelasnya dalam bahasa Inggris yang fasih tapi bercampur aksen medok.


Tepat setelah dia menggigit ceker itu... suasana berubah.


Langit aula mendadak mendung. Petir meletik di langit-langit. Seekor burung hantu pingsan di udara. Dinding batu Hogwarts bergetar pelan.


Kutukan aktif.


Hermione yang kini Kepala Departemen Pertahanan Sihir Internasional bangkit, matanya membelalak. “Itu... sihir Kematian Bertingkat! Dia akan—”


“Tenang,” potong Abra. “Biarkan ia hadapi sendiri.” Sergah Abra.

Tirta Ningrum menutup mata. Urat biru menyala di bawah kulitnya, membentuk aksara Jawa yang berputar.


Lalu—“Gleerr! 

Kedua maha siswa laki-laki hupplepuff bertubuh gempal refleks berpelukan saking kagetnya. 


Kutukan meledak menjadi serpihan angin dan terhisap masuk ke dalam tubuhnya. Ia membuka mata kembali dan menghela napas.


 “Lemah banget sih kutukannya. Kirain bakal bikin muntah darah atau apa gitu!”

Makinya dalam bahasa inggris dengan aksen medoknya. Semua orang tercengang, ternganga dan menjatuhkan sendok mereka serentak. Saking terkejut dan herannya. Tak terkecuali Hermione yang tak tahu harus berkata apa. Bahkan salah satu mahasiswa slitteryn gempal pingsan menggelesor dari tempat duduknya kemudian. 

"Huweek.."

 Putri Tirtaningrum refleks menutup mulutnya, malu tidak bisa menahan mual dan sendawanya. 


"Maafkan aku, kurasa.. aku perlu ke kamar mandi.. " sergahnya bangkit dari tempat duduk dan membungkuk ringan.


"Tidak perlu terlalu dekat menjagaku Abra, lagi pula itu bukan tugas utamamu, dan aku juga butuh privasi.." 


Sergah sang putri, ketika Abra hendak mengawalnya. Abra pun hanya menunduk dan mundur kembali beberapa langkah. 


                  ***

Langkah Putri Tirta Ningrum menggema di lorong batu Hogwarts yang sepi, di bawah cahaya obor yang bergetar oleh angin musim dingin. Bajunya berkibar perlahan, kebaya dan selendang hijaunya memantulkan pantulan kuning cahaya seperti kelopak bunga terendam bulan.


Ia sedang menuju Taman Herbal Hogwarts, mencari udara segar untuk meredakan energi dalam tubuhnya yang masih beresonansi akibat kutukan ceker. Nafasnya mulai tenang ketika tiba-tiba—langkah lain terdengar di belakangnya.


Pelan. Berat.

Dan... terlalu dekat.


 “Yang Mulia.."


Ia menoleh pelan.

Pumpey Sirius. Berdiri di ujung lorong. Matanya merah. Napasnya kasar. Senyumnya... bukan senyum diplomatik yang ia kenal. Tangannya gemetar, dan dari kerah jubahnya, aroma herbal memualkan menyeruak wangi yang ia kenali betul.


Aphrodiacum Jahannam!


Dunia tiba-tiba mengecil.

Jantungnya memukul dada seperti hendak kabur dari tubuh.


“Anda sendirian?” gumam Pumpey, langkahnya mendekat. “Kupikir... kita bisa membahas detail kerja sama ini... secara lebih intim. "


Putri mundur. Satu langkah. Dua langkah. Pundaknya menyentuh dinding dingin. Ia mencoba membuka mulut, tapi lidahnya kaku. Napasnya tercekat. Ingatan lama yang terkubur muncul ke permukaan—masa kecil, suara pintu dikunci, tangan-tangan yang tak ia kenal... dan bau itu. “Aku tahu aroma ini,” gumamnya. “Ini... aroma trauma.”

Seseorang dari klannya sendiri pernah menggunakan zat ini padanya dulu, di usia 12 tahun. Dan hanya keluarga yang tahu peristiwanya. Maka siapa pun yang meracik ini... adalah pengkhianat dalam darah.



"Berhenti,” desisnya.

Tapi Pumpey mengangkat tangan, nyaris menyentuh wajahnya.

 “Jangan takut... aku hanya ingin... merasakan kehangatan magis dari budaya kalian...”Aku sudah lama mengagumimu Yang Mulia...biarkan aku menyentuhmu sekali saja.."

“JANGAN SENTUH AKU!” Bantahnya.


Ia melemparkan segel mantra air—tapi tubuhnya tidak stabil, sehingga mantra meleset. Pumpey terus mendekat.


Lalu—BOOM!

Udara di sekitar mereka meledak seolah ditinju petir.


Sosok berjubah dan berjarik batik dengan mata membara berdiri di antara mereka. Abra Dintara.


Tangan kanannya menggenggam tongkat buluh kuning dan yang kini berdenyut seperti nadi naga. Sedang tangan kirinya menggenggam tombak.


 “Sentuh dia... dan kau akan menghabiskan sisa umurmu sebagai kecoak!” geramnya. Matanya merah. Suaranya menggema seperti dua suara bias bersamaan—satu manusia, satu dewa marah.


Pumpey terpental ke dinding. Pingsan. Aura aphrodisiak runtuh. Tapi Putri sudah terhuyung duduk di lantai. Lututnya lemas. Tangannya gemetar.


Abra berlutut.


Yang Mulia... maafkan aku... aku terlambat...”


Abra menggenggam bahunya, dan mengalirkan energi penenang dari mantra Kejawen: Seketir Jiwa. Tapi luka batin tak semudah itu sembuh.



                                          ***


Ruang Konsolidasi Hogwarts.

Abra Dintara berdiri di hadapan para petinggi. Mata merah. Rahang terkunci. Ia menatap Hermione dan delegasi Hogwarts. “Kami datang membawa damai. Tapi yang kami terima—kutukan dan percobaan pelecehan terhadap Putri klan tetua kami!"


Ia menurunkan dokumen kerja sama.

“Kejawen tidak akan tunduk pada sistem yang membiarkan perusaknya sendiri memimpin. Konsolidasi ini... BATAL!”


Seluruh ruangan gempar.


Putri Tirta ningrum masuk perlahan. Wajahnya sudah lebih tenang, tapi sorot matanya seperti air yang hampir mendidih. Ia menatap Abra.


“Jangan. Itu yang mereka mau. Jika kita mundur... kita kalah. Dan mereka menang... tanpa perlu sihir.”


"Apa maksud Anda, Yang Mulia?"

Belum sempat menjawab, tepat tengah malam. Seekor burung gagak meledak di langit, membawa surat kutukan yang menyala di udara.

Nama yang tertulis di atasnya:

OXELY CLAWS.

Tirta Ningrum menatap tajam. “Kita disabotase!”


Hermione berbisik, “Tidak mungkin..dia... dia adik tirinya Pumpy.” Dia telah menghilang hampir 2 dekade yang lalu..."

Dari kegelapan muncul sosok berjubah hitam. Wajah penuh luka. Mata berkilat hijau. 


"Bau ini....?!"  Gumam sang putri merinding. Secercak kesadaran menerpanya.


 “Oxely... kau—masih adik Pumpy Sirius!”


Oxely tertawa keras, wajahnya penuh luka dan amarah.


“Benar. Tapi dia tak pernah mengakuiku! Karena ibuku adalah darah lumpur! Aku anak haram! Dibuang! Disembunyikan! Sampai akhirnya aku menemukan rumahku di Klan Claws—keluarga penyihir buangan yang tahu bagaimana menyambut dendam!”


“Kau yang meracuni surat diplomasi Pumpey,” desis Abra.


“Aku juga mengutuk ceker ayammu,” sahut Oxely sambil tersenyum ke arah Tirta Ningrum. “Sayangnya... darah bangsawanmu terlalu kebal.”


Bodyguard sang Putri langsung siap siaga meringkus dan membawa paksa Oxely. Mendadak Profesor Raghor, guru ramuan Hogwarts, mengangkat tongkat dan mengarahkannya ke dada Abra Dintara. Mantra tak sempat dilontarkan—tongkat itu meleleh seketika, seperti lilin dalam lava. Di udara, aksara Jawa bersinar—dilontarkan dari tangan Putri Tirta Ningrum yang kini berdiri tegak, rambutnya menari ditiup angin. “Sirep pengkhianat... Tidurlah dalam rasa bersalahmu sendiri!"


Raghor terjatuh. Dari kantong jubahnya, tergelincir keluar gulungan surat diplomasi asli—yang sebenarnya sudah hilang dari dua minggu lalu. 


 Di hari kelima, setelah semua tersangka ditahan dan diberi penghakiman oleh Majelis Sihir Internasional, kerja sama akhirnya ditandatangani.


Mahasiswa Hogwarts akan diajari Mata kuliah khusus Ilmu Sihir Kejawen seperti Sirep, Rawa Ronce, dan Tameng Kala, sementara para siswa Kejawen akan belajar di Hogwarts tentang Patronus, Legilimency, dan Transfigurasi.      


Namun sebelum kembali, Hermione dan Abra sempat berdiri di atas menara tertinggi kastil. "Namun, hal ini tetaplah aneh.. bukankah begitu?" Tanya Hermione mengungkapkan keresahannya pada Abra. 

"Aku sangat mengenali Oxely.. Kebenciannya, ketakutannya terhadap kelemahan dan ambisinya akan pengakuan.. Ia mungkin lebih pendiam dari Draco... tapi jauh lebih agresif.. jika menilai dari karakternya.. sangat tidak mungkin kalau dia hanya memperkejakan dua orang..termasuk dirinya sendiri sebagai tumbal, apalagi jika ia benar-benar ingin megincar sang putri sejak awal, dia bukan orang dungu. Para pengawal mengelilingi sang putri. Mengapa memilih momen ini? 

"Bisa saja sabotase hanyalah permulaan.. 


" Aku mengerti kecemasan Anda.. tapi dari pihak kami juga belum bisa menemukan jejak atau bukti-bukti yang lebih mendukung.." Abra menimpali.

Jika prediksi Anda memang sesuai, mungkinkah... Oxely....hanyalah umpan..?"



Gimana menurut readers sendiri?☺️

Jangan lupa tulis di kolom komentar prediksi kalian ya!

A. Oxely Cuma Umpan dalam Kasus ini, Thor!😰

B. Hermione tuh Cuma Over Thinking, Thor! 🥱

C. Aku.. punya prediksi sendiri nih, Thor! 🤔🧐 


Kalau pilih yang C, selamat.. karena pikiran dan logika kalian sudah mulai kritis😉

Cerita akan dilanjutkan tiap minggunya apabila mencapai 100 pembaca/hari🥰🤩✨

So, jangan lupa Support Deftan ya!

Trakteer me, if you like the story and want support me in the link below👇

                                 https://trakteer.id/deftan


Kalau kamu juga suka baca Fiksi Sejarah coba baca Budak To-lo-mo, sebuah cerpen kritik sosial yang membahas intrik perbudakan dan pemiskinan petani di era Sui Kuno