Almari Takdir: Mahkamah Takdir-Nominasi 30 Cerpen Terbaik, Fun Bahasa (Def Tanoshii) Pendekatan Interkultural
Cerpen Chapter 14![]() |
| Ilustrasi: Arunika terjatuh dari tebing ketika berusaha menggapai Almari takdir |
“Andai saja takdir memang semudah itu dipilih.. selayaknya kau memilih pakaian dalam lemari.“ Tetapi nasib memang bisa kau undi dan pilih..“ Sedangkan takdir adalah keputusan mahkamah Hyang Widhi secara mutlak, yang tak bisa diganggu gugat..“
~Arunika Zatkova, Siberia, 15 Juli 2025.
Di kamar kecil dengan lampu kuning yang berkedut remang-remang, Arunika duduk di meja kayu belajarnya, jemarinya yang dingin menggenggam tepi laptop. Matanya, putih keabu-abuan seperti kabut di hutan Siberia, menatap layar login portal Stanford. Rambutnya yang gelap, panjang dan lebat dikepang menjuntai ke punggungnya. Olga, pelayan rumah yang sudah seperti keluarga, mondar-mandir tak sabar. "Arunika, klik saja. Apa pun hasilnya, kau tetap anak yang luar biasa!" ujar Olga sambil meletakkan nampan teh ke mejanya. Arunika menggeleng, "Aku sudah mengorbankan segalanya, Olga. Kalau gagal, apa artinya semua perjuanganku ini?" Arunika menjawabnya dalam bahasa Rusia fasih. Suaranya bergetar. Olga menepuk pundaknya lembut. "Hidup tak hanya tentang hasil. Lihatlah dirimu, kau sudah bekerja keras. Itu lebih dari cukup." Olga menjawabnya dalam bahasa yang sama.
Namun sebelum ia bisa mengumpulkan keberanian, suara teriakan dari ruang tamu membuatnya tersentak. "Bisnis ini sudah hancur, Irina! Semua itu salahmu!" suara ayahnya membahana, penuh amarah. "Dan kau pikir ide bodohmu itu lebih baik?!" balas ibunya. Arunika memejamkan mata. Tinjunya terkepal. Hati kecilnya protes. "Mereka selalu begini, bertengkar bahkan di saat-saat terpenting. Kadang aku bertanya-tanya pernakah sedikit saja mereka memedulikanku?" Untung saja orang tuanya bertengkar dalam bahasa inggris, yang tidak sepenuhnya dapat dipahami oleh Olga. Namun, tetap saja dari nada tinggi yang mereka gunakan untuk saling berteriak, orang awam pun pasti paham kalau keduanya sedang bertengkar.
Mujurnya Olga selalu bisa mencium ketidaknyamanannya, ia mengusap punggung tangan Arunika sebagai bentuk dukungan. Hal itu pun berhasil sedikit menghapus kegusaran gadis itu dan memantik api keberanian dalam dirinya. Ketika akhirnya ia membuka pengumuman, Bum! dunianya seolah runtuh. Namanya tidak ada di daftar penerima. Arunika menggigit bibir, menahan air mata yang mulai menggenang. "Tidak!" la menggebrak meja, membuat Olga tersentak. Tanpa menunggu, Arunika berlari keluar kamar, langsung ke ruang tamu. "Berhenti bertengkar!" teriaknya, suaranya pecah. "Aku juga gagal masuk Stanford! Kalian pikir dunia kalianlah yang satu-satunya hancur?!" Apakah dengan bertengkar sampai pagi masalah kalian akan selesai?!“ Berhentilah bersikap seperti anak kecil!“
“Saiki, tampa wae kuwi kabeh kaya panganan saben dina! Ngrasaen nganti kowé padha kulina!“ (Sekarang, terimalah hal itu seakan-akan semua itu adalah makanan sehari-hari, sampai kalian terbiasa!)
Arunika mengganti umpatannya dari bahasa inggris ke bahasa neneknya (Jawa) mengingat kehadiran Olga yang terpogoh-pogoh menyusulnya ke ruang tamu.
Kedua orang tuanya pun terdiam saling pandang, sebelum keduanya tertunduk malu. Namun, Arunika tak memberi mereka waktu untuk bicara. la berbalik berlari ke loteng, satu-satunya tempat yang bisa memberinya kedamaian. Loteng itu dipenuhi aroma kayu basah dan debu. Jendela setinggi tubuhnya, menampilkan pemandangan hutan Siberia yang lebat, mendung, dan berselimut kabut tebal. Jendela itu menjadi satu-satunya sumber penerangan. Arunika menjatuhkan diri di atas sofa tua, air matanya akhirnya tumpah. "Semua ini sia-sia..." gumamnya. “Usahaku?? Mimpiku??
Sejenak ia memandangi sekelilingnya. Loteng itu selalu sama seperti 12 tahun yang lalu, lukisan-lukisan antik berdebu, rak-rak buku di sudut ruangan, piringan-piringan hitam klasik serta gramofon dan proyektor film hitam putih. Yang paling menarik perhatiannya adalah lukisan pria tua, namun posturnya tetap bugar. Rambutnya sudah beruban begitu pula janggut dan kumisnya, memakai kaca mata lansia. Lencana Angkatan Laut Siberia terpampang gagah di dada sebelah kirinya. Hutan jati lebat yang asri menjadi latar lukisan vintage itu. Ia adalah kakeknya Mr. Sergei Dragunov, orang siberia tulen. Mata Arunika menelisik figurnya dari ujung atas sampai bawah kanvas, sebelum ia bangkit dari sofa lalu menyalakan gramofon, selama ini, lagu dan nyanyian selalu berhasil membuatnya tenang. Baru saja ia hendak berbalik ketika menyaksikan piringan hitam itu mulai berputar, sebelum kakinya tersandung sesuatu di atas karpet 'sebuah buku kulit'
Arunika membuka buku itu dan menemukan lirik dalam bahasa jawa kuno,‘‘Sing sapa wani ngadepi peteng, bakal nemu padhang sakdurunge fajar.” Ternyata Itu adalah Serat Wasita Jati milik neneknya, Serat itu memang berisi tembang-tembang dan mantra Jawa kuno yang bisa membuka Gerbang Mandhala, alam antara dunia dan akhirat tempat para leluhur dan penjaga takdir berkumpul, menurut pitutur neneknya. ‘‘Ayolah..Ini adalah abad -21, memangnya siapa yang masih percaya takhayul seperti ini?“ Arunika bergumam dan menyeringai skeptis. ‘‘Seandainya lagu-lagu ini memang ajaib, lebih baik lagi jika aku bisa bertemu penjaga takdir dan leluhur-leluhurku kemudian meminta mereka agar megubah takdir malangku.“ Pikiran liarnnya itu membuatnya merinding geli.
la mulai menyanyikan lagu itu perlahan, seperti yang pernah dilakukan neneknya untuk menidurkannya sewaktu kecil. Nada-nada itu mengalir, membawa kehangatan di tengah dinginnya ruangan. Lagu itu membuatnya mengantuk dan perlahan ia tertidur. Arunika terbangun oleh suara gemerisik dedaunan, la mendapati dirinya berada di tengah hutan pepohonan jati. Udara lembap menyelimuti kulitnya, dan rasa dingin menusuk tulang. "Di mana aku?" gumamnya, memandang sekeliling. Tiba-tiba, seorang wanita muncul dari balik pepohonan. Wanita itu mengenakan sarafan putih dengan sulaman emas dan merah lengkap dengan penutup kepala dan tudungnya rambut cokelat keemasannya dikepang panjang menjuntai ke salah satu pundaknya terlihat lebat. "Selamat datang, Arunika," katanya dengan suara lembut tapi penuh wibawa. Arunika bingung menoleh ke kanan dan kirinya. Dia seolah mendengar bias suara--dua suara wanita yang berbeda menyambut dan menyapanya secara bersamaan. Namun, ia hanya melihat ‘satu wanita‘ misterius di hadapannya ini. Alunan samar gamelan merayapi udara.
‘‘Oh.. apa kau lebih suka aku yang memakai sarafan?
Atau..“ Kemudian wanita itu berbalik ‘‘Kowé remen aku nganggo adat Jawa?‘‘
(Kamu lebih suka aku yang memakai adat jawa?“)
Ia berpakaian seperti putri bangsawan Jawa zaman mataram:
berkebaya hitam berhias batik parang rusak dan kalung koin emas,
rambutnya disanggul dan tatapannya setajam wayang.
Anurika pun tersentak dan berteriak spontan, ia merangsek mundur dari tempatnya ketakutan. Makhluk macam apa mereka!
"Siapa kalian?" tanya Anurika, waspada. Suaranya serak dan nafasnya masih tersengal ketakutan. Wanita itu akhirnya berbalik lagi, memperlihatkan wujud wanita memakai sarafan. "Aku Vasilisa, salah satu penjaga dan pengelola takdir di hutan ini.“ Kau telah melewati Gerbang Mandhala, dan kami adalah leluhurmu.“ Seperti yang kau ketahui leluhurmu dari garis ibu dan nenekmu berasal dari kejawen trah mataram dan dari ayahmu adalah trah Slavia Kuno.
‘‘Kau menginginkan impianmu, bukan? Aku bisa membantumu, tetapi hanya jika kau siap melewati tiga ujian."
Arunika menatap skeptis. Tiga ujian? Apakah ini mimpi? Atau Tuhan mengirimkan harapan terakhir?
"Kenapa aku harus percaya padamu?" tanyanya akhirnya.
. Meski setengah hati percaya, ia tetap tak mau menyia-nyiakan kesempatanya. Wanita itu tersenyum samar. "
Karena aku adalah gambaran dari apa yang kau cari: kesempatan, keberuntungan.
Tapi kesempatan tanpa usaha tidak ada artinya.
" Sama seperti halnya tidak ada keberuntungan yang akan kau raih tanpa kerja keras."
Arunika pun tersenyum sinis, teringat akan kegagalan yang tetap ia telan bahkan setelah semua kerja kerasnya.
. "Kurasa bagaimanapun juga aku tetap butuh sedikit keberuntungan", gumamnya.
"Dan aku adalah 'sedikit keberuntungan' mu itu."
Wanita misterius itu menatap tajam ke matanya, lalu tersenyum. Apakah ia berhalusinasi?
la merasa wanita di depannya barusan menjawabnya melalui pikirannya, ke dalam kepalanya?
mau tak mau kejadian ini meruntuhkan sedikit temboknya.
‘Sebelumnya kau beharap bertemu kami untuk mengubah takdirmu kan?“
Kalau begitu kami tidak bisa, karena kami bukanlah tuhan.
“ Yang mampu kami tawarkan kepadamu adalah ‘Sebuah pilihan dan kesempatan‘ untuk mengubah nasibmu.“
Wanita di hadapannya itu berbalik lagi, Menampilkan wujud wanita jawa berkebaya hitam.
“Ojo cilik ngati Le, Kowe ora kalah, Kowe mung durung wayahe menang.”
Arunika akhirnya mengangguk lemah setuju.
Glosarium
Bersambung di Part 2
Music: If You Fall I Will Carry You by Efisio Cross-Epic Music World
