Budak To-lo-mo: Cerpen Kritik Sosial dan Konspirasi Sejarah di era Sui Kuno

Budak To-lo-mo: Cerpen Kritik Sosial dan Konspirasi Sejarah di era Sui Kuno

 

To-Lo-Mo (Tarumanegara) Potrait
and Dharmawati


Halo, Geek-Lovers, Cerpen ini Deftan tulis sebagai bentuk ekspresi dan aspirasi akan keresahan sosial yang akhir-akhir ini menguji ketahanan pangan nasional Indonesia, terutama terkait isu Pemiskinan Petani akibat maraknya Pupuk Palsu atau Oplosan.

                                                                   ***

Desclimer: Cerita ini hanya fiktif semata, tidak berniat untuk menyerang atau menyinggung organisasi atau pihak manapun. Jika terdapat kesamaan kondisi atau kasus yang digambarkan dalam cerita ini yang bersinggungan dengan informasi faktual dan fakta sejarah, maka itu murni sebuah kebetulan.

Harapan penulis bagi khalayak adalah kita bisa melewati apapun yang menjadi keresahan kita bersama, dan menjadi lebih baik kedepannya. 



                                                                       


Distrik Wan-Fu, Sui Utara, 671 Masehi. 



Asap kelabu menyelimuti awan yang merona senja. Si Lidah oranye sudah menari-nari kenyang dan melahap semuanya.. termasuk kehidupan yang ada di dalamnya, hanya menyisakan remah-remah jelaga di udara. Kayu-kayunya sudah hancur menghitam dan atap jeraminya hanya tinggal separuh. Hanya dalam satu malam Penginapan: pabrik pupuk oplosan dan markas perbudakan ilegal itu lenyap di bawah kelambu malam.


Sejak awal, Tidak ada keuntungan yang didapatkan dari peperangan dan intrik yang mencapai kulminasinya di antara kedua kubu. Yang ada hanya tonggak kekuasaan yang berdiri di atas kolam darah..dan mayat-mayat daging segar yang diawetkan dengan salju.


Apakah akhirnya Suku Yin mendapatkan Karmanya? Suku Sui telah meringkus dan melahap mereka tanpa menyisakan sedikit daging pun di tulangnya.


Begitulah lingkaran setan dan siklusnya terus terulang.. dari sejarah demi sejarah, generasi demi generasi... Kedua kubu ingin saling menguasai...

Akhirnya kubu yang ditekan dan dipaksa tunduk, menolak untuk dijinakkan--dengan cara yang paling jinak. 


Berakting kooperatif, tapi menggerogoti sistem internal--hingga akarnya cukup busuk dan akhirnya tumbang.

Ia sendiri sudah cukup akrab dengan situasinya. Karena pernah mengalaminya sendiri. 


"Dan Rumah?" 

Bocah laki-laki lumayan ringkih itu mengerjapkan matanya yang keram dan sipit, gerimis salju memijat kulitnya yang pucat terang, hidungnya gatal tersedak arang dan jelaga, sesekali dia bersin menggosok hidungnya yang justru membuat wajahnya semakin cemong, anak laki-laki itu bangkit perlahan-lahan meringis dan menggigil kedinginan. Sudah habis waktu sandiwaranya. Rambut palsunya yang terbuat dari serabut kelapa halus yang di uap di atas tungku lalu ditempelkan dengan getah karet, sehingga ia terlihat seperti orang barat idolanya, kini sudah hangus terbakar. Ya, itu memang salahnya sendiri karena repot-repot memakai wig rambut panjang ditengah-tengah ledakan dan kebakaran malam itu. Sungguh mengenaskan.. padahal dia hanya ingin menikmati kehidupan bebasnya, walaupun itu hanya pura-pura: bermain sebagai seorang utusan dari barat, bukan karena ia benar-benar mengagumi mereka, tapi karena ia ingin memiliki kebebasan yang setara, sebelum dia dijual ke kaisar 2 bulan kemudian.. 


Bisa bersekolah, berlarian dan bermain bersama teman sebayanya. 

Umurnya menginjak 7 tahun sekarang, setidaknya dia 'sudah legal' untuk dijual menurut Konfusianis.


Pada Siang menjelang sore itu, Xue-mei sendiri sedang berlatih menulis kanji sederhana bersama dua teman kembarnya yang datang dari Henan 2 bulan yang lalu, Shen dan Zhi. Mereka belum cukup umur, jadi untuk sementara mereka belum layak dijual. Dan para budak wanita yang menganggur suka rela merawat dan mengasuh mereka demi tetap mendapat jatah makan.



Tapi, Tak di sangka malah ada kejutan besar seperti ini.. 


"Jika yang kau maksud rumah itu hanya berupa pondasi, tiang dengan atap.. maka itu tidak ada artinya. 

Rumah adalah diri kita sendiri, berupa 5 dimensi secara utuh. Jasad, Prana atau energi, Jiwa: pikiran dan emosi, Kebijaksanaan atau intuisi, dan batin atau hati. Maka jika atapnya berlubang dan pondasinya rapuh.. serupa pikiran dan jiwa kau harus menambal dan memperkuat keyakinanmu dengan iman.." 


"jika jiwa dan pikiranmu sedang sakit dan negatif sampai mempengaruhi jasad dan kesehatanmu, kau harus memperbaiki kebiasaanmu..."


"Jika atmosfer atau energi di lingkungan rumahmu itu terasa tidak nyaman dan negatif, carilah sumbernya: Orang-orang yang suka bergosip, rumor-rumor miring, lingkungan yang tidak produktif, apapun itu. Jauhilah.. Pergilah dari tempatmu, atau bangunlah benteng setinggi mungkin.. karena hal itu bisa mengganggu keseimbangan vibrasi dan pranamu, lalu mencabik-cabik fokusmu dalam hidup." 


"Kemudian, untuk selalu memperdalam intuisi dan kebijaksanaan.. layaknya membeli barang-barang baru untuk keperluan rumahmu, dan memperkuat nilainya. Teruslah berkembang dan bertumbuh Kumpulkan pengalaman.. dan jangan pernah takut akan hal itu." 


"Jika biliknya kotor dan berantakan serupa hatimu dan batinmu, kau harus merapikannya, menatanya kembali dan membersihkannya.. dekatkan diri pada yang kuasa, sampai akhirnya batinmu menemukan kedamaian dan merasa utuh.. saat itulah kau adalah 5 dimensi yang sempurna. Manusia seutuhnya..."


"begitulah yang kusebut rumah, itu adalah Jasadmu, vibrasimu, jiwamu, pikiranmu, emosimu, dan batinmu.. "


"Jika kau mengganggap rumah hanya sebatas properti yang disediakan sebagai sarana, keluarga, cinta dan kehangatan.. maka itu salah besar, karena bahkan kau yang paling mampu mencintai dirimu sendiri.. terlepas dari seberapa banyak yang dunia telah renggut darimu.. dan kejamnya tuhan mengundi nasibmu.." 

Kata-kata itu pun terngiang kembali. 


Kata-kata Laki-laki berkulit sawo matang dengan tubuh yang anehnya sedikit terlalu gemuk ketimbang atletis sebagai seorang budak kasar, pakaian dari kain kapas kasar yang kusam, sandal jerami dan rambutnya yang hitam legam disaggul ke atas dengan kain putih lusuh. Pipinya juga terlihat lumayan gempal. Bahkan ada rumor yang beredar bahwa pria ini sebenarnya bukan budak. Melainkan, tuan pemilik tanah yang mengurusi perdagangan budak ini. Namun, dengan sifatnya yang penyayang, serta nasihatnya yang terkadang terasa terlalu spiritual. Rasanya, sangat sulit untuk mempercayai rumor itu dan mengecapnya sebagai kriminal kelas kakap yang menjual orang-orangnya sendiri pada kaisar. Dan,

 xuě mèi sendiri, tak peduli akan hal itu.


Laki-laki itu sesekali mencelupkan kelingkingnya ke arang cair dan mulai menggores-goreskan kelingkingnya ke secarik kertas kusam. Seolah-olah tengah menulis. 


"Malahan..makin banyak anak panah dan tombak yang menusuk punggungmu, justru ketahananmu terhadap rasa sakit dan lukanya akan makin menebal lho, Mei..haha"


Laki-laki itu berujar lagi, tertawa dengan renyahnya. Meskipun di mata Xue-mei, sangat kentara ada sekelumit sarkasme dalam ucapannya.


xuě mèi sangat paham perasaan itu. Jadi, alih-alih membiarkan pembicaraan itu semakin tenggelam, dia memutuskan untuk mengubah topik.


"Kau tidak punya kuas ya, kak? apa yang kau lakukan aku baru tahu kalau kau bisa menulis.. hēi xiōng.." (kakak hitam)


Ia menghampiri meja kakaknya dan berjinjit mengangkat tumitnya untuk mengintip. Huruf huruf berbentuk aneh yang berlekuk-lekuk terpampang di kertasnya.


"To-lo-mo?" 


Laki-laki berkulit sawo matang itu langsung menghentikan aktivitasnya dan menyingkirkan kertasnya begitu mendengar kata yang meluncur dari mulut adiknya.


"Aku tak percaya kalau kakak benar-benar non-Sui, sama sepertiku."

"Benarkah? Bukankah sudah sangat terukir dalam wajahku?" Kakaknya itu hanya tersenyum simpul penuh konspirasi, mengembalikan pertanyaannya. 


xuě mèi belum sempat menenggak pertanyaannya, ketika seorang budak atletis lain memanggil kakaknya. Dengan panggilan aneh. "Dharma!" 

Budak laki-laki itu cepat-cepat berlari menghampirinya dan berbisik ke telinganya. Roman kakaknya sekejap terkejut, tapi berganti senyum bahagia kemudian. "Dia berhasil?" 

Teman kakaknya itu mengangguk-angguk antusias, membukakan sebuah kantong kain lusuh kecil di atas meja. Di dalamnya, ada serbuk bubuk merah halus. Lantas, kakaknya itu mengambil sekelumit, merasakan teksturnya dan mulai mengendus aromanya. 


"Batu bata ini teksturnya sangat halus ya, wajar saja jika para petani sulit membedakannya dengan iron." Takarnya.


"Ada berapa titik pasar lokal yang menjual barang oplosan ini?"   


"Kurang lebih ada 3 titik utama, 2 di antaranya termasuk pasar di pelabuhan, dari Luoyang, Yangzhou ke Guangzhou." Dari jalur laut, ada 2 perhentian lagi sebelum sampai ke Shi li Foshi (Sriwijaya) dan To-lo-mo ( Tarumanagara)

"Dari barat pedagang-pedagang dari Kashgar mengangkut barang-barang dagangannya ke pelabuhan di teluk." 


"Begitu rupanya." Kakaknya itu mendesah letih. Melemparkan punggung dan kepalanya ke sandaran kursi.

"Aku tak menyangka kalau pria tua itu bisa selapar ini.. ini tak hanya soal kesejahteraan petani, tapi juga menyangkut ketahanan pangan nasional yang dipertaruhkan..." 

"Tikus Ko-no-ha bajingan! Berani sekali mengorbankan hidup rakyat yang lemah.. demi kepentingan isi perut sendiri!" Kakaknya melampiaskan amarahnya dalam satu tendangan tangkas, meja kerja kayunya pun jatuh berdebum dan remuk di hadapan semua orang. Membuat semua orang tercekat. Sedangkan kakaknya itu bahkan  belum bergerak bangkit sejengkalpun dari kursinya.


"Begitu rupanya. Memakai jalur sutra dari kedua arah. Jalur laut sebelah selatan dan jalur darat dari arah barat." 


xuě mèi bergumam pada dirinya sendiri. 


Sejak usia 3 tahun, di tengah tragedi sengketa kedaulatan dan kolonialisme itu mulai meletus, ia memang mulai sering diajarkan lokasi-lokasi strategis perdagangan seperti itu oleh ayahnya.  

Tujuannya bukan untuk main-main, tetapi sebagai sarana edukasi titik-titik regional strategis dan transit darurat. Jika suatu saat suatu hal, seperti konfrontasi itu terjadi. Mengingat situasi politik eksternal yang tidak stabil di negaranya saat itu. Sejak awal, memang perdagangan itu tak hanya mengangkut komoditas barang non-hidup saja, tetapi juga manusia. Sebenarnya perbudakan bisa menjadi legal jika melalui kelembagaan resmi, seperti pengiriman bantuan ketenaga kerjaan lewat diplomasi antar negara. Dan juga perlindungan akan hak-hak dan kesejahteraan mereka kala dijual dan merantau di negeri orang.


 Kini, Ia bisa mengerti keputusan tergesa-gesa ayahnya, yang sengaja menyelundupkannya ke peti-peti jagung dan kedelai asalkan dia tetap hidup. Jika, menimbang situasi politik dan angka harapan hidupnya, Kekaisaran Sui adalah yang paling aman. Meskipun, ia akan dijual ke kaisar sebagai budak atau peliharaan hingga dewasa, setidaknya ini masih jauh lebih manusiawi ketimbang di negaranya sendiri karena memperhatikan legalitas usia minimal anak yang diambil sebagai budak dan kesejahteraan mereka. Selama mereka tetap tunduk dan tidak melanggar hukum atau melakukan kesalahan fatal yang sering berujung esekusi.  



Situasinya, Berbanding terbalik dengan negaranya. Mendengar teriakan, tangisan, ledakan bom dan mesiu, senapan-senapan yang tak henti-hentinya menghujam di udara bahkan di waktu tidurnya. Itu, sudah bukan hal asing. Banyak yang melawan, tapi tak sedikit pula yang tumbang tanpa akar.


" Tidak ada waktu lagi Dharma!" Teriak budak atletis lainnya dalam logat Tiongkok kental. 


Teriakan itu berhasil membuyarkan semua lamunannya dalam satu kilatan.


"Ada apa, hēi xiōng?" (Kakak hitam)


Kakaknya itu terlihat terpaku dan membeku di tempat selama beberapa saat, menatap temannya. Hingga tiba-tiba ia bersimpuh dan meraih tangan Xue-mei dengan sangat putus asa.


"Kau harus ikut aku xuě mèi..!" Ekspresinya sendiri sulit ditebak, Bahagia? penuh harap sekaligus ketakutan? 


Belum lagi Xue-mei dapat mencerna apa yang terjadi, budak yang tadi meneriaki kakaknya itu telah menariknya paksa dan terburu-buru.


"Jaga dirimu dan tetaplah hidup xuě mèi! Berjanjilah padaku!" 


Teriakan itulah yang membuat telinganya bergetar dan akhirnya membangunkannya dari tidur tak berujungnya tadi. 


Dan, sekarang inilah realita baru yang terjadi dan tak dapat dihindari ketika ia bangun.


Tidak ada yang dapat dimakan.. yang ada adalah binatang liar yang mengganas karena kelaparan..Serigala, rubah, babi hutan.. dia bisa jadi mangsa kapanpun..meskipun, setidaknya dia tidak perlu takut dengan beruang yang berhibernasi. 


Seperti yang dikatakan kakaknya. Budak To-lo-mo yang sepertinya bukan budak biasa karena bahkan bisa menulis. Tapi, Telik Sandi. Setidaknya kau harus tetap bertahan hidup. meskipun itu berarti dengan memakan salju di kakimu sepanjang jalan. Setidaknya.. kesimpulan seperti itu lebih masuk akal dan mudah diterima, baginya.


Matanya menyipit, dari kejauhan ia bisa melihat sesuatu yang berjalan dan bergerak ditarik oleh unta-unta Baktria. Dan seseorang yang amat dikenalnya pun melambai-lambai dan berlari ke arahnya.


Itu kakak hitamnya....


Matanya pun terbelalak.

Ikatan sanggulnya yang diikat di atas kepala terlepas saat ia berlari menghampirinya. Kini ia jadi terlihat seperti gadis ketimbang lelaki gempal dengan rambut panjang tergerainya. 

 hanya dua hal yang tidak berubah, tahi lalat kecil di bawah pelipisnya dan lesung pipi di kedua pipinya yang kini terlihat tirus dengan sangat mencurigakan. 


Kakaknya pun langsung mendekapnya dalam pelukan yang hangat. 


"Syukurlah kau selamat..." 


xuě mèi tak bergeming, selama beberapa saat. Energi Chi-nya belum terkumpul sepenuhnya. Ketika dia mulai merasakan ada sesuatu yang menonjol menekan pipinya, ia pun tersentak. Dia mulai meraba-raba dada kakaknya untuk memastikan. Dan, sensasinya serasa kesambar petir. Ia Menelan ludahnya sendiri. Ini kan...?!


Tak lama kemudian, sesuatu terasa menyengat dan mengapit telinganya. Ia pun melirik pasrah menatap kakaknya itu.


"Aku tahu... Kau pasti sangat terkejut karena baru tahu rahasia ini... Sayangnya, aku memang perempuan." Kakaknya itu tersenyum sadis, sangat kentara kalau dia sedang berusaha memakluminya. Tangannya pun masih menjewer satu telinganya. Meskipun tidak sakit, lebih seperti peringatan esekusi.


Wajah xuě mèi semakin pucat, tenggorokannya tercekat, sekali lagi ia menelan ludahnya sendiri, tak mampu berkata apa-apa.


Trivia: 


1. Tokoh xuě mèi adalah non-Sui sama seperti Dharma. Ia diberi nama xuě mèi dalam bahasa Tiongkok yang berarti "adik Salju" oleh Dharma, karena kulitnya yang terang seputih salju. Latar belakang keluarga xuě mèi sendiri adalah seorang pedagang pengembara yang kaya. Namun, semua itu berubah ketika keluarganya kembali ke tanah airnya pasca 2 tahun kelahirannya. Setelah berdagang dan mengembara selama beberapa tahun. Saat itu, kondisi tanah airnya sudah berubah drastis akibat konflik perang yang terus meletus. Keluarganya pun harus hidup di bawah tekanan dan eksploitasi sumber daya dan pangan oleh pihak kolonialis yang melakukan kblokade regional. Karena hal itu, keluarganya tidak bisa melarikan diri dan berpergian. Namun, hidupnya pun berubah semenjak ayahnya membuat keputusan berani dengan menyelundupkannya ke peti-peti dagangan untuk menyelamatkan hidupnya.


2. Tokoh Dharma, bernama lengkap Dharmawati, ia adalah seorang putri Tarumanagara, salah satu kerajaan kuno Jawa dari penguasa dan raja terakhirnya.

  Ia menyamar sebagai budak pria demi menginvestigasi perdagangan pupuk palsu atau oplosan dan membebaskan rakyatnya dari jeratan perbudakan gelap yang dilakukan oleh aparat tirani ayahnya sendiri. Akibat muak dengan korupsi berantai yang telah menyengsarakan rakyatnya, ia pun berkonsolidasi dengan kerajaan Galuh dengan menukar gelar kebangsawanan dan martabatnya sekaligus mengukuhkan independensi lahirnya kerajaan ini, lalu resmi membubarkan Tarumanagara kemudian, demi memutus siklus tirani.

3. Mengapa tiba-tiba Dharma dan budak-budak lainnya terlihat panik sebelum tragedi pembumi hangusan markas perbudakan dan pupuk meletus, Sebenarnya apa yang terjadi?

 Di sinilah konspirasinya dimulai. FYI, budak-budak atau sumber daya manusia yang direkrut untuk menjalankan aktivitas gelap ini, adalah etnis asli Sui, kebanyakan mereka adalah orang-orang yang pernah hampir dijatuhi hukuman mati atau esekusi oleh kaisar Sui. Tetapi kebanyakan kematiannya dimanipulasi oleh Suku Yin dan dijadikan budak peliharaan yang setia pada mereka. Sehingga begitu tipu daya dan fakta ini terkuak, kaisar sangat marah dan memerintahkan regu pasukan elitnya untuk memburu dan memberantas penghianat itu tanpa ampun. Namun, kebanyakan budak to-lo-mo yang terlibat tidak mengetahui aktivitas-aktivitas ilegal ini, mereka sengaja diselundupkan sedari awal oleh Suku Yin untuk bekerja sebagai "house keeper" atau pembantu di markas perbudakan sekaligus pabrik pupuk palsu yang disamarkan sebagai tempat transit pelancong dan penginapan tersebut. Sehingga mereka tetap mendapatkan pengampunan dari kaisar sekaligus mendapatkan permintaan maaf atas ketidak cakapannya dalam menilai situasi. Karena hal itu, mereka diberikan ultimatum dan kesempatan untuk melarikan diri.


If you like this story and want to support me, you can Trakteer me in the link below👇

                                    https://trakteer.id/deftan


Harry Potter: Hogwarts & didikan Kejawen (Cerpen)

Harry Potter: Hogwarts & didikan Kejawen (Cerpen)

 

Sampul Cerita: Hermione (Kiri), Tirta Ningrum (Kanan), Brata Sanjaya, 
Abra Dintara.


[[ Find Me on Instagram: @defita_nur_rohmah



Langit Britania Raya yang biasanya kelabu mendadak terang disambar sinar keemasan. Semua mata di halaman Hogwarts mendongak saat seekor Garuda Putih raksasa, bersayap selebar lapangan Quidditch, menembus awan dan meluncur ke bawah. Sedang ujung bulu-bulunya berwarna merah kontras yang memikat.


Brata Sanjaya, makhluk sakral dari tanah Jawa, hinggap megah di pelataran kastel dengan kuku emas mencengkeram udara.


Di punggungnya berdiri sosok yang menggetarkan auranya: Abra Dintara Pemimpin Kedutaan Sihir Indonesia. Mantan panglima Keraton Sihir Mataram, kini penyambung lidah dunia Timur. Di belakangnya, sosok perempuan berbusana kebaya dan sari hijau mengilap turun dengan anggun. 


Tentu saja, kehadiran mereka hanya permulaan, lebih dari satu lusin pengawal di atas punggung Garuda yang dalam perjalanan menyusul. 


Dialah Putri Tirta Ningrum, darah murni klan penyihir tertua di Jawa—Tirta Wardani. Parasnya tenang seperti danau, tapi menyimpan pusaran kekuatan magis air dan kelenturan hati seorang diplomat. Sedang sorot matanya amat dalam, tapi meneduhkan.


Tapi ini bukan hanya diplomasi biasa. Mereka datang untuk meresmikan kerjasama antar-akademi: 

Sebuah konsolidasi internasional.

Hogwarts dan Akademi Kejawen.


Atau... Setidaknya itu yang mereka kira, jika semuanya berjalan lancar...

                             ***

Sementara itu, di balik menara bayangan, sepasang mata memperhatikan segalanya.


Mantan murid Hogwarts yang menghilang secara misterius bertahun-tahun silam, tersenyum tipis di balik jubah hitamnya. Sepasang ekor cicak transparan bersayap merambat dari ujung sepatunya, ke celana, dari balik jubahnya yang berkibar pelan. Sebelum akhirnya hinggap di pundak kirinya dan mulai saling memadu kasih. 


"Cece', Hemidac.. kalian hari ini sangat bergairah ya, Haha!" Pria itu melirik pundak kirinya dan menyeringai tipis. Kalian bahkan tak menghiraukan ku."

"Aku dengar di Indonesia.. cicak itu dianggap pembawa sial, nasib buruk bahkan kematian.. dan itu tidak salah... Kita akan kirimkan 'kematian' itu dengan cara yang amat menggairahkan..." 

Suaranya serak, matanya berkelebat licik.


                                ***

Aula Besar Hogwarts disulap jadi panggung diplomasi. Makanan lokal bercampur dengan sajian eksotis: pie labu berdampingan dengan nasi liwet, pudding berdampingan dengan... ceker ayam sambal korek. Beberapa siswa Hufflepuff menutup hidung.

Putri Tirta Ningrum pun menyeringai miring. Ia tahu betul bahwa ceker di kalangan penyihir Eropa adalah bahan ritual kuno, penuh tabu dan kekuatan.


Dia mengambil satu. Dengan tangan telanjang.


“Di tempat kami,” katanya sambil duduk tegak, “ceker bukan alat sihir. Ia adalah makanan nenek. Kami rebus. Kami sambal. Kami habiskan.” jelasnya dalam bahasa Inggris yang fasih tapi bercampur aksen medok.


Tepat setelah dia menggigit ceker itu... suasana berubah.


Langit aula mendadak mendung. Petir meletik di langit-langit. Seekor burung hantu pingsan di udara. Dinding batu Hogwarts bergetar pelan.


Kutukan aktif.


Hermione yang kini Kepala Departemen Pertahanan Sihir Internasional bangkit, matanya membelalak. “Itu... sihir Kematian Bertingkat! Dia akan—”


“Tenang,” potong Abra. “Biarkan ia hadapi sendiri.” Sergah Abra.

Tirta Ningrum menutup mata. Urat biru menyala di bawah kulitnya, membentuk aksara Jawa yang berputar.


Lalu—“Gleerr! 

Kedua maha siswa laki-laki hupplepuff bertubuh gempal refleks berpelukan saking kagetnya. 


Kutukan meledak menjadi serpihan angin dan terhisap masuk ke dalam tubuhnya. Ia membuka mata kembali dan menghela napas.


 “Lemah banget sih kutukannya. Kirain bakal bikin muntah darah atau apa gitu!”

Makinya dalam bahasa inggris dengan aksen medoknya. Semua orang tercengang, ternganga dan menjatuhkan sendok mereka serentak. Saking terkejut dan herannya. Tak terkecuali Hermione yang tak tahu harus berkata apa. Bahkan salah satu mahasiswa slitteryn gempal pingsan menggelesor dari tempat duduknya kemudian. 

"Huweek.."

 Putri Tirtaningrum refleks menutup mulutnya, malu tidak bisa menahan mual dan sendawanya. 


"Maafkan aku, kurasa.. aku perlu ke kamar mandi.. " sergahnya bangkit dari tempat duduk dan membungkuk ringan.


"Tidak perlu terlalu dekat menjagaku Abra, lagi pula itu bukan tugas utamamu, dan aku juga butuh privasi.." 


Sergah sang putri, ketika Abra hendak mengawalnya. Abra pun hanya menunduk dan mundur kembali beberapa langkah. 


                  ***

Langkah Putri Tirta Ningrum menggema di lorong batu Hogwarts yang sepi, di bawah cahaya obor yang bergetar oleh angin musim dingin. Bajunya berkibar perlahan, kebaya dan selendang hijaunya memantulkan pantulan kuning cahaya seperti kelopak bunga terendam bulan.


Ia sedang menuju Taman Herbal Hogwarts, mencari udara segar untuk meredakan energi dalam tubuhnya yang masih beresonansi akibat kutukan ceker. Nafasnya mulai tenang ketika tiba-tiba—langkah lain terdengar di belakangnya.


Pelan. Berat.

Dan... terlalu dekat.


 “Yang Mulia.."


Ia menoleh pelan.

Pumpey Sirius. Berdiri di ujung lorong. Matanya merah. Napasnya kasar. Senyumnya... bukan senyum diplomatik yang ia kenal. Tangannya gemetar, dan dari kerah jubahnya, aroma herbal memualkan menyeruak wangi yang ia kenali betul.


Aphrodiacum Jahannam!


Dunia tiba-tiba mengecil.

Jantungnya memukul dada seperti hendak kabur dari tubuh.


“Anda sendirian?” gumam Pumpey, langkahnya mendekat. “Kupikir... kita bisa membahas detail kerja sama ini... secara lebih intim. "


Putri mundur. Satu langkah. Dua langkah. Pundaknya menyentuh dinding dingin. Ia mencoba membuka mulut, tapi lidahnya kaku. Napasnya tercekat. Ingatan lama yang terkubur muncul ke permukaan—masa kecil, suara pintu dikunci, tangan-tangan yang tak ia kenal... dan bau itu. “Aku tahu aroma ini,” gumamnya. “Ini... aroma trauma.”

Seseorang dari klannya sendiri pernah menggunakan zat ini padanya dulu, di usia 12 tahun. Dan hanya keluarga yang tahu peristiwanya. Maka siapa pun yang meracik ini... adalah pengkhianat dalam darah.



"Berhenti,” desisnya.

Tapi Pumpey mengangkat tangan, nyaris menyentuh wajahnya.

 “Jangan takut... aku hanya ingin... merasakan kehangatan magis dari budaya kalian...”Aku sudah lama mengagumimu Yang Mulia...biarkan aku menyentuhmu sekali saja.."

“JANGAN SENTUH AKU!” Bantahnya.


Ia melemparkan segel mantra air—tapi tubuhnya tidak stabil, sehingga mantra meleset. Pumpey terus mendekat.


Lalu—BOOM!

Udara di sekitar mereka meledak seolah ditinju petir.


Sosok berjubah dan berjarik batik dengan mata membara berdiri di antara mereka. Abra Dintara.


Tangan kanannya menggenggam tongkat buluh kuning dan yang kini berdenyut seperti nadi naga. Sedang tangan kirinya menggenggam tombak.


 “Sentuh dia... dan kau akan menghabiskan sisa umurmu sebagai kecoak!” geramnya. Matanya merah. Suaranya menggema seperti dua suara bias bersamaan—satu manusia, satu dewa marah.


Pumpey terpental ke dinding. Pingsan. Aura aphrodisiak runtuh. Tapi Putri sudah terhuyung duduk di lantai. Lututnya lemas. Tangannya gemetar.


Abra berlutut.


Yang Mulia... maafkan aku... aku terlambat...”


Abra menggenggam bahunya, dan mengalirkan energi penenang dari mantra Kejawen: Seketir Jiwa. Tapi luka batin tak semudah itu sembuh.



                                          ***


Ruang Konsolidasi Hogwarts.

Abra Dintara berdiri di hadapan para petinggi. Mata merah. Rahang terkunci. Ia menatap Hermione dan delegasi Hogwarts. “Kami datang membawa damai. Tapi yang kami terima—kutukan dan percobaan pelecehan terhadap Putri klan tetua kami!"


Ia menurunkan dokumen kerja sama.

“Kejawen tidak akan tunduk pada sistem yang membiarkan perusaknya sendiri memimpin. Konsolidasi ini... BATAL!”


Seluruh ruangan gempar.


Putri Tirta ningrum masuk perlahan. Wajahnya sudah lebih tenang, tapi sorot matanya seperti air yang hampir mendidih. Ia menatap Abra.


“Jangan. Itu yang mereka mau. Jika kita mundur... kita kalah. Dan mereka menang... tanpa perlu sihir.”


"Apa maksud Anda, Yang Mulia?"

Belum sempat menjawab, tepat tengah malam. Seekor burung gagak meledak di langit, membawa surat kutukan yang menyala di udara.

Nama yang tertulis di atasnya:

OXELY CLAWS.

Tirta Ningrum menatap tajam. “Kita disabotase!”


Hermione berbisik, “Tidak mungkin..dia... dia adik tirinya Pumpy.” Dia telah menghilang hampir 2 dekade yang lalu..."

Dari kegelapan muncul sosok berjubah hitam. Wajah penuh luka. Mata berkilat hijau. 


"Bau ini....?!"  Gumam sang putri merinding. Secercak kesadaran menerpanya.


 “Oxely... kau—masih adik Pumpy Sirius!”


Oxely tertawa keras, wajahnya penuh luka dan amarah.


“Benar. Tapi dia tak pernah mengakuiku! Karena ibuku adalah darah lumpur! Aku anak haram! Dibuang! Disembunyikan! Sampai akhirnya aku menemukan rumahku di Klan Claws—keluarga penyihir buangan yang tahu bagaimana menyambut dendam!”


“Kau yang meracuni surat diplomasi Pumpey,” desis Abra.


“Aku juga mengutuk ceker ayammu,” sahut Oxely sambil tersenyum ke arah Tirta Ningrum. “Sayangnya... darah bangsawanmu terlalu kebal.”


Bodyguard sang Putri langsung siap siaga meringkus dan membawa paksa Oxely. Mendadak Profesor Raghor, guru ramuan Hogwarts, mengangkat tongkat dan mengarahkannya ke dada Abra Dintara. Mantra tak sempat dilontarkan—tongkat itu meleleh seketika, seperti lilin dalam lava. Di udara, aksara Jawa bersinar—dilontarkan dari tangan Putri Tirta Ningrum yang kini berdiri tegak, rambutnya menari ditiup angin. “Sirep pengkhianat... Tidurlah dalam rasa bersalahmu sendiri!"


Raghor terjatuh. Dari kantong jubahnya, tergelincir keluar gulungan surat diplomasi asli—yang sebenarnya sudah hilang dari dua minggu lalu. 


 Di hari kelima, setelah semua tersangka ditahan dan diberi penghakiman oleh Majelis Sihir Internasional, kerja sama akhirnya ditandatangani.


Mahasiswa Hogwarts akan diajari Mata kuliah khusus Ilmu Sihir Kejawen seperti Sirep, Rawa Ronce, dan Tameng Kala, sementara para siswa Kejawen akan belajar di Hogwarts tentang Patronus, Legilimency, dan Transfigurasi.      


Namun sebelum kembali, Hermione dan Abra sempat berdiri di atas menara tertinggi kastil. "Namun, hal ini tetaplah aneh.. bukankah begitu?" Tanya Hermione mengungkapkan keresahannya pada Abra. 

"Aku sangat mengenali Oxely.. Kebenciannya, ketakutannya terhadap kelemahan dan ambisinya akan pengakuan.. Ia mungkin lebih pendiam dari Draco... tapi jauh lebih agresif.. jika menilai dari karakternya.. sangat tidak mungkin kalau dia hanya memperkejakan dua orang..termasuk dirinya sendiri sebagai tumbal, apalagi jika ia benar-benar ingin megincar sang putri sejak awal, dia bukan orang dungu. Para pengawal mengelilingi sang putri. Mengapa memilih momen ini? 

"Bisa saja sabotase hanyalah permulaan.. 


" Aku mengerti kecemasan Anda.. tapi dari pihak kami juga belum bisa menemukan jejak atau bukti-bukti yang lebih mendukung.." Abra menimpali.

Jika prediksi Anda memang sesuai, mungkinkah... Oxely....hanyalah umpan..?"



Gimana menurut readers sendiri?☺️

Jangan lupa tulis di kolom komentar prediksi kalian ya!

A. Oxely Cuma Umpan dalam Kasus ini, Thor!😰

B. Hermione tuh Cuma Over Thinking, Thor! 🥱

C. Aku.. punya prediksi sendiri nih, Thor! 🤔🧐 


Kalau pilih yang C, selamat.. karena pikiran dan logika kalian sudah mulai kritis😉

Cerita akan dilanjutkan tiap minggunya apabila mencapai 100 pembaca/hari🥰🤩✨

So, jangan lupa Support Deftan ya!

Trakteer me, if you like the story and want support me in the link below👇

                                 https://trakteer.id/deftan


Kalau kamu juga suka baca Fiksi Sejarah coba baca Budak To-lo-mo, sebuah cerpen kritik sosial yang membahas intrik perbudakan dan pemiskinan petani di era Sui Kuno


Short Story: Surat Kapal (The Paper Ship Letters by Deftan)

Short Story: Surat Kapal (The Paper Ship Letters by Deftan)

 Genere: Fantasi, Sci-fi, Misteri, Fiksi-remaja, anak-anak

 Penulis: Def Tanoshii

Surat Kapal

Sebut saja seorang anak laki-laki yang berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Ia langsung menutup pintu kamar di belakangnya dan memutar engsel pintu ke kanan sampai terdengar bunyi klik dua kali. Pada saat itu, lampu indikator yang ada di bawahnya akan berkedip merah maka pintu pun terkunci. Tirai gorden berkepak-kepak diserang angin hujan yang ganas di atas ranjang dari seberang ruangan membuat sambaran petir semakin terdengar jelas dan kilatannya menyakiti penglihatan si bocah laki-laki itu.


Ia menyipitkan matanya dan berusaha mendekat ke tirai, angin bercampur derai hujan lebat dan tak jarang kerikil menerkam wajahnya dengan membabi buta. Namun, ia tak mudah menyerah karena hal kecil seperti itu, ia berusaha menggapai kedua sayap jendela yang telah terbanting-banting oleh angin dengan naik ke ranjang lalu menutupnya. Kemudian menggeser tirainya yang telah basah untuk  menutupi kilatan petir yang menyakiti mata itu. la  menindih ujungnya dengan bantal, berjaga-jaga. Meskipun drama seperti tadi tidak mungkin terjadi selama jendelanya masih tertutup dengan rapat. Ha,ha sisi logisku melemah saat menulis bagian ini.


Tapi tidak berlaku bagi bocah laki-laki itu, karena menurutku tindakannya itu berdasar dari spontanitasnya. Dan sekarang bocah laki-laki itu rambutnya kusut dan basah kuyup ia terbersin kecil dan menggosok hidungnya yang gatal, sesuatu baru saja mengaktifkan memorinya yang membawanya ke adegan di malam sebelumnya.


Responsnya, sekarang ia berhenti menggosok hidungnya, turun dari ranjang dan berlari menuju meja belajarnya ia menarik sebuah kursi kayu bersandar, duduk sembari  beberapa saat menggosok-gosokan kedua telapak tangannya yang terasa dingin, rupanya masih belum cukup hangat meskipun ia telah mengenakan piama di dalam balutan jaket fleece armynya. Ia mengambil sesuatu dari laci sebuah buku berwarna cokelat yang usang, dan segera membuka lembar pertama yang masih kosong. Kertasnya berwarna keemasan-berpola membawa serangkaian kesan estetika seni yang tinggi.


Sekejap saja semburat wajahnya semakin bergairah ketika ia mendengar dentangan lonceng  jam dari bawah, ruang keluarga. Loncengnya berdentang sebanyak delapan kali. Kembang api meluncur keluar dari kepalanya, tepat pukul 20.00 P.M atau delapan malam


Sekarang tangannya mulai menyusun rangkaian frasa ini untukmu,

 

Kakekku Tersayang, Tuan Tetra yang menawan.

 

Paket buku-surat darimu telah aku terima, jadi sekarang, kita bisa memulai komunikasi mendalam kita (hanya kau dan aku)

Dan sebagai topik pembuka perbincangan kita, aku akan menceritakan sebuah kisah pendek, mungkin?

tentang kejadian yang kualami tadi malam, ketika buku-surat ini menemuiku

***

 

Semalam tengah hujan lebat, kala aku menerima buku-surat ini. Gemuruh petir dan kilat menyambar memenuhi pendengaranku dari balik gorden. Aku sedang berbaring di ranjang membalut tubuhku sendiri dengan selimut, terkecuali kepalaku.


Aku berjuang menutup mataku meskipun berkali-kali kilat menyambar mengejutkanku dan hawa dingin mengerubungiku, mereka menusukku setengah mati. Tetapi malang, saat sesuatu datang sungguh menggoda membuatku terjaga, ada sesuatu yang mendarat di hidungku, membuatku bersin. Aku membuka mata, sehelai bulu robek berkilau keperakan mendarat ke pangkuanku. Aku mengambilnya, dan mengamati sekitarku.


Tidak ada satu celah pun di kamarku yang bisa dilalui oleh sehelai bulu, ventilasi udara di dinding atas juga terhalang oleh jarring-jaring kawat. Kecuali..... dari bawah pintu!


Jadi, kusimpulkan bulu itu masuk ke kamarku melalui celah itu.


Akhirnya aku lega sejenak, duduk kembali di atas kasur. Tapi kemudian aku lebih penasaran akan sesuatu yang mungkin menantiku di balik pintu ini. Jadi kuputuskan untuk bangkit membuka pintu, sesuatu menempel basah di kaos kakiku, aku mengoyak-ngoyakkan kakiku untuk berusaha melepaskannya.


Dan ternyata... Sebuah surat?


Aku membacanya dan di situ tertulis,

Malam ini, di tangga loteng,

Ambil enam langkah maju dari semarak terakhir,

Ikuti arah penirumu,

Jika akurat, tangga yang ber-Bioluminesensi itu hanya dapat dinetra olehmu”.

 

~Aku mengandalkanmu, Linguis.

 Rangkaian frasa-frasamu itu seolah berputar dan terombang-ambing dalam kepalaku, selama beberapa saat aku mencoba mengolahnya, Dan... hahaha, astaga! Kakek! kau benar-benar ingin mencoba menguji penalaran linguistiku, ya!


Rupanya surat yang aku baca adalah surat darimu yang kuambil dari bawah pohon beringin itu sore tadi.


Aku langsung lari melalui lorong, melewati kamar dengan pintu-pintu tertutup. Keadaan sunyi-senyap, pijaran lembut cahaya kekuningan dari lampu plafon menerangi sepanjang jalurku hingga mencapai tangga di ujung.


Mudah saja, ’semarak’ juga bersinonim dengan kata cahaya, yang kau maksud semarak atau cahaya terakhir itu, adalah cahaya pijaran dari lampu plafon terakhir paling ujung pada jalur lorong menuju tangga yang mengarah ke lantai bawah-ruang keluarga kan?  Kuambil enam langkah maju ke depan mulai dari batasku berdiri tepat di bawah lampu, kemudian kuikuti peniruku, maksudnya siluet atau bayanganku sendiri adalah sesuatu yang selalu meniru dan mengikutiku setiap saat dan ‘ia’ jatuh tepat pada tangga ke empat, kulihat gemerlap pendar dari tangga yang ber-Bioluminesensi itu, cahayanya berpendar bak keris polar-keperakan yang baru diasah.


Sesaat aku kebingungan dengan istilah Bioluminesensi itu namun, segera istilah itu menjadi akrab setelah aku melihat tangga yang bersinar, aku mengingat perkataan Ab, saat pelajaran biologi dan guru kami membahas fenomena dan istilah ini ia yang langsung menyambar pertanyaan guru dan megomentariku dengan seringai kelewat khas-nya, perkataannya dan adegan itu sangat lekat di kepalaku, bisa saja nanti kubuatkan drama baca kilas-balik kejadian pada hari itu, dan kulampirkan di balasan surat kita kapan-kapan saja. Supaya tidak mengaburkan inti topik pembicaraan dalam surat kita.


~Kembali pada topik tangga yang ber-Bioluminesensi.


….Akhirnya, aku pun membuka anak tangga itu, memang ada ruang di dalamnya, emmm... Sebuah buku yang terendam oleh semen glitter cair???! ‘  cahayanya masih memancar, hanya saja redup.


Dan sesuatu seperti batu tapi tidak terlalu berat,bukan, itu bukan batu, tapi botol tinta mini dari tembaga kuningan.


Aku mencelupkan tanganku untuk mengambil kedua benda itu dan...., terkaget kala sepasang mata lalu kepala seekor..? atau sesuatu, menyembul di antara kedua tanganku. Aku refleks menarik tanganku mundur menjauhi anak tangga. Jantungku berdebar, (itu hanya sebuah metafora bagiku) aku tahu jantungku dan kakek tidak berdetak, tidak, jantungku itu mungkinkah setengah berdetak? Aku bisa merasakannya setiap helaan napasku. Tapi, aku tidak berteriak karena aku tak mau ayah dan ibu terbangun. Dan kakek ketahuan mengirim buku di tengah malam. Kepada cucunya-bocah yang seharusnya sudah  tidur pulas karena besok sekolah, haha...


Setelah tenang, Aku pun bangkit mulai melangkah perlahan mengintip makhluk itu. Dia sudah mewujud, seekor kadal raksasa dan punya sayap? yang pasti bukan naga. Dia lebih mirip komodo atau saudaranya. Aku terheran karena tengkuknya mempunyai bulu yang sama seperti yang kutemukan di kamarku, begitu pula sayapnya. Itu berarti bulunya berasal dari makhluk ini. Ada tinta dan buku dari kakek di sisinya. Yang ternyata bukunya sama sekali tidak perak melainkan coklat dan usang.


Setelah itu perhatianku kembali terpaku ke makhluk itu setengah ekornya masih terlihat meleleh seperti semen glitter saat ia memanjat ke luar dari anak tangga ke arahku, aku mencengkram erat pegangan kayu kokoh yang ada di sisi kanan dan kiriku sembari perlahan melangkah mundur saat ia-makhluk itu semakin mendekatiku, aku masih ragu-ragu dengan makhluk itu dan aku belum pernah melihat makhluk yang se-meleleh dia.


Tubuhnya basah kuyup pasti karena kehujanan tadi, makhluk itu berhasil memojokanku sampai ke dinding menuju lorong, yang cahayanya redup. Aku memilih berhenti karena aku sadar ia meninggalkan sebuah jejak yang sangat menarik, berkilau dan bercahaya. Dan, ternyata setelahnya…tidak begitu buruk. 


Makhluk itu menggosokan kepalanya ke kakiku sehelai bulu dan setetes perak jatuh, bukan, bukan bulu perak tetapi Pena bulu perak kurasa itu sepaket dengan tinta dan bukunya. Tetapi entah bagaimana benda itu bisa menancap di kepalanya seperti bulu.


Aku pun membopongnya menuruni tangga, membawanya ke dekat sebuah alat putih berbentuk tabung spiral yang menyala ke oranye-an kurasakan energi hangatnya melingkupiku saat aku mendekat. Di atas alat itu terdapat cekungan di tengahnya yang memancarkan kobaran api virtual layaknya kobaran api sungguhan, bahkan mataku masih sering terkesiap setiap kali kobarannya mendadak muncul kala kunyalakan.


Aku pun menodongkan telunjukku iseng ke kobaran api virtual itu, awalnya memang terasa hangat dan mengenakan, aku pun mulai memainkan telunjukku santai dalam jilatan api virtual tersebut, makhluk itu terlihat terkesan saat melihat atraksi jemariku yang keluar-masuk dan mengukir jejak ungu-kebiruan di setiap goresannya, kulukis wajah tersenyum dan kutulis namaku di bawahnya dengan telunjukku.


Dan kau tahu bagaimana reaksinya kakek?  ia mengeluarkan suara pekik kegirangan menatapku, kurasa ia memahami salam perkenalanku. Aku bisa merasakan kebahagiaannya, kurasa ia benar-benar antusias dan tidak menyangka bisa melihat keajaiban teknologi sekeren sihir itu di sini.


Tapi kurasa antusiasme saja tidaklah cukup, sebelum mencoba sendiri. Dan, bagian mengejutkan dimulai...


Sekonyong-konyong bum! makhluk itu menjulurkan lidahnya yang ternyata bercabang dua belas ke dalam kobaran api virtual yang menjilat-jilat itu!

 

Dan bum! lagi, kala ia seketika tersentak dan mencair ke lantai dari dekapanku saat kugendong. Saat coba kusentuh apinya dengan telunjukku, bum! Seperkian detik saja rasa panas menjalari telunjukku, sontak aku pun meniup-niup dan melumat jari telunjukku  sendiri yang telah memerah.


Dan makhluk itu sepertinya mendengar aku merintih kesakitan, sehingga ia mulai mewujud kembali dari kepala sampai tengkuk. Aku pun berjongkok dan membelainya untuk memberi tahu bahwa aku baik-baik saja karena raut wajahnya terlihat cemas, ”tak apa-apa”  kataku, untuk menenangkannya. Makhluk itu mulai mengendus-ngendus dan menjilati telapak tanganku dengan lidahnya yang ternyata bercabang dua belas, lidah-lidah itu mulai menggelitikiku satu per-satu, seolah tengah mendeteksi sesuatu dan kadangkala lidah-lidah itu menantangku untuk tahan tawa, tapi aku telah bertekad memenangkan taruhan, aku tidak mau membuat ayah dan ibu terbangun, makanya aku berusaha setengah mati membungkam mulut. Intuisiku mengatakan untuk membiarkan makhluk ini.


Dan, benar! tak kusangka kakek, di saat makhluk ini mulai menjilati telunjukku yang sakit panas-memerah dengan lidah bercabangnya, sebuah keajaiban terjadi. Perlahan-lahan semua rasa itu menghilang dan dikala jilatan yang terakhir telunjukku sembuh sempurna. Aku sungguh terkesima mengalaminya kakek!


Huh….. sekarang aku paham, biarpun api itu adalah api palsu temperaturnya bisa meningkat seiring waktu dinyalakan dan sekarang panasnya tidak kalah dengan panas api sungguhan, sepertinya panasnya dihasilkan dari listrik. Pantas saja ibu berteriak setiap kali aku iseng bermain-main dengan alat itu, ibu kemudian menaplek tanganku dan memarahiku. Tapi ia juga kerap kali menggunakannya untuk memasak kalau ia tak kebagian stok tabung gas, mengingat sekarang gas jenis LPG sudah sangat jarang, aku membaca di surat kabar katanya tidak akan tersedia lagi pada bulan depan sehingga ibu sangat kesulitan. Kompor gas biru bermerk ‘Rinner’ itu adalah peninggalan nenek dulu ya, kan?


Aku sudah meminta ayah untuk membelikan ibu sebuah kompor listrik dan sudah kami berikan kemarin saat hari jum’at, 22 Desember tepat saat hari ibu, tahu tidak kakek? bahwa kami berdua patungan untuk membelikan ibu kompor itu.


Sedikit wawasan tentang teknologi, kudengar kau ‘lumayan maniak teknologi’, kata ayah, bahan bakar kendaraan juga mengalami nasib serupa. Ayah sendiri telah beralih ke mobil berdaya listrik prinsipnya sama dengan penggunaan baterai yang bisa dicas. Seluruh kota dan dunia telah ber-evolusi ke dalam teknologi modern tersebut, sekarang iklan-iklan virtual-hologram tentang mobil, handphone maupun produk-produk lain yang sering berinovasi dan ber-evolusi kerap tiba-tiba muncul di tengah kepadatan kota dan di depan ruko-ruko yang berjejeran. Seakan sudah menjadi pemandangan umum yang menyemarakan sekaligus membosankan saja.


Malahan, ada sebuah drama duka-ria yang menyergap seorang gadis dan berakhir dengan pembelaan seorang ayah yang berhasil merauk empati publik. Awal dramanya dimulai akibat kekonyolan-kekonyolan teknologi tadi. Baru sepekan yang lalu, saat aku ke taman menulis cerpen terbaruku yang terbit mingguan seperti biasa, sebuah iklan yang mendadak muncul di trotoar mengejutkan gadis yang marah sedang berbincang dengan ponselnya sambil menangis, membawa setumpukan buku di lengannya. Ketika sebuah iklan adegan trailer dari film terkenal tiba-tiba menayangkan mobil terbakar yang terlibat aksi spionisme melaju kencang ke arahnya. Seketika gadis itu panik-menjerit histeris  dan meringkuk kala mobil terbakar itu terlihat menabraknya dan meledak di tempat.


Namun, syukurlah dalam beberapa saat adegan itu hilang, ia langsung tersadar dan menoleh sekeliling. Gadis berambut lurus sehitam kentang hitam dengan potongan shaggy sebahu, plus poni, blus merah polkadot berlapis rumbai di perut dan bagian punggung yang agak terbuka, celana kulot dan sepatu sneaker putih itu terlihat linglung sesaat, beberapa pejalan kaki lain yang berlalu lalang menoleh heran padanya. Ada seorang wanita parubaya dengan dress-muslimnya yang modis memakai hijab, bot high-heels, bibirnya juga semerah cabai rawit terlihat membantu gadis itu berdiri, saat aku baru saja ingin mendekati gadis itu. ssst… tetapi bagian kisah lengkapnya sepertinya tidak akan kuceritakan dalam surat ini kakek, mungkin aku bisa menuliskan kisah selengkapnya di balasan surat selanjutnya jika kau berkenan, karena setelah kutelusuri kurasa ada sesuatu mendalam yang menarik tentang gadis itu, meskipun sekarang aku belum paham dan otakku belum bisa mencerna mengenai ‘sesuatu itu’ . Konon, kata ayah nama gadis itu adalah Kuro-Imo (くろいーいも) namanya berasal dari frasa Bahasa Jepang yang memiliki arti ubi hitam, keluarganya berasal dari keturunan suku Ryukyu yang merupakan salah satu suku minoritas di jepang. Beritahu saja aku kakek bila kau ingin mengetahui cerita selengkapnya mengenai gadis itu, pasti akan kuceritakan, tetapi aku akan meminta maaf dengan tulus kakek, yang pasti bukan di surat pertama ini karena ceritanya pasti akan kelewat panjang dan pukul 21:00 hampir tiba, aku harus tidur sebentar lagi sebelum aku terjaga dan begadang lagi pukul 02:00 nanti.


Aku terbangun bukan untuk bermain-main lho… kakek aku harus belajar dan mengerjakan tugas sekolahku sebelum tidur kembali dan pukul 06:00 mengantarkan surat ini untuk kakekku tercinta, kata ayah aku harus berlatih disiplin dan mengatur jadwalku’kan?


…..aku tahu itu ajaran dari kakek.


Sudahlah… ‘tuh kan… benar aku terlalu banyak berbasa-basi hingga mengaburkan topik perbicangan kita..


Karena sebenarnya sangat banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu di surat pertamaku ini, namun, apa boleh buat, nanti perbincangan ini tak akan pernah selesai dan aku tak bisa tidur.


…..jadi, ehem… kembali ke topik..

 

…..Aku duduk termenung beralas karpet memperhatikan makhluk itu di dekat perapian. Ia telah mewujud kembali seperti kadal walaupun ujung ekornya masih meleleh. Kurasa ia merasa nyaman di dekat perapian. Aku penasaran dia masuk dari mana, melihat buku, tinta, pena dari kakek terendam bersamanya, pasti makhluk ini kurir yang mengantarkan buku ini untukku.


Tapi masalah,’Makhluk itu bisa masuk dari mana?’ dan Dia itu a-pa..? itu yang masih menjadi misteri, seakan semua pertanyaan-pertanyaan itu mendadak mengepul dan menumpuk di kepalaku…


Dan itu yang membuatku tidak tidur semalaman, tidak sebelum bisa memecahkan misteri ini.


Tetapi untungnya, misteri ini terjawab setelah selama satu jam aku mengobrak-ngabrik buku-buku yang tersimpan di dalam anak tangga. Ada bermacam-macam buku kurasa ibu yang mengangkutnya kemari seminggu lalu agar rumah ini tidak menjadi perpustakaan lelang karena sesak dengan koleksi buku. Ibu pasti sangat terbantu dengan tangga multifungsi ini. Haha.....


Kujelajahi semua anak tangga. Sebagian besarnya memang terisi oleh buku, aku menemukan bermacam-macam buku di situ, seperti buku cerita rakyat dan folklor bawang putih dan bawang merah, Putri Kadita. Buku-buku surat dan dokumen lama milik kakekku-mantan pengacara menawan, Si lidah paling menohok seantero kota-mengingat riwayat hidupnya yang menekuni retorika selama ratusan tahun. Tidak ada yang bisa mengalahkan tokoh pucat kebanggaan kami bila ia sudah beraksi di hadapan pendakwa, maka boleh dibilang ia pengikat hati para ‘Hakima’ jikalau Bro Karno adalah pengikat hati rakyat.


Ya, Ehem...


Aku memujimu kakek. Setidaknya tertawalah di kejauhan sana, atau, paling tidak kau menampilkan senyum tipis sejenak sebagai bentuk manifestasimu. Haha...


Ehem. Sudahlah.                                                


Kurasa aku perlu meneruskan kembali kisah ini, jika tidak, perbincangan kita dan surat ini tidak akan pernah selesai. Sampai di mana kita tadi? Oh, Ya!


…Ada juga..beberapa surat bujukan yang ditulis ayah untuk merayu ibu kala merajuk, xixi..dan sisanya kumpulan karya-karya puisi, cerpen fabel yang kutulis waktu kecil hingga yang baru-baru ini. Disimpan rapi dan diabadikan dalam satu jilid oleh ibu. Album kenangan lawas, potret-sketsa kakek, nenek dan ayah semasa kecil dan remaja, juga ada di sini. Foto kecil ibu juga kebanyakan termuat di dalam sini.


Tetapi bukan buku-buku itu yang kucari. Ingat!!! Aku sedang mencari buku yang bisa mengungkap misteri itu, yang membuat aku selalu terjaga.


Aku menemukan sebuah buku, di anak tangga ke-16 dari bawah.


Terselip di antara seri novel terkenal ‘Harry Potter And The Deathly Hollows  pt 1’ karya penulis senior J.K Rowling. Buku itu terselip di dalam novel legendaris itu. Aku pun mengambilnya dan membukanya. Kertasnya terasa kasap saat aku menyentuh buku itu. Tidak tercetak tebal judul dan pengarang buku itu. Hanya buku yang telanjang tanpa cover, kertas usang dan kropos, aku berspekulasi sepertinya bukunya sudah sangat tua, tapi bisa saja kelunturan atau kropos karena rayap.


Aku membukanya, gambar makhluk-makhluk aneh dan beberapa deret kalimat penjelasannya terpampang di setiap halaman.


Kanggebul, Piaraan Auban. O’mudo, kadal? ,Bukan. Cicak neon? , juga Bukan. Itu dia! O'mudo!!! Akhirnya!!!


Dalam buku ini, di halaman 117 kutemukan gambar makhluk yang sama, yang sedang tertidur depan perapian itu. Di dalam deskripsinya tertulis,” sejenis makhluk melata”. bukan naga,” tetapi naga tanpa sayap.”  Asal kau tahu, ”sayapnya baru tumbuh 4 bulan kemudian. ”Dan, Makhluk ini besar ,”tidak kecil”.


“O’mudo salah satu fauna berkembang, ”di barat Chalondria-Eira dan selatan permukiman Trotoar-Roh.” Biasanya ia tak kasat mata kecuali oleh si penerima bingkisan. ”Dalam realitas ia tak terlihat. ”Ia meninggalkan abu perak sebagai tanda jejaknya.”  Bersinar, termasuk dari ‘ piddle ux-Tracillium’ bertulang belakang semu, sebutan yang pertama kali dikenalkan oleh Eatline Richerburg Dawud, seorang pakar aliran Mesokoposis, Turnitra kepala profesor tunggal yang independen  Fikrz Bil  Ilm ( Royal School) kerajaan Arwah tahun 4032.


“Meleleh kala terkejut,” menghilang kala aman,” jangan heran,” karena ia berpindah tempat.”  ~Dawud E.R


{{Diterjemahkan oleh Widjenh Bakr,1876}}


Note: kata-kata dan istilah – istilah mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan makna frasa asli, akan tetapi  penerjemah berusaha mengadaptasi melalui pendekatan-pendekatan makna leksikal sesuai istilah-istilah Bahasa Malayunesia yang sepenuhnya akan lebih mudah dipahami oleh pembaca.


~Disunting kembali oleh Ahmad Mutoto,1949.


Begitu aku membaca sederet kalimat terakhir ini, aku langsung bergegas menuruni tangga dan, ya!! Benar saja kakek!!!                                              Dia menghilang!


Dalam beberapa saat analisis Sharelock Holmesku bekerja, dan aku akhirnya berani menebak dan menyimpulkan bahwa makhluk itu terbang kemari, setelah ia melewati pembatas antara dunia ‘Khayalan dan ‘realitas’. Ia jadi tak kasat mata. Kuartikan maksudnya secara implisit dalam kalimat ‘Dalam realitas ia tak terlihat’.


Hanya aku yang dapat melihat makhluk itu, karena aku adalah ‘Si penerima Bingkisan’ itu. Maksudnya, O’mudo adalah hewan yang biasanya digunakan sebagai kurir, misalnya untuk mengirimkan bingkisan atau hadiah kepada seseorang sekalipun terpaut oleh  jarak yang sangat jauh dan dimensi yang berbeda. Dan aku adalah Si penerima Bingkisan, Orang yang berhak menerima bingkisan (paket buku) dari kakek.


Makhluk itu meleleh karena terkejut oleh sambaran petir dan suaranya. Sontak ia berlindung ke talang air


lalu berteleportasi ke dalam anak tangga, asumsiku ini berdasar, karena aku melihat air mengalir deras dari


talang air tetapi anehnya berkilau keperakan diterpa lampu halaman belakang rumah.


Seakan air itu bercampur dengan glitter. Kusimpulkan makhluk itu memiliki kemampuan teleportasi karena makhluk ini mampu mengirimkan bingkisan ataupun hadiah bahkan dengan terpaut jarak yang sangat  jauh dan dimensi yang berbeda sekalipun, dengan cepat.


Juga kuperoleh kesimpulan ini secara tersirat dalam kalimat ‘Menghilang kala aman, Jangan heran, karena ia berpindah tempat.’  Di buku itu. Maksudnya adalah Jangan bingung atau heran kalau makhluk itu tiba-tiba menghilang di saat kau lengah karena ia telah berteleportasi atau berpindah tempat.


Dan akhirnya! Aku puas sekarang.


Misteri tentang dari mana makhluk itu masuk, dan sejenis apakah itu, telah terjawab. Aku pun bisa mulai menutup mataku dengan nyenyak sekarang. Dan...,aku baru saja ingin melakukannya.


Selamat malam kakek, Kuharap kau bisa segera membalas suratku besok pagi.


Karena cucumu ini selalu-sangat menantikannya.

 

Dan 1 permintaan memaksa yang manis dari si cucu kepada kakeknya,,,,,,:


tolong jangan kirim telepati pada ayah dan ibu kalau aku begadang sampai malam, :V  please!!!!


1000 X please !!!! (:D)


Salam cinta dan sayang, Cucumu yang tampan.

 

Dikta, Allorhama, Jakarta, 30 Desember 2036. 20.58 P.M


Dikta itu Laki-laki ya..    


Halo.. litera-lovers Terima kasih untuk yang sudah membaca dan mengunjungi website aku🙏 Dukung Nearly Art Hito Untuk Selalu berkarya, Ya :) 


Kalau kamu suka sama konten ini dan pengin dukung Deftan, kamu bisa traktirin Deftan cendol di link bawah ini 👇    

                                https://trakteer.id/deftan