Novel's Project: Castlevania The Holy Heart, Cpt 1: Yang akan datang di masa depan (Sample Testing)

Novel's Project: Castlevania The Holy Heart, Cpt 1: Yang akan datang di masa depan (Sample Testing)

 


Vvhh

Ilustrasi: Alucard, Phonyssa, The church, Red-lips Lady, Hofifa, Lisa, Dracula.




Catatan bagi Pembaca: Kisah ini terjadi jauh sebelum meledaknya revolusi Perancis tahun 1792, maupun bangkitnya tirani Erzabeth Bathory sebagai Sekhmet, Jauh Sebelum Richter Belmont, Maria dan Aneth, pahlawan kita terlahir…


Melainkan, ramalan ini telah diberitakan sejak 300 tahun sebelumnya….


Biografi Singkat Karakter Utama: 


Adrian Farenheit Tepes (Alucard): dalam serial film originalnya Castlevania diinformasikan lahir sekitar pertengahan tahun 1450-an. Ciri-ciri fisiknya berkulit pucat, mata keemesan dengan rambut putih panjang yang ikal. Ayahnya Lord Dracula Tepes dan ibunya seorang manusia bernama Lisa, seorang dokter dari desa kecil bernama Lupu, yang ada di wilayah kerajaan Wallachia. Sekarang di era modern termasuk ke wilayah Romania. Darah campurannya, menjadikan Alucard lahir sebagai Dhampire (setengah manusia setengah Vampir) Namun, khusus dalam cerita ini, setelah ia terlibat perang berdarah dengan misi membunuh ayahnya yang mengamuk menggenosida umat manusia setelah kematian ibunya, yang dibakar oleh gereja dan dituduh sebagai penyihir (yang di mana bagian narasi ini juga terdapat dalam cerita aslinya) Alucard pun bertransformasi menjadi Vampir sepenuhnya dan mewarisi Kastil Dracula di Wallachia. 



Phonyssa Afeta Belmont: Ini adalah karakter penggemar utama yang dibuat oleh penulis dalam cerita ini. Lahir setelah 133 tahun setelah perang melawan Dracula usai. Berambut kemerahan teh jahe dan bermata biru laut, seperti leluhurnya Sypha. Saat usianya menginjak 18 tahun ia pun memilih jalan hidupnya dengan mendalami pengetahuan-pengetahuan rahasia, termasuk sejarah dan sihir. Ia kemudian bergabung dengan kaum Pencerita (Speaker) dari garis leluhur ibunya–Sypha Belmont, alih-alih menjadi pemburu vampir sebagaimana leluhurnya dari garis ayah–Trevor Belmont. Yang kedua leluhurnya itu adalah teman seperjuangan Alucard mengalahkan Dracula di masa lalu.



Moving Castle (Kastil Dracula)



Wallachia, 1477



Seekor gagak bermata biru bak api yang menari-nari hinggap di salah satu Jendela batu menara, segulung perkamen diikat pita biru navy terselip di paruhnya. Alucard mendengus, sejurus sebelum seringai lembut tampak. Gagak ini jelas bukan gagak biasa, matanya nyaris seperti warna mata Sypa, gadis speaker ceria dan berani yang selama ini sangat ia kenal. Gagak itu berhamburan menjadi bulu di udara sejurus setelah gulungan perkamen itu jatuh ke tangan alucard. Ia membuka ikatannya dengan satu jentikan jari. 


Guliran suara dari si penulis surat mulai bergema memenuhi udara, bersamaan dengan frasa-frasa magis yang menyala keemasan bergulir keluar melingkupi tubuhnya. Ia pun menutup matanya, mendengarkan dengan khidmat, tanpa sadar menyandarkan kepalanya ke kursi.



Trevor Belmont.


“Hei.. blonde pucat bagaimana kabarmu? Kuharap kau tidak merengek dan mulai menangisi kami atau…mulai mengobrol dan bercinta dengan dinding, karena aku berharap masih bisa menebas pantatmu dengan cambukku lagi…”


Sypha Belmont. 


“Oh.. jangan dengarkan berandalan brengsek itu alucard.. dia merindukanmu! Hanya terlalu gengsi!” 


Tawa mereka berdua kemudian menggema ke ruangan. 


Trevor Belmont.

“Ya, jadi setidaknya kami berharap, kau terus hidup pak Tua, sampai keturunan di setiap generasi kami bisa mengenalmu.. dan, ya jangan lupa untuk menceritakan kepada cucu-cucuku nanti bagian ter-epiknya! Ketika Trevor Belmont degan gagah berani menaklukan kematian!”


Sypha Belmont.

“Kau ini cerewet sekali rupanya! Kalau kau benar-benar tewas bagaimana?!”


Trevor Belmont. 

“Ah! Hidungku!”

Tawa mereka pun menggema sekali lagi.. 

Dalam sebuah kebisingan yang hangat akhirnya ia bisa merasa kembali ke rumah.. ia nyaris bisa merekam penuh di kepalanya, bagaimana mereka berdua menulis surat ini untuknya. 


Trevor Belmont.

“Sypa sedang hamil alucard..dan coba tebak apa yang ia semalam mimpikan..!”


Sypha Belmont.

“Kami akan menjadi orang tua, dan kau akan segera jadi paman! Yaahuuu!”

Alucard menyeringai tipis, memang dasar mereka orang tua yang tidak pernah tumbuh dewasa.


Trevor Belmont.

Dia bermimpi tentang yang datang di masa depan.. keturunanku, bisa dibilang.. dia akan menemuimu dan akhirnya kita akan berjalan lagi berdampingan… membawa sebuah misi khusus.. yang satu perempuan berambut merah seperti bara apiku, sedang matanya, mungkin akan sebiru mata Sypa, dan satu lagi, laki-laki, berambut gelap dan agak kekanak-kanakan.. aku ingin kau menjaga dan membimbing mereka Blonde Pucat..”


Sypha Belmond.

“Dan hati-hati dengan yang berambut merah ini, alucard.. karena dia mungkin memiliki mata dan senyum yang selembut diriku, namun, keras kepala dan lidah tajamnya milik Belmont dan itu mungkin akan sering membuatmu kesal..Kami tidak tahu kapan kepastian kelahirannya, namun, yang berambut merah ini dikabarkan akan lebih dulu datang..”


Alucard akhirnya bangkit, bersamaan guliran frasa itu kembali terserap ke perkamen dan suaranya pun lenyap dari udara, kuku-kuku panjangnya mengetuk-ngetuk meja ek dengan bordiran emas, menopang dagunya dengan satu lengannya. Senyum tipis pun tersungging di bibirnya,” baiklah.. aku akan menunggu mereka..”


                                            ***



Brosov, Rumania, 1631



“Nyssa, Aku menerima surat lagi dari Akwi petang ini. Gagak-gagaknya terus mengitari rumahku dan kemudian tiba-tiba saja sudah bertengger di perapian..” ucap Jackson, laki-laki parubaya penebang kayu, menyerahkan secarik perkamen yang terikat. Setidaknya dia seorang simpatisan dan tidak menghakimi mereka, seperti kebanyakan orang-orang yang mengaku suci. 


“Bukannya aku tidak mau membantu kalian Nyssa, sungguh. Tapi ini terlalu berisiko, mengapa Akwi tidak langsung mengutus gagaknya ke Moving Castle yang legendaris itu?” Tanyanya menyilangkan tangan. 


“Itu juga tidak bisa kami lakukan Jackson, terlalu berbahaya..” jawabnya, keheningan menebal sesaat di antara mereka, sebelum akhirnya Nyssa angkat bicara lagi ,”apapun yang telah kau lakukan Jackson, kami juga sangat berterima kasih padamu, lain kali akan kukirimkan gagakku lagi untuk mengantarkan obat cacar bagi putrimu.” Nyssa tersenyum dari ambang pintu, jemarinya memegang engsel kayu, rambut merahnya agak tersibak dari balik jubah dinginnya akibat pintu yang sedikit di buka, mengizinkan angin musim dingin masuk ke ruangan. 


“Cacarnya sudah kering Nyssa, tinggal memulihkan bekas lukanya.” Tatapan pria itu melembut lagi menatap mata kebiruan Nyssa. “Terima kasih.” 


Nyssa hanya membalasnya dengan senyuman lembut sebelum ia melangkah keluar. Ketika ia berbelok ke gang sempit, barulah ia membuka surat dari Akwi, tetua Kaum Pencerita. Perkamennya dipenuhi simbol-simbol gylph magis yang hanya bisa dipahami sesama pencerita. 


“Ostende Illud!” 

Sejurus kemudian simbol-simbol gylph tinta di atas perkamen menyala berwarna-warni bersamaan dengan mata kebiruan Nyssa yang ikut menyala kala mengaktifkan mantra. Teks-teks yang sudah ter-enkripsi ke terjemahan asli pun mulai terukir di udara. 


Ingat tujuanmu Nyssa.” Tujuanmu adalah mengembalikan lagi nurani Sang abadi. Adrian Farenheit Tepes, Alucard..


 seperti yang dilakukan Lisa kepada ayahnya, Vlad Dracula Tepes. Tapi, hati-hati jangan sampai ia membaca niatmu..” 


“Dan berhati-hatilah melakukan pertarungan dengan vampir di tempat terbuka, jangan sampai menarik banyak perhatian. Aku tidak mau kedamaian kita terganggu ketika terjadi bentrokan dengan gereja dan hindarilah berkelana setelah petang sendirian..


Jaga dirimu, Nak..” 


Nyssa menyeringai getir menelengkan kepalanya, menghembuskan napas panjang, berusaha menguatkan hatinya. Karena ia tahu, ia telah melanggar perintah ketiga Akwi, yaitu berkelana sendirian ketika malam hampir menjemput. Mau bagaimana lagi, informannya Jackson, hanya setuju bertemu ketika malam hampir tiba dan telah minim aktivitas. Meskipun rumahnya sendiri juga sudah ada di tempat paling terpencil. Gang terjauh dari pasar dan jalan raya. 


Nyssa dengan tenang berbelok dari gang demi gang sempit dan berjalan lurus melewati lorong dengan rumah-rumah dan jendela yang mulai di tutup rapat-rapat oleh pemiliknya. Begitu ia memasuki jalan raya dengan lampu minyak tanah kecilnya, suasananya pun hampir sama. Toko-toko Saxon yang hampir tutup, suasananya selalu berkabut ketika menjelang gelap. Karena itulah ia paham bahwa ia harus cepat.


 Aromanya berubah tajam ketika ia mulai melewati kios-kios tersebut. Bau Arang bekas dari Daging asap yang mengepul, semerbak harum kayu Cendana yang sengaja dibakar, serta benda tajam yang sengaja diasah terakhir kali oleh pembuatnya sebelum berkemas. Belum lagi aroma anggur liar dan susu dari bar-bar malam yang baru buka. Salju pertama pun mulai turun, membasahi mantel tebalnya. Ia menunduk sejenak untuk memberikan sepotong roti kepada anak laki-laki tunawisma bermuka cemong, ketika tiba-tiba cairan kental merah segar dan berbau anyir jatuh dari atas menodai rotinya. Nyssa pun terbelalak, menoleh ke atas dengan jantung yang berdegup kencang. 


“Gadis opera yang Lezat!” 

Suara itu menggeram buas, tampak laki-laki berkerah tinggi yang menghisap dan menyiksa gadis berkulit pucat sepucat kalung mutiara yang melingkari lehernya, Berambut keriting gelap, yang juga tampak pasrah dan hanya bisa merintih pelan, sedang tubuhnya terapit menggelantung di balkon, Jari-jarinya yang terkulai ke bawah sesekali berkedut. “T-tolong…”


“Aaaaaaakh!” Anak tunawisma itu refleks berteriak histeris, rotinya pun terjatuh ke genangan darah. Namun, Nyssa dengan cekatan menariknya, membungkamnya, sembari memeluknya dari belakang menekan mereka serapat mungkin ke dinding. Menandak segala aktivitas pun terhenti, tidak peduli seberapa pun keras musik yang diputar dari balkon itu pada awalnya.


 Udara menegang sesaat. Gadis itu sengaja dijatuhkan dari atas balkon ke genangan darahnya sendiri, tepat di depan matanya. Mati terkulai dan tak berdaya, mata mayatnya tepat menusuk menatapnya. Selagi lengan Nyssa masih memeluk erat tubuh anak tunawisma tersebut. Orang-orang berlarian dalam senyap, menjauhi pemandangan tersebut. Tidak mau lagi memancing keributan dengan berteriak. 


Kabutpun semakin menebal di sekeliling mayat itu, dan di saat itulah ia perlahan bangkit, begitu hening masih tanpa ekspresi mendekati mereka.


 “Lari, sekarang!” Teriak Nyssa. Anak kecil itu pun lari terbirit-birit berbelok ke gang. Dan nyaris bersamaan, gadis vampir itu menerjang dan melompat ke arah Nyssa dalam satu kedipan mata. Tubuhnya yang gesit dan tangkas dengan kekuatan yang tidak masuk akal itu berhasil menjepit Nyssa ke tanah, dia belum sempat merapal mantra, namun refleks tangannya juga cukup cepat untuk sekedar mencekik gadis vampir itu. “Sol Urens!” ia menggertakan giginya, mata kebiruannya menyala, kuku-kukunya mencengkram kuat dan menggores leher gadis vampir itu ketika jilatan merah- keemasan api mulai terbentuk dari jari-jemarinya. Gadis Vampir itu menjerit dan memekik kesakitan. Setetes darah merah-kehitaman kental mengalir dari luka yang ditimbulkan kuku Nyssa. Cukup untuk memberi peluang Nyssa mencabut pisaunya yang telah dilumuri dengan garam di perjalanan. Dalam satu Hujaman kuat Nyssa pun menusuk jantungnya. 


Gadis vampir itu tercekat, pupil mata bak ularnya membelalak diikuti otot yang mengendur dan rintihan sakit yang tertahan. Darah merah pekat-nyaris kehitaman mulai mengalir deras dari ujung bibirnya. Nyssa pun refleks menendangnya dan ia terhempas ke udara seolah tubuhnya seringan bulu. Dan di saat itulah kereta kuda bangsawan dari arah berlawanan, melaju dan menabrak gadis vampir itu menghancurkannya berkeping-keping. Darahnya menyembur ke segala arah. Menodai wajah dan jubah Nyssa. 


Salah satu bangsawan bertopeng, berkulit pucat, gaun tunik, lengan mengembang, dan topi bulunya terlonjak kaget dan mengintip ke luar jendela kereta, salah satu roda keretanya menelindas kepala gadis vampir yang menggelinding. Dan saat matanya bertemu Nyssa tatkala berpapasan..


bibir merahnya menyeringai.. menampilkan taring. 


Nyssa tersentak, ia berlari ke seberang dan merebut seember air garam dari nelayan setempat yang berpapasan sehabis pulang memancing dari dermaga melewati pasar. Sontak mengguyur tubuhnya dengan air tersebut. Air garam memang cukup kuat untuk menyamarkan baunya dari para makhluk malam, termasuk vampir, bahkan membunuhnya. 


“Hey!” 

“Maaf akan kubayar!” Nyssa dengan gesit melemparkan satu koin emas dari kantong jubahnya. 


 “fweeeet!” 

Seekor kuda jantan coklat berlari ke arahnya menjawab siulannya. Nyssa menaiki kudanya dalam satu lompatan lihai, menghentakkan tali kekangnya. Lari Azlar!” rambut kemerahan teh jahenya tersibak dari balik jubahnya ketika berkuda menerjang ke kegelapan malam, menembus hutan, kembali ke Wallachia. 


                                       ***

Dari balik bayang kegelapan malam, kereta kuda mewah putih berbodir emas menepi, bertengger di atas jembatan. Di bagian pintunya terpampang lambang Tiara terbalik, satu pedang ditengah yang diapit sepasang tombak ular, seolah membentuk trisula Poseidon. 


Salib Terbalik.


Sepasang mata mengintai, bibir merahnya menyeringai tajam, meskipun ia telah mencoba menyembunyikan kebuasannya di balik topeng orkestranya. Pupil matanya membesar dan menyipit mengikuti jejak Nyssa dari kejauhan. 


“Kurasa aku menemukannya Albert, desisnya. “aku menemukannya..”


Halo para pembaca! Karena kondisi penulis sedang kurang sehat, kami memutuskan untuk menunda pembaruan cerita. Chapter berikutnya akan dirilis pada Sabtu, 29 November 2025. Penundaan Jadwal Update di karenakan adanya kendala Teknis terkait laman web ini. Terima kasih atas pengertiannya!


English Translation Version: 



Author’s Note for Readers:


This story takes place long before the French Revolution erupted in 1792, and long before the rise of Erzabeth Bathory as Sekhmet. Long before Richter Belmont, Maria, and Aneth—our future heroes—were even born…


In fact, this prophecy had been foretold three hundred years earlier...



---


Brief Biography of the Main Characters:


Adrian Fahrenheit Tepes (Alucard)


In the original Castlevania series, he is said to have been born around the mid-1450s. His physical traits include pale skin, golden eyes, and long wavy white hair. His father is Lord Dracula Tepes, and his mother is a human named Lisa, a doctor from a small village called Lupu in the region of Wallachia, which in the modern era is part of Romania.


His mixed blood makes Alucard a dhampir (half-human, half-vampire). However, in this story, after he becomes involved in a bloody war with the mission to kill his own father—who rampaged and attempted to genocide humanity after his wife’s death at the hands of the Church, accused of witchcraft (a narrative also found in the original lore)—Alucard eventually transforms into a full vampire and inherits Dracula’s Castle in Wallachia.


Phonyssa Afeta Belmont:


This is the main original fan-made character created by the author. She was born 133 years after the war against Dracula ended. With ginger-tea-colored hair and ocean-blue eyes like her ancestor Sypha, she chooses her own path at eighteen, delving into secret knowledge, history, and magic. She joins the Speakers from her maternal lineage—Sypha Belmont—rather than becoming a vampire hunter like the Belmonts from her father’s side—Trevor Belmont. Both of her ancestors fought side by side with Alucard to defeat Dracula in the past.



---


Moving Castle (Dracula’s Castle)


Wallachia, 1477


A blue-eyed raven, its gaze flickering like dancing flames, perched on the stone window of one of the towers, a scroll tied with a navy ribbon clasped in its beak. Alucard snorted before a faint smile appeared. This raven was clearly no ordinary raven—its eyes were almost the same color as Sypha’s, the cheerful and brave Speaker girl he knew so well. The raven burst into feathers the moment the scroll fell into Alucard’s hand. With a flick of his finger, he untied it.


The voice of the letter’s writer echoed through the air as glowing golden magical phrases unfurled and wrapped around his body. He closed his eyes, listening with reverence, resting his head against the chair without realizing it.


Trevor Belmont


“Hey… pale blond, how are you? I hope you’re not whining and crying over us… or starting a conversation and making love to the walls, because I’m still hoping to whip your ass again someday…”


Sypha Belmont


“Oh, don’t listen to that bastard, Alucard… he misses you! He’s just too proud!”


Their laughter echoed through the room.


Trevor Belmont


“Yeah, anyway, we hope you stay alive, old man, long enough so that our descendants in every generation can come to know you. And don’t forget to tell my grandchildren someday the most epic part—when Trevor Belmont bravely conquered The death!”


Sypha Belmont


“You’re so annoyingly talkative! What if you actually died?!”


Trevor Belmont


“Ah! My nose!”


Their laughter rang again.

In the warm noise, he felt like he was home again. He could almost picture them writing this letter together.


Trevor Belmont


“Sypha is pregnant, Alucard… and guess what she dreamed about last night!”


Sypha Belmont


“We’re going to be parents, and you’re going to be an uncle! Yahoo!”


A thin smile tugged at Alucard’s lips—those two truly never grew up.


Trevor Belmont


“She dreamed of the future… of my descendants. One of them will meet you, and the three of us will walk together again… carrying out a special mission. One will be a girl, red-haired like my ember-flames, and her eyes maybe as blue as Sypha’s. And the other, a boy—dark-haired and a bit childish. I want you to protect and guide them, Pale Blond…”


Sypha Belmont


“And be careful with the red-haired one, Alucard… She may have my soft eyes and smile, but she’ll have the stubbornness and sharp tongue of the Belmonts. She’ll annoy you a lot. We don’t know when they will be born, but the red-haired one is foretold to come first…”


Alucard finally rose as the glowing phrases reabsorbed into the scroll and vanished. His long nails tapped the carved oak table as he rested his chin on his hand. A faint smile blossomed on his lips.

“Very well… I’ll wait for them.”



---


Brosov, Romania, 1631


“Nyssa, I received another letter from Akwi this evening. His ravens kept circling my house and suddenly perched on the hearth…” said Jackson, the middle-aged woodcutter, handing her a tied scroll. At least he was sympathetic and never judged them like so many self-righteous people.


“It’s not that I don’t want to help you, Nyssa. Truly. But this is too risky. Why doesn’t Akwi send his ravens straight to that legendary Moving Castle?” he asked, folding his arms.


“That’s not possible, Jackson. Too dangerous…” she replied. A silence thickened between them before Nyssa finally spoke again. “Whatever you’ve done, Jackson, we’re grateful. Next time, I’ll send my raven to deliver the smallpox medicine for your daughter.”


Nyssa smiled from the doorway, one hand on the wooden hinge. A gust of wind brushed her reddish hair from beneath her winter cloak as she opened the door just enough for the cold season to sneak inside.


“Her smallpox has dried up, Nyssa. We just need to heal the scars.” The man’s gaze softened as he looked into her bluish eyes. “Thank you.”


Nyssa returned his smile gently before stepping out. Turning into a narrow alley, she finally opened Akwi’s letter. The parchment was filled with glyph-ink symbols only Speakers could read.


“Ostende Illud!”

In an instant, the glyphs glowed in many colors, and Nyssa’s blue eyes lit up as she activated the spell. The encrypted text carved itself into the air.


“Remember your purpose, Nyssa.”

Your purpose is to restore the conscience of the Immortal One—Adrian Fahrenheit Tepes, Alucard… as Lisa once did to his father, Vlad Dracula Tepes.

But be careful. Do not let him read your intentions…


“And be cautious when fighting vampires in open spaces. Do not attract attention. I do not want our peace disrupted by clashes with the Church. And avoid wandering alone after dusk.

Take care, child…”


Nyssa tilted her head with a wry smirk, exhaling deeply to steady her heart. She knew she had already broken Akwi’s third rule: wandering alone near nightfall. But she had no choice—Jackson would only meet her when activity was low, and his home was in the most isolated area, the edge of the alley far behind at the corner, far from the market and main roads. Tough. 


She navigated narrow alley after narrow alley, passing homes whose windows were being shut tight by it's owner. When she reached the main road with her oil lantern, the atmosphere was nearly the same. Saxon shops were closing, fog always thickening at dusk. She knew she had to be quick.


The smells changed sharply as she passed the stalls:

charcoal from smoked meat, burning sandalwood, the metallic scent of freshly sharpened blades, mix of wild wine and milk from night bars.

The first snow began to fall, soaking her thick cloak. She paused briefly to give a piece of bread to a grimy-faced homeless boy—

when suddenly a thick, fresh, metallic-smelling drop of red fell from above onto the bread.


Nyssa froze.

She looked up, her heart pounding.


“Delicious little opera girl!”


The voice growled savagely. A high-collared man drained and tortured a pale girl, her skin the same color as the pearl necklace around her neck. Her dark curly hair hung lifelessly as her limp fingers twitched from where her body dangled over the balcony.


“H-help…”


“Aaaaaaakh!”

The homeless boy screamed, and his bread fell into the blood puddle.

Nyssa moved swiftly, yanking him close, covering his mouth and pressing them tightly against the wall. All activity stopped, no matter how loud the music had been moments earlier at that damn-balcony.


The air tightened.

The girl was dropped from above, hitting the pool of her own blood right in front of them—dead, limp, her lifeless eyes staring directly at Nyssa. While Nyssa’s arms were still wrapped tightly around the homeless child’s body, people ran off in silence, keeping their distance from the scene. They no longer wanted to stir up trouble by shouting. 


Fog coiled around the corpse… and then she rose—silent, expressionless, approaching them.


“Run. Now!” Nyssa shouted.


The boy sprinted, disappearing into an alley. Almost instantly, the vampire girl lunged at Nyssa, pinning her to the ground with inhuman strength. Nyssa hadn’t had time to cast a proper spell, but her reflexes were fast enough to grab the vampire’s throat.


“Sol Urens!”


Her blue eyes flared as red-gold flames licked from her fingertips. The vampire shrieked in agony. Dark red, nearly black blood oozed from the wound Nyssa’s nails left—just enough for Nyssa to grab her salt-coated knife.


One powerful thrust—

she stabbed the vampire’s heart.


The creature choked—

her snake-like pupils widening, her limbs loosening, a strangled whimper escaping. Thick dark blood dripped from her lips. Nyssa kicked her off; the body flew like a feather, and at that exact moment, a noble’s horse-carriage hurtled from the opposite direction—


CRACK!!!—


It smashed into the vampire, tearing her apart. Blood sprayed everywhere, splattering Nyssa’s face and cloak. A carriage wheel crushed the vampire’s rolling head.


One noble, masked and pale, with puffed sleeves, a tunic dress, and a feathered hat peeked out the window.

Her gaze met Nyssa’s…


Her red lips curled into a smile—

revealing fangs.


Nyssa jolted, ran across the street, and grabbed a bucket of salted water from a fisherman returning from the docks. Without hesitation, she drenched herself. Saltwater masked scents from creatures of the night—and sometimes killed them.


“Hey!”


“I’ll pay!” She tossed him a gold coin.


“Fweeeet!”


A brown stallion galloped toward her at her whistle. Nyssa mounted him in one graceful leap.


“Run, Azlar!”


Her ginger-tea hair whipped behind her as she rode into the night, plunging into the forest—

back toward Wallachia.



---


From the darkness, a luxurious white carriage trimmed with gold pulled over atop a bridge. On its door was a symbol: an inverted tiara, a sword in the center flanked by twin serpentine spears—forming a Poseidon's trident.


An Inverted Cross.


A pair of eyes watched, red lips curling wickedly beneath a masquerade mask.

Even though she had tried to hide her  savagery behind the mask of her orchestra.” A beauty mark sat upon her chin. Her pupils widened, narrowing as she followed Nyssa’s trail.


“I believe I’ve found her, Albert,” she hissed.

“I’ve found her…”



Hello dear readers! As the author has been feeling unwell lately, we’ve decided to delay the story update. The next chapter will be released on Thursday, November 27, 2025, at 8:00 P.M. Thank you for your understanding!







Budak To-lo-mo: Cerpen Kritik Sosial dan Konspirasi Sejarah di era Sui Kuno

Budak To-lo-mo: Cerpen Kritik Sosial dan Konspirasi Sejarah di era Sui Kuno

 

To-Lo-Mo (Tarumanegara) Potrait
and Dharmawati


Halo, Geek-Lovers, Cerpen ini Deftan tulis sebagai bentuk ekspresi dan aspirasi akan keresahan sosial yang akhir-akhir ini menguji ketahanan pangan nasional Indonesia, terutama terkait isu Pemiskinan Petani akibat maraknya Pupuk Palsu atau Oplosan.

                                                                   ***

Desclimer: Cerita ini hanya fiktif semata, tidak berniat untuk menyerang atau menyinggung organisasi atau pihak manapun. Jika terdapat kesamaan kondisi atau kasus yang digambarkan dalam cerita ini yang bersinggungan dengan informasi faktual dan fakta sejarah, maka itu murni sebuah kebetulan.

Harapan penulis bagi khalayak adalah kita bisa melewati apapun yang menjadi keresahan kita bersama, dan menjadi lebih baik kedepannya. 



                                                                       


Distrik Wan-Fu, Sui Utara, 671 Masehi. 



Asap kelabu menyelimuti awan yang merona senja. Si Lidah oranye sudah menari-nari kenyang dan melahap semuanya.. termasuk kehidupan yang ada di dalamnya, hanya menyisakan remah-remah jelaga di udara. Kayu-kayunya sudah hancur menghitam dan atap jeraminya hanya tinggal separuh. Hanya dalam satu malam Penginapan: pabrik pupuk oplosan dan markas perbudakan ilegal itu lenyap di bawah kelambu malam.


Sejak awal, Tidak ada keuntungan yang didapatkan dari peperangan dan intrik yang mencapai kulminasinya di antara kedua kubu. Yang ada hanya tonggak kekuasaan yang berdiri di atas kolam darah..dan mayat-mayat daging segar yang diawetkan dengan salju.


Apakah akhirnya Suku Yin mendapatkan Karmanya? Suku Sui telah meringkus dan melahap mereka tanpa menyisakan sedikit daging pun di tulangnya.


Begitulah lingkaran setan dan siklusnya terus terulang.. dari sejarah demi sejarah, generasi demi generasi... Kedua kubu ingin saling menguasai...

Akhirnya kubu yang ditekan dan dipaksa tunduk, menolak untuk dijinakkan--dengan cara yang paling jinak. 


Berakting kooperatif, tapi menggerogoti sistem internal--hingga akarnya cukup busuk dan akhirnya tumbang.

Ia sendiri sudah cukup akrab dengan situasinya. Karena pernah mengalaminya sendiri. 


"Dan Rumah?" 

Bocah laki-laki lumayan ringkih itu mengerjapkan matanya yang keram dan sipit, gerimis salju memijat kulitnya yang pucat terang, hidungnya gatal tersedak arang dan jelaga, sesekali dia bersin menggosok hidungnya yang justru membuat wajahnya semakin cemong, anak laki-laki itu bangkit perlahan-lahan meringis dan menggigil kedinginan. Sudah habis waktu sandiwaranya. Rambut palsunya yang terbuat dari serabut kelapa halus yang di uap di atas tungku lalu ditempelkan dengan getah karet, sehingga ia terlihat seperti orang barat idolanya, kini sudah hangus terbakar. Ya, itu memang salahnya sendiri karena repot-repot memakai wig rambut panjang ditengah-tengah ledakan dan kebakaran malam itu. Sungguh mengenaskan.. padahal dia hanya ingin menikmati kehidupan bebasnya, walaupun itu hanya pura-pura: bermain sebagai seorang utusan dari barat, bukan karena ia benar-benar mengagumi mereka, tapi karena ia ingin memiliki kebebasan yang setara, sebelum dia dijual ke kaisar 2 bulan kemudian.. 


Bisa bersekolah, berlarian dan bermain bersama teman sebayanya. 

Umurnya menginjak 7 tahun sekarang, setidaknya dia 'sudah legal' untuk dijual menurut Konfusianis.


Pada Siang menjelang sore itu, Xue-mei sendiri sedang berlatih menulis kanji sederhana bersama dua teman kembarnya yang datang dari Henan 2 bulan yang lalu, Shen dan Zhi. Mereka belum cukup umur, jadi untuk sementara mereka belum layak dijual. Dan para budak wanita yang menganggur suka rela merawat dan mengasuh mereka demi tetap mendapat jatah makan.



Tapi, Tak di sangka malah ada kejutan besar seperti ini.. 


"Jika yang kau maksud rumah itu hanya berupa pondasi, tiang dengan atap.. maka itu tidak ada artinya. 

Rumah adalah diri kita sendiri, berupa 5 dimensi secara utuh. Jasad, Prana atau energi, Jiwa: pikiran dan emosi, Kebijaksanaan atau intuisi, dan batin atau hati. Maka jika atapnya berlubang dan pondasinya rapuh.. serupa pikiran dan jiwa kau harus menambal dan memperkuat keyakinanmu dengan iman.." 


"jika jiwa dan pikiranmu sedang sakit dan negatif sampai mempengaruhi jasad dan kesehatanmu, kau harus memperbaiki kebiasaanmu..."


"Jika atmosfer atau energi di lingkungan rumahmu itu terasa tidak nyaman dan negatif, carilah sumbernya: Orang-orang yang suka bergosip, rumor-rumor miring, lingkungan yang tidak produktif, apapun itu. Jauhilah.. Pergilah dari tempatmu, atau bangunlah benteng setinggi mungkin.. karena hal itu bisa mengganggu keseimbangan vibrasi dan pranamu, lalu mencabik-cabik fokusmu dalam hidup." 


"Kemudian, untuk selalu memperdalam intuisi dan kebijaksanaan.. layaknya membeli barang-barang baru untuk keperluan rumahmu, dan memperkuat nilainya. Teruslah berkembang dan bertumbuh Kumpulkan pengalaman.. dan jangan pernah takut akan hal itu." 


"Jika biliknya kotor dan berantakan serupa hatimu dan batinmu, kau harus merapikannya, menatanya kembali dan membersihkannya.. dekatkan diri pada yang kuasa, sampai akhirnya batinmu menemukan kedamaian dan merasa utuh.. saat itulah kau adalah 5 dimensi yang sempurna. Manusia seutuhnya..."


"begitulah yang kusebut rumah, itu adalah Jasadmu, vibrasimu, jiwamu, pikiranmu, emosimu, dan batinmu.. "


"Jika kau mengganggap rumah hanya sebatas properti yang disediakan sebagai sarana, keluarga, cinta dan kehangatan.. maka itu salah besar, karena bahkan kau yang paling mampu mencintai dirimu sendiri.. terlepas dari seberapa banyak yang dunia telah renggut darimu.. dan kejamnya tuhan mengundi nasibmu.." 

Kata-kata itu pun terngiang kembali. 


Kata-kata Laki-laki berkulit sawo matang dengan tubuh yang anehnya sedikit terlalu gemuk ketimbang atletis sebagai seorang budak kasar, pakaian dari kain kapas kasar yang kusam, sandal jerami dan rambutnya yang hitam legam disaggul ke atas dengan kain putih lusuh. Pipinya juga terlihat lumayan gempal. Bahkan ada rumor yang beredar bahwa pria ini sebenarnya bukan budak. Melainkan, tuan pemilik tanah yang mengurusi perdagangan budak ini. Namun, dengan sifatnya yang penyayang, serta nasihatnya yang terkadang terasa terlalu spiritual. Rasanya, sangat sulit untuk mempercayai rumor itu dan mengecapnya sebagai kriminal kelas kakap yang menjual orang-orangnya sendiri pada kaisar. Dan,

 xuě mèi sendiri, tak peduli akan hal itu.


Laki-laki itu sesekali mencelupkan kelingkingnya ke arang cair dan mulai menggores-goreskan kelingkingnya ke secarik kertas kusam. Seolah-olah tengah menulis. 


"Malahan..makin banyak anak panah dan tombak yang menusuk punggungmu, justru ketahananmu terhadap rasa sakit dan lukanya akan makin menebal lho, Mei..haha"


Laki-laki itu berujar lagi, tertawa dengan renyahnya. Meskipun di mata Xue-mei, sangat kentara ada sekelumit sarkasme dalam ucapannya.


xuě mèi sangat paham perasaan itu. Jadi, alih-alih membiarkan pembicaraan itu semakin tenggelam, dia memutuskan untuk mengubah topik.


"Kau tidak punya kuas ya, kak? apa yang kau lakukan aku baru tahu kalau kau bisa menulis.. hēi xiōng.." (kakak hitam)


Ia menghampiri meja kakaknya dan berjinjit mengangkat tumitnya untuk mengintip. Huruf huruf berbentuk aneh yang berlekuk-lekuk terpampang di kertasnya.


"To-lo-mo?" 


Laki-laki berkulit sawo matang itu langsung menghentikan aktivitasnya dan menyingkirkan kertasnya begitu mendengar kata yang meluncur dari mulut adiknya.


"Aku tak percaya kalau kakak benar-benar non-Sui, sama sepertiku."

"Benarkah? Bukankah sudah sangat terukir dalam wajahku?" Kakaknya itu hanya tersenyum simpul penuh konspirasi, mengembalikan pertanyaannya. 


xuě mèi belum sempat menenggak pertanyaannya, ketika seorang budak atletis lain memanggil kakaknya. Dengan panggilan aneh. "Dharma!" 

Budak laki-laki itu cepat-cepat berlari menghampirinya dan berbisik ke telinganya. Roman kakaknya sekejap terkejut, tapi berganti senyum bahagia kemudian. "Dia berhasil?" 

Teman kakaknya itu mengangguk-angguk antusias, membukakan sebuah kantong kain lusuh kecil di atas meja. Di dalamnya, ada serbuk bubuk merah halus. Lantas, kakaknya itu mengambil sekelumit, merasakan teksturnya dan mulai mengendus aromanya. 


"Batu bata ini teksturnya sangat halus ya, wajar saja jika para petani sulit membedakannya dengan iron." Takarnya.


"Ada berapa titik pasar lokal yang menjual barang oplosan ini?"   


"Kurang lebih ada 3 titik utama, 2 di antaranya termasuk pasar di pelabuhan, dari Luoyang, Yangzhou ke Guangzhou." Dari jalur laut, ada 2 perhentian lagi sebelum sampai ke Shi li Foshi (Sriwijaya) dan To-lo-mo ( Tarumanagara)

"Dari barat pedagang-pedagang dari Kashgar mengangkut barang-barang dagangannya ke pelabuhan di teluk." 


"Begitu rupanya." Kakaknya itu mendesah letih. Melemparkan punggung dan kepalanya ke sandaran kursi.

"Aku tak menyangka kalau pria tua itu bisa selapar ini.. ini tak hanya soal kesejahteraan petani, tapi juga menyangkut ketahanan pangan nasional yang dipertaruhkan..." 

"Tikus Ko-no-ha bajingan! Berani sekali mengorbankan hidup rakyat yang lemah.. demi kepentingan isi perut sendiri!" Kakaknya melampiaskan amarahnya dalam satu tendangan tangkas, meja kerja kayunya pun jatuh berdebum dan remuk di hadapan semua orang. Membuat semua orang tercekat. Sedangkan kakaknya itu bahkan  belum bergerak bangkit sejengkalpun dari kursinya.


"Begitu rupanya. Memakai jalur sutra dari kedua arah. Jalur laut sebelah selatan dan jalur darat dari arah barat." 


xuě mèi bergumam pada dirinya sendiri. 


Sejak usia 3 tahun, di tengah tragedi sengketa kedaulatan dan kolonialisme itu mulai meletus, ia memang mulai sering diajarkan lokasi-lokasi strategis perdagangan seperti itu oleh ayahnya.  

Tujuannya bukan untuk main-main, tetapi sebagai sarana edukasi titik-titik regional strategis dan transit darurat. Jika suatu saat suatu hal, seperti konfrontasi itu terjadi. Mengingat situasi politik eksternal yang tidak stabil di negaranya saat itu. Sejak awal, memang perdagangan itu tak hanya mengangkut komoditas barang non-hidup saja, tetapi juga manusia. Sebenarnya perbudakan bisa menjadi legal jika melalui kelembagaan resmi, seperti pengiriman bantuan ketenaga kerjaan lewat diplomasi antar negara. Dan juga perlindungan akan hak-hak dan kesejahteraan mereka kala dijual dan merantau di negeri orang.


 Kini, Ia bisa mengerti keputusan tergesa-gesa ayahnya, yang sengaja menyelundupkannya ke peti-peti jagung dan kedelai asalkan dia tetap hidup. Jika, menimbang situasi politik dan angka harapan hidupnya, Kekaisaran Sui adalah yang paling aman. Meskipun, ia akan dijual ke kaisar sebagai budak atau peliharaan hingga dewasa, setidaknya ini masih jauh lebih manusiawi ketimbang di negaranya sendiri karena memperhatikan legalitas usia minimal anak yang diambil sebagai budak dan kesejahteraan mereka. Selama mereka tetap tunduk dan tidak melanggar hukum atau melakukan kesalahan fatal yang sering berujung esekusi.  



Situasinya, Berbanding terbalik dengan negaranya. Mendengar teriakan, tangisan, ledakan bom dan mesiu, senapan-senapan yang tak henti-hentinya menghujam di udara bahkan di waktu tidurnya. Itu, sudah bukan hal asing. Banyak yang melawan, tapi tak sedikit pula yang tumbang tanpa akar.


" Tidak ada waktu lagi Dharma!" Teriak budak atletis lainnya dalam logat Tiongkok kental. 


Teriakan itu berhasil membuyarkan semua lamunannya dalam satu kilatan.


"Ada apa, hēi xiōng?" (Kakak hitam)


Kakaknya itu terlihat terpaku dan membeku di tempat selama beberapa saat, menatap temannya. Hingga tiba-tiba ia bersimpuh dan meraih tangan Xue-mei dengan sangat putus asa.


"Kau harus ikut aku xuě mèi..!" Ekspresinya sendiri sulit ditebak, Bahagia? penuh harap sekaligus ketakutan? 


Belum lagi Xue-mei dapat mencerna apa yang terjadi, budak yang tadi meneriaki kakaknya itu telah menariknya paksa dan terburu-buru.


"Jaga dirimu dan tetaplah hidup xuě mèi! Berjanjilah padaku!" 


Teriakan itulah yang membuat telinganya bergetar dan akhirnya membangunkannya dari tidur tak berujungnya tadi. 


Dan, sekarang inilah realita baru yang terjadi dan tak dapat dihindari ketika ia bangun.


Tidak ada yang dapat dimakan.. yang ada adalah binatang liar yang mengganas karena kelaparan..Serigala, rubah, babi hutan.. dia bisa jadi mangsa kapanpun..meskipun, setidaknya dia tidak perlu takut dengan beruang yang berhibernasi. 


Seperti yang dikatakan kakaknya. Budak To-lo-mo yang sepertinya bukan budak biasa karena bahkan bisa menulis. Tapi, Telik Sandi. Setidaknya kau harus tetap bertahan hidup. meskipun itu berarti dengan memakan salju di kakimu sepanjang jalan. Setidaknya.. kesimpulan seperti itu lebih masuk akal dan mudah diterima, baginya.


Matanya menyipit, dari kejauhan ia bisa melihat sesuatu yang berjalan dan bergerak ditarik oleh unta-unta Baktria. Dan seseorang yang amat dikenalnya pun melambai-lambai dan berlari ke arahnya.


Itu kakak hitamnya....


Matanya pun terbelalak.

Ikatan sanggulnya yang diikat di atas kepala terlepas saat ia berlari menghampirinya. Kini ia jadi terlihat seperti gadis ketimbang lelaki gempal dengan rambut panjang tergerainya. 

 hanya dua hal yang tidak berubah, tahi lalat kecil di bawah pelipisnya dan lesung pipi di kedua pipinya yang kini terlihat tirus dengan sangat mencurigakan. 


Kakaknya pun langsung mendekapnya dalam pelukan yang hangat. 


"Syukurlah kau selamat..." 


xuě mèi tak bergeming, selama beberapa saat. Energi Chi-nya belum terkumpul sepenuhnya. Ketika dia mulai merasakan ada sesuatu yang menonjol menekan pipinya, ia pun tersentak. Dia mulai meraba-raba dada kakaknya untuk memastikan. Dan, sensasinya serasa kesambar petir. Ia Menelan ludahnya sendiri. Ini kan...?!


Tak lama kemudian, sesuatu terasa menyengat dan mengapit telinganya. Ia pun melirik pasrah menatap kakaknya itu.


"Aku tahu... Kau pasti sangat terkejut karena baru tahu rahasia ini... Sayangnya, aku memang perempuan." Kakaknya itu tersenyum sadis, sangat kentara kalau dia sedang berusaha memakluminya. Tangannya pun masih menjewer satu telinganya. Meskipun tidak sakit, lebih seperti peringatan esekusi.


Wajah xuě mèi semakin pucat, tenggorokannya tercekat, sekali lagi ia menelan ludahnya sendiri, tak mampu berkata apa-apa.


Trivia: 


1. Tokoh xuě mèi adalah non-Sui sama seperti Dharma. Ia diberi nama xuě mèi dalam bahasa Tiongkok yang berarti "adik Salju" oleh Dharma, karena kulitnya yang terang seputih salju. Latar belakang keluarga xuě mèi sendiri adalah seorang pedagang pengembara yang kaya. Namun, semua itu berubah ketika keluarganya kembali ke tanah airnya pasca 2 tahun kelahirannya. Setelah berdagang dan mengembara selama beberapa tahun. Saat itu, kondisi tanah airnya sudah berubah drastis akibat konflik perang yang terus meletus. Keluarganya pun harus hidup di bawah tekanan dan eksploitasi sumber daya dan pangan oleh pihak kolonialis yang melakukan kblokade regional. Karena hal itu, keluarganya tidak bisa melarikan diri dan berpergian. Namun, hidupnya pun berubah semenjak ayahnya membuat keputusan berani dengan menyelundupkannya ke peti-peti dagangan untuk menyelamatkan hidupnya.


2. Tokoh Dharma, bernama lengkap Dharmawati, ia adalah seorang putri Tarumanagara, salah satu kerajaan kuno Jawa dari penguasa dan raja terakhirnya.

  Ia menyamar sebagai budak pria demi menginvestigasi perdagangan pupuk palsu atau oplosan dan membebaskan rakyatnya dari jeratan perbudakan gelap yang dilakukan oleh aparat tirani ayahnya sendiri. Akibat muak dengan korupsi berantai yang telah menyengsarakan rakyatnya, ia pun berkonsolidasi dengan kerajaan Galuh dengan menukar gelar kebangsawanan dan martabatnya sekaligus mengukuhkan independensi lahirnya kerajaan ini, lalu resmi membubarkan Tarumanagara kemudian, demi memutus siklus tirani.

3. Mengapa tiba-tiba Dharma dan budak-budak lainnya terlihat panik sebelum tragedi pembumi hangusan markas perbudakan dan pupuk meletus, Sebenarnya apa yang terjadi?

 Di sinilah konspirasinya dimulai. FYI, budak-budak atau sumber daya manusia yang direkrut untuk menjalankan aktivitas gelap ini, adalah etnis asli Sui, kebanyakan mereka adalah orang-orang yang pernah hampir dijatuhi hukuman mati atau esekusi oleh kaisar Sui. Tetapi kebanyakan kematiannya dimanipulasi oleh Suku Yin dan dijadikan budak peliharaan yang setia pada mereka. Sehingga begitu tipu daya dan fakta ini terkuak, kaisar sangat marah dan memerintahkan regu pasukan elitnya untuk memburu dan memberantas penghianat itu tanpa ampun. Namun, kebanyakan budak to-lo-mo yang terlibat tidak mengetahui aktivitas-aktivitas ilegal ini, mereka sengaja diselundupkan sedari awal oleh Suku Yin untuk bekerja sebagai "house keeper" atau pembantu di markas perbudakan sekaligus pabrik pupuk palsu yang disamarkan sebagai tempat transit pelancong dan penginapan tersebut. Sehingga mereka tetap mendapatkan pengampunan dari kaisar sekaligus mendapatkan permintaan maaf atas ketidak cakapannya dalam menilai situasi. Karena hal itu, mereka diberikan ultimatum dan kesempatan untuk melarikan diri.


If you like this story and want to support me, you can Trakteer me in the link below👇

                                    https://trakteer.id/deftan


Harry Potter: Hogwarts & didikan Kejawen

Harry Potter: Hogwarts & didikan Kejawen

 

Sampul Cerita: Hermione (Kiri), Tirta Ningrum (Kanan), Brata Sanjaya, 
Abra Dintara.


[[ Find Me on Instagram: @defita_nur_rohmah



Langit Britania Raya yang biasanya kelabu mendadak terang disambar sinar keemasan. Semua mata di halaman Hogwarts mendongak saat seekor Garuda Putih raksasa, bersayap selebar lapangan Quidditch, menembus awan dan meluncur ke bawah. Sedang ujung bulu-bulunya berwarna merah kontras yang memikat.


Brata Sanjaya, makhluk sakral dari tanah Jawa, hinggap megah di pelataran kastel dengan kuku emas mencengkeram udara.


Di punggungnya berdiri sosok yang menggetarkan auranya: Abra Dintara Pemimpin Kedutaan Sihir Indonesia. Mantan panglima Keraton Sihir Mataram, kini penyambung lidah dunia Timur. Di belakangnya, sosok perempuan berbusana kebaya dan sari hijau mengilap turun dengan anggun. 


Tentu saja, kehadiran mereka hanya permulaan, lebih dari satu lusin pengawal di atas punggung Garuda yang dalam perjalanan menyusul. 


Dialah Putri Tirta Ningrum, darah murni klan penyihir tertua di Jawa—Tirta Wardani. Parasnya tenang seperti danau, tapi menyimpan pusaran kekuatan magis air dan kelenturan hati seorang diplomat. Sedang sorot matanya amat dalam, tapi meneduhkan.


Tapi ini bukan hanya diplomasi biasa. Mereka datang untuk meresmikan kerjasama antar-akademi: 

Sebuah konsolidasi internasional.

Hogwarts dan Akademi Kejawen.


Atau... Setidaknya itu yang mereka kira, jika semuanya berjalan lancar...

                             ***

Sementara itu, di balik menara bayangan, sepasang mata memperhatikan segalanya.


Mantan murid Hogwarts yang menghilang secara misterius bertahun-tahun silam, tersenyum tipis di balik jubah hitamnya. Sepasang ekor cicak transparan bersayap merambat dari ujung sepatunya, ke celana, dari balik jubahnya yang berkibar pelan. Sebelum akhirnya hinggap di pundak kirinya dan mulai saling memadu kasih. 


"Cece', Hemidac.. kalian hari ini sangat bergairah ya, Haha!" Pria itu melirik pundak kirinya dan menyeringai tipis. Kalian bahkan tak menghiraukan ku."

"Aku dengar di Indonesia.. cicak itu dianggap pembawa sial, nasib buruk bahkan kematian.. dan itu tidak salah... Kita akan kirimkan 'kematian' itu dengan cara yang amat menggairahkan..." 

Suaranya serak, matanya berkelebat licik.


                                ***

Aula Besar Hogwarts disulap jadi panggung diplomasi. Makanan lokal bercampur dengan sajian eksotis: pie labu berdampingan dengan nasi liwet, pudding berdampingan dengan... ceker ayam sambal korek. Beberapa siswa Hufflepuff menutup hidung.

Putri Tirta Ningrum pun menyeringai miring. Ia tahu betul bahwa ceker di kalangan penyihir Eropa adalah bahan ritual kuno, penuh tabu dan kekuatan.


Dia mengambil satu. Dengan tangan telanjang.


“Di tempat kami,” katanya sambil duduk tegak, “ceker bukan alat sihir. Ia adalah makanan nenek. Kami rebus. Kami sambal. Kami habiskan.” jelasnya dalam bahasa Inggris yang fasih tapi bercampur aksen medok.


Tepat setelah dia menggigit ceker itu... suasana berubah.


Langit aula mendadak mendung. Petir meletik di langit-langit. Seekor burung hantu pingsan di udara. Dinding batu Hogwarts bergetar pelan.


Kutukan aktif.


Hermione yang kini Kepala Departemen Pertahanan Sihir Internasional bangkit, matanya membelalak. “Itu... sihir Kematian Bertingkat! Dia akan—”


“Tenang,” potong Abra. “Biarkan ia hadapi sendiri.” Sergah Abra.

Tirta Ningrum menutup mata. Urat biru menyala di bawah kulitnya, membentuk aksara Jawa yang berputar.


Lalu—“Gleerr! 

Kedua maha siswa laki-laki hupplepuff bertubuh gempal refleks berpelukan saking kagetnya. 


Kutukan meledak menjadi serpihan angin dan terhisap masuk ke dalam tubuhnya. Ia membuka mata kembali dan menghela napas.


 “Lemah banget sih kutukannya. Kirain bakal bikin muntah darah atau apa gitu!”

Makinya dalam bahasa inggris dengan aksen medoknya. Semua orang tercengang, ternganga dan menjatuhkan sendok mereka serentak. Saking terkejut dan herannya. Tak terkecuali Hermione yang tak tahu harus berkata apa. Bahkan salah satu mahasiswa slitteryn gempal pingsan menggelesor dari tempat duduknya kemudian. 

"Huweek.."

 Putri Tirtaningrum refleks menutup mulutnya, malu tidak bisa menahan mual dan sendawanya. 


"Maafkan aku, kurasa.. aku perlu ke kamar mandi.. " sergahnya bangkit dari tempat duduk dan membungkuk ringan.


"Tidak perlu terlalu dekat menjagaku Abra, lagi pula itu bukan tugas utamamu, dan aku juga butuh privasi.." 


Sergah sang putri, ketika Abra hendak mengawalnya. Abra pun hanya menunduk dan mundur kembali beberapa langkah. 


                  ***

Langkah Putri Tirta Ningrum menggema di lorong batu Hogwarts yang sepi, di bawah cahaya obor yang bergetar oleh angin musim dingin. Bajunya berkibar perlahan, kebaya dan selendang hijaunya memantulkan pantulan kuning cahaya seperti kelopak bunga terendam bulan.


Ia sedang menuju Taman Herbal Hogwarts, mencari udara segar untuk meredakan energi dalam tubuhnya yang masih beresonansi akibat kutukan ceker. Nafasnya mulai tenang ketika tiba-tiba—langkah lain terdengar di belakangnya.


Pelan. Berat.

Dan... terlalu dekat.


 “Yang Mulia.."


Ia menoleh pelan.

Pumpey Sirius. Berdiri di ujung lorong. Matanya merah. Napasnya kasar. Senyumnya... bukan senyum diplomatik yang ia kenal. Tangannya gemetar, dan dari kerah jubahnya, aroma herbal memualkan menyeruak wangi yang ia kenali betul.


Aphrodiacum Jahannam!


Dunia tiba-tiba mengecil.

Jantungnya memukul dada seperti hendak kabur dari tubuh.


“Anda sendirian?” gumam Pumpey, langkahnya mendekat. “Kupikir... kita bisa membahas detail kerja sama ini... secara lebih intim. "


Putri mundur. Satu langkah. Dua langkah. Pundaknya menyentuh dinding dingin. Ia mencoba membuka mulut, tapi lidahnya kaku. Napasnya tercekat. Ingatan lama yang terkubur muncul ke permukaan—masa kecil, suara pintu dikunci, tangan-tangan yang tak ia kenal... dan bau itu. “Aku tahu aroma ini,” gumamnya. “Ini... aroma trauma.”

Seseorang dari klannya sendiri pernah menggunakan zat ini padanya dulu, di usia 12 tahun. Dan hanya keluarga yang tahu peristiwanya. Maka siapa pun yang meracik ini... adalah pengkhianat dalam darah.



"Berhenti,” desisnya.

Tapi Pumpey mengangkat tangan, nyaris menyentuh wajahnya.

 “Jangan takut... aku hanya ingin... merasakan kehangatan magis dari budaya kalian...”Aku sudah lama mengagumimu Yang Mulia...biarkan aku menyentuhmu sekali saja.."

“JANGAN SENTUH AKU!” Bantahnya.


Ia melemparkan segel mantra air—tapi tubuhnya tidak stabil, sehingga mantra meleset. Pumpey terus mendekat.


Lalu—BOOM!

Udara di sekitar mereka meledak seolah ditinju petir.


Sosok berjubah dan berjarik batik dengan mata membara berdiri di antara mereka. Abra Dintara.


Tangan kanannya menggenggam tongkat buluh kuning dan yang kini berdenyut seperti nadi naga. Sedang tangan kirinya menggenggam tombak.


 “Sentuh dia... dan kau akan menghabiskan sisa umurmu sebagai kecoak!” geramnya. Matanya merah. Suaranya menggema seperti dua suara bias bersamaan—satu manusia, satu dewa marah.


Pumpey terpental ke dinding. Pingsan. Aura aphrodisiak runtuh. Tapi Putri sudah terhuyung duduk di lantai. Lututnya lemas. Tangannya gemetar.


Abra berlutut.


Yang Mulia... maafkan aku... aku terlambat...”


Abra menggenggam bahunya, dan mengalirkan energi penenang dari mantra Kejawen: Seketir Jiwa. Tapi luka batin tak semudah itu sembuh.



                                          ***


Ruang Konsolidasi Hogwarts.

Abra Dintara berdiri di hadapan para petinggi. Mata merah. Rahang terkunci. Ia menatap Hermione dan delegasi Hogwarts. “Kami datang membawa damai. Tapi yang kami terima—kutukan dan percobaan pelecehan terhadap Putri klan tetua kami!"


Ia menurunkan dokumen kerja sama.

“Kejawen tidak akan tunduk pada sistem yang membiarkan perusaknya sendiri memimpin. Konsolidasi ini... BATAL!”


Seluruh ruangan gempar.


Putri Tirta ningrum masuk perlahan. Wajahnya sudah lebih tenang, tapi sorot matanya seperti air yang hampir mendidih. Ia menatap Abra.


“Jangan. Itu yang mereka mau. Jika kita mundur... kita kalah. Dan mereka menang... tanpa perlu sihir.”


"Apa maksud Anda, Yang Mulia?"

Belum sempat menjawab, tepat tengah malam. Seekor burung gagak meledak di langit, membawa surat kutukan yang menyala di udara.

Nama yang tertulis di atasnya:

OXELY CLAWS.

Tirta Ningrum menatap tajam. “Kita disabotase!”


Hermione berbisik, “Tidak mungkin..dia... dia adik tirinya Pumpy.” Dia telah menghilang hampir 2 dekade yang lalu..."

Dari kegelapan muncul sosok berjubah hitam. Wajah penuh luka. Mata berkilat hijau. 


"Bau ini....?!"  Gumam sang putri merinding. Secercak kesadaran menerpanya.


 “Oxely... kau—masih adik Pumpy Sirius!”


Oxely tertawa keras, wajahnya penuh luka dan amarah.


“Benar. Tapi dia tak pernah mengakuiku! Karena ibuku adalah darah lumpur! Aku anak haram! Dibuang! Disembunyikan! Sampai akhirnya aku menemukan rumahku di Klan Claws—keluarga penyihir buangan yang tahu bagaimana menyambut dendam!”


“Kau yang meracuni surat diplomasi Pumpey,” desis Abra.


“Aku juga mengutuk ceker ayammu,” sahut Oxely sambil tersenyum ke arah Tirta Ningrum. “Sayangnya... darah bangsawanmu terlalu kebal.”


Bodyguard sang Putri langsung siap siaga meringkus dan membawa paksa Oxely. Mendadak Profesor Raghor, guru ramuan Hogwarts, mengangkat tongkat dan mengarahkannya ke dada Abra Dintara. Mantra tak sempat dilontarkan—tongkat itu meleleh seketika, seperti lilin dalam lava. Di udara, aksara Jawa bersinar—dilontarkan dari tangan Putri Tirta Ningrum yang kini berdiri tegak, rambutnya menari ditiup angin. “Sirep pengkhianat... Tidurlah dalam rasa bersalahmu sendiri!"


Raghor terjatuh. Dari kantong jubahnya, tergelincir keluar gulungan surat diplomasi asli—yang sebenarnya sudah hilang dari dua minggu lalu. 


 Di hari kelima, setelah semua tersangka ditahan dan diberi penghakiman oleh Majelis Sihir Internasional, kerja sama akhirnya ditandatangani.


Mahasiswa Hogwarts akan diajari Mata kuliah khusus Ilmu Sihir Kejawen seperti Sirep, Rawa Ronce, dan Tameng Kala, sementara para siswa Kejawen akan belajar di Hogwarts tentang Patronus, Legilimency, dan Transfigurasi.      


Namun sebelum kembali, Hermione dan Abra sempat berdiri di atas menara tertinggi kastil. "Namun, hal ini tetaplah aneh.. bukankah begitu?" Tanya Hermione mengungkapkan keresahannya pada Abra. 

"Aku sangat mengenali Oxely.. Kebenciannya, ketakutannya terhadap kelemahan dan ambisinya akan pengakuan.. Ia mungkin lebih pendiam dari Draco... tapi jauh lebih agresif.. jika menilai dari karakternya.. sangat tidak mungkin kalau dia hanya memperkejakan dua orang..termasuk dirinya sendiri sebagai tumbal, apalagi jika ia benar-benar ingin megincar sang putri sejak awal, dia bukan orang dungu. Para pengawal mengelilingi sang putri. Mengapa memilih momen ini? 

"Bisa saja sabotase hanyalah permulaan.. 


" Aku mengerti kecemasan Anda.. tapi dari pihak kami juga belum bisa menemukan jejak atau bukti-bukti yang lebih mendukung.." Abra menimpali.

Jika prediksi Anda memang sesuai, mungkinkah... Oxely....hanyalah umpan..?"



Gimana menurut readers sendiri?☺️

Jangan lupa tulis di kolom komentar prediksi kalian ya!

A. Oxely Cuma Umpan dalam Kasus ini, Thor!😰

B. Hermione tuh Cuma Over Thinking, Thor! 🥱

C. Aku.. punya prediksi sendiri nih, Thor! 🤔🧐 


Kalau pilih yang C, selamat.. karena pikiran dan logika kalian sudah mulai kritis😉

Cerita akan dilanjutkan tiap minggunya apabila mencapai 100 pembaca/hari🥰🤩✨

So, jangan lupa Support Deftan ya!

Trakteer me, if you like the story and want support me in the link below👇

                                 https://trakteer.id/deftan


Kalau kamu juga suka baca Fiksi Sejarah coba baca Budak To-lo-mo, sebuah cerpen kritik sosial yang membahas intrik perbudakan dan pemiskinan petani di era Sui Kuno


Long Story Short Genre Shift: Sang Penakhluk? (Pendekatan Semiotik/Simbolis lengkap penjelasan makna persimbolan yang di pilih di balik setiap tokoh, diksi dan adegan)

Long Story Short Genre Shift: Sang Penakhluk? (Pendekatan Semiotik/Simbolis lengkap penjelasan makna persimbolan yang di pilih di balik setiap tokoh, diksi dan adegan)

Ilustrasi
 


 Def Tanoshii, Alious

Transisi genre dari cerita gondrong dan manis karya Def-Tan


   Selayaknya anak kecil yang tak pernah tumbuh, kenaifanku selalu menuntunku pada kesalahan. Aku selalu ceroboh dan melupakan hal sepele yang penting:  

1.      Perhatikanlah pijakanmu, Jangan sampai kau terpeleset dan terjatuh.

2.      Berhati-hatilah pada perangkap singa, setelah kau lolos dari perangkap harimau.

3.      Jangan memakai high-heels ketika kau mencoba lari dari musuh.

 

   peraturan yang paling penting kala kau berusaha lari dari musuh yang mencoba memangsamu adalah kau tidak boleh gagal dalam melarikan diri. Karena ini sebuah momentum yang mempertaruhkan nyawamu, jika terjatuh, kau dipastikan tak bisa bangkit lagi dan mayatmu hanya akan diinjak-injak. [1]Orang-orang berjubah[2] itu tak akan segan-segan menyeretmu dan menawanmu dalam kerangkeng[3] seribu kilo meter di kedalaman perut bumi. [4]

Dan sialnya, aku mengabaikan peraturan itu.[5]

  Aku pun memejamkan mataku, pasrah, teramat pusing memandangi serpihan kertas yang berhamburan ke udara dalam motion yang seolah semakin saja melambat. Sudahlah, lagi pula aku sudah sangat muak dan lelah dengan semua pelarian ini. Apa ini memang sudah akhirnya?

Sampai di sini… Jadi, aku benar-benar menyerah?

“AKU MENANGKAPMU!!”

   Teriakan serak seseorang mengacaukan segala spekulasiku. Aku membuka mata dan… duar! kini ada seorang pria asing melotot memandangiku. Aku bahkan bisa merasakan nafasnya yang menderu tidak teratur dan ketakutan di matanya. Aku balas melotot-mengerutkan kening heran, bersamaan aku beranjak berdiri. Ia mulai mengendorkan cengkraman tangannya dari pinggangku lalu perlahan melepaskannya-tanpa mengalihkan tatapannya sejengkalpun terhadapku.[6] Dia.. penyelamat?atau… pengacau?[7]Malaikat atau Jin Ifrit?

   Tapi Bagaimana bisa manusia sepeduli itu?!! Jangan-jangan ia hanya musuh menyamar [8] apakah kita saling mengenal sebelumnya?[9]

Jika ya, Di mana?

Apakah di tumpukan halaman-halaman yang berusaha kuremas-remas sebelumya?[10]

..Dalam karma yang ingin kulupakan sebelumnya?[11]

Entah mengapa begitu sulit menjelaskannya, sampai-sampai membuatku merasa mual.

“Bajingan!”

Sial. 

   Aku rasa Seberapapun kerasnya aku berusaha menahan kata itu agar tak meluncur ke otakku dan keluar dari mulutku ataupun menjadi kebiasaan setelah hampir 14 hari sendirian, mengelana, dan berusaha membenahi diri di habitat manusia tangguh[12]. Semuanya akan tetap sia-sia pada akhirnya. Karena kata itu akan terus mencari jalannya sendiri, terutama jika kau sedang di tengah-tengah pelarian lalu kau dihadapkan dengan seorang pria aneh, berambut gondrong, berkaos oblong hitam yang semena-mena menjegal jalanmu. [13]

“A-apa kau bilang?! aku telah menyelamatkanmu, kau tergelincir dan hampir saja terjatuh kalau aku tak menangkapmu. Kaulah yang menabraku duluan”.  Tadi kau berlari.. lari.. sangat cepat, meliuk dan terpleset oleh sepatu higheelsmu…!!

Tidak, bukan kau!

Mengapa rasanya semua ini seperti mimpi terindah dan familiar yang ingin kusaksikan berulang-ulang di setiap tidurku?[14]

“Maaf! Aku mengatai diriku sendiri”.

“apa?! Mengapa kau membodoh-bodohkan dirimu sendiri?!”

 Sungguh respons yang luar biasa nan mengejutkan, pria itu malah membelalak dan bersimpati memandangiku.

“Terima kasih telah menyelamatkanku, sekali lagi aku minta maaf”.

   Dia tersenyum lembut padaku, membuat betapapun usahaku agar bersikap datar dan mengacuhkannya jadi sia-sia. di luar dugaanku dari berusaha memulai percakapan yang membosankan, pria ini sontak menggeleng dan tersenyum sembari mulai merapikan kekacauan yang telah kuperbuat. Ia terlihat mencari-cari sesuatu mengedarkan pandangannya ke sekeliling lalu memungut sebuah papan besar yang terlempar cukup jauh dari tempat kami berdiri. Ia dengan lihai mengambil beberapa kertas dan meletakannya ke atas papan. Aku pun juga memungut beberapa kertas dan menyadari-

   Mengapa sensasi ini terasa begitu familiar? Seakan kau mengingat sebuah visi yang telah lama terlupakan, dan ini amat menyentakmu.[15] Ternyata ini merupakan potongan-potongan peta sebuah wilayah.[16] Apakah ini semacam kolase?[17] Aku membatin dalam hening, berjongkok mendekati laki-laki itu. Ia tampak amat serius berusaha menyusun potongan-potongan kertas itu hingga dia mengabaikanku.

   Merasa tak tahan dengan objek yang kulihat, akhirnya otakku turut berpartisipasi berusaha memecahkan teka-teki itu. Aku mengamati benda itu dari ujung kiri ke kanan, atas ke bawah, mulai menganalisis akan segala kemungkinan kolerasi yang paling logis. Bagian tengah papan telah terisi oleh beberapa bidang wilayah. Sebagian kecil wilayah berwarna kuning kecoklatan dengan garis hijau melengkung di atasnya diawali oleh huruf S dan Y, laut kematian di barat dan Irak di timur, lalu ujungnya melancip ke bagian bawah berindikasikan sebuah wilayah yang berawalan kata ‘Sau’. Lalu Turki di barat lautnya. Sedangkan wilayah lainnya masih kosong. 

‘‘Bukannya wilayah itu berdekatan dengan Mediterania….?“

 Detik demi detik otakku selalu berjalan. Mengirimkan sinyal tentang abstraksi-abstraksi visual sedang tanganku mulai menyusunnya, mencari-cari gambaran yang familiar, sampai akhirnya menemukannya. Semuanya bekerja begitu cepat dan mudah di otakku, ya, setidaknya itulah salah satu kemampuan andal kami, para lú-dub-sar-gis-da[18] yaitu membuat peta,kami mengingat setiap navigasi, ruang, tempat bahkan letak geografis segala peristiwa yang terjadi di dunia ini. Kami adalah salah satu dewa dan dewi penjaga ingatan manusia,[19] termasuk dalam kasus ini, berkaitan dengan sejarah. Kami mengabadikan setiap momen, dan kejadian. Menulisnya dalam kitab-kitab dan mengabadikan setiap kenangannya menjadi monumen dan legenda. Baik yang sudah dipercayai manusia dengan adanya fakta, maupun sejarah yang masih dianggap sebagai mitos serta kepercayaan dalam kitab-kitab suci dan ajaran.

 Tanganku pun mulai mengimbangi kecepatan pikiranku. Dalam beberapa saat aku bisa bersyukur dan bernapas lega, karena merangkai peta sepele seperti ini saja, sensasinya sama seperti liburan masa tegang beberapa bulan setelah lulus. [20]Setidaknya ini bisa menjadi relaksasi sekaligus pelarian sejenak dari para lú-sá-rig7-meš[21]

Yang berekspedisi memburu kami.

“…WHOAA!!”

   “Apa mungkin kau itu cicitnya Ibnu batutah? [22]Jenius Geografi yang mampu merangkai kolase peta hanya dalam beberapa menit!?” Pria itu justru tak menghiraukanku, ia mengerjap-ngerjapkan matanya, menatap layar handphone, menatap peta kemudian wajahku berulng kali.“Woooow!! whahahahaaaa! Bagaimana bisa?! Ini sama persis!” bahkan sejauh ini rekor waktu tercepat yang pernah kuhabiskan untuk merangkai peta adalah 3 menit 41 detik”. Aku menggeleng, menghela nafas.
“Itu tak sesulit yang kau pikirkan, dan tak ada yang spesial.” Ini peta wilayah Mesopotamia, Selama kau punya tujuan dan terus menatapnya. Seberapapun menantang dan berdurinya jalanmu pasti kau akan sampai pada apa yang kau tuju. Dan wilayah ini masih sangat sederhana.” Aku yakin kau juga bakal bisa menyusunnya. Kau harus mulai dengan mengedintifikasi dan memahami warnanya. ”Warna hijau di peta berarti wilayah subur, sedang putih tulang sampai kuning kecokelatan mempresentasikan wilayah gurun.” Wilayah-wilayah yang subur cenderung dialiri Sungai-sungai sebagai suplai air utama”. Lingkungan seperti ini sangat menguntungkan bagi populasi Masyarakat untuk mulai membuka kehidupan, lalu mereka pun menciptakan pemukiman, lahan pertanian, berternak bahkan sampai dimanfaatkan untuk jalur lintas perdagangan,” Sungai-sungai tersebut tentunya memiliki wilayah hulu atau sumbernya yang umumnya terletak di wilayah-wilayah pegunungan”.  Kubiarkan jari-jariku menjadi pemandu untuk menelusuri wilayah-wilayah yang signifikan pada peta, sebelum akhirnya berhenti di sebuah titik kursial, Pegunungan Taurus di sebelah utara.“dan setiap Sungai akan selalu memiliki muaranya, entah itu mengalir ke laut, danau, maupun teluk”. Kini jariku menelusuri salah satu garis sejajar yang membentang dan berhenti pada sebuah titik di Selatan, Teluk Persia. Jadi kau hanya perlu memperhatikan tanda-tanda geografisnya dengan seksama”. Pria itu tampak begitu serius menaruh perhatian, jadi aku memutuskan melanjutkan penjelasan. “Hal serupa juga terjadi pada deretan panjang Sungai Nil, anak sungainya bermula di Jinja, Danau Victoria, dan hilirnya bermuara ke Laut Mediterania yang ada di sebelah timur la/

   “Aku mengerti! Meskipun ini bukan termasuk keahlianku.(aku akan berusaha) Jadi singkatnya.. ‘‘pria itu mengerutkan dahinya sesaat, tampak berpikir. “Sungai Eufrat dan Tigris mengapit wilayah bulan sabit, sungai ini bermula dari pegunungan Taurus di wilayah Anatolia dan Turki, lalu ia terus mengalir sehingga membuat daerah-daerah yang dilaluinya tumbuh subur dan bermuara__

…ke Teluk Persia?“

  Pria itu menelusuri ulang wilayah-wilayah pada peta dengan jemarinya, dengan cekatan. Mengulangi kembali materi pengajaranku. [23]Refleks aku pun membalasnya dengan senyuman dan anggukkan, meskipun setelah itu aku harus menggigit bibir karena telah menunjukkan emosi atau keramahanku pada.. manusia. Yang kapan saja, mungkin suatu saat, mampu mengubah senyummu menjadi ratapan. Namun layaknya kata pepatatah, airpun perlahan-lahan mampu mengikis sebongkah batu, orang dihadapanku ini selalu saja tersenyum, matanya berbinar seolah memancarkan seribu ketulusan bersamaan sejuta rahasianya.

“Hei.. aku rasa kau cukup pintar, siapa namamu?”

Panas dan menyayat kulit Tiba-tiba Bulu kudukku meremang, sesuatu dari warna suaranya telah mencengkram instingku. Orang di hadapanku dengan ganjil menatapku, perlahan bibirnya pun membentuk seringai. ‘‘Lalāi[24], lú-dub-sar-gis-da?“

   Hawa Panas dan asap mengepul mendadak dari segala penjuru Atmosfer, percikan api berkilat dari segala penjuru sudut lift, langit-langit, bahkan lantai pun perlahan meranum kecoklatan dan gosong layaknya terpanggang. Tubuhku mendadak membeku tak mampu berkutik layaknya manekin yang berdiri tegak di pajang, namun tubuhnya begitu kaku. entah energi dan kekuatan apa yang telah menahanku. Orang di hadapanku mulai mendekat dan mencengkram daguku dengan lengan berototnya, mendongakanku menatap wajahnya. Panas dari kulitnya menyengat kulitku, peluh pun mulai menetes membasahi dahi dan leherku akibat api yang semakin membara dan menyeruak.. Percikan api berkobar dalam matanya yang selegam arang selagi berbicara. ‘‘ Akan kukejar kemanapun kau bersembunyi Tedfia[25], aku tak akan melepasmu!“

  Api hitam mulai mengepul mengelilinginya, secara ajaib mengubah orang di hadapanku ke wujud aslinya. Berjubah hitam, dengan bordiran emas, gelang-gelang api berputar membalut pergelangan tagan serta lehernya. [26]Dalam hitungan detik aku tersentak,menyadari siapa orang di hadapanku ini. Perasaan yang ambivalen serasa menggelitik ususku.

 ‘‘Kenapa harus aku? Alious..." 

Aku menyeringai miris, gigi geligiku gatal ketika menyebutkan nama itu.

   ‘‘kerena aku memilihmu sebagai ratuku“. Kau harus menghadapi ketakutanmu, sayang“ Orang di hadapanku mulai menghunuskan pedangnya dari balik jubahnya. Waktu pun melambat kepulan asap hitam menyembur membakar panas wajahku selagi orang di hadapanku berteriak‘‘AKU AKAN MEMbUnUhMU EGO!!!![27]“Hujaman tajam terasa membakar perutku, aku mengerang kesakitan bersamaan kusaksikan sekujur lengan dan tubuh orang di hadapanku berubah menjadi tengkorak.

***

     ‚‘‘haahh..!‘‘  Nafasku tercekat. Keringat bercucuran membasahi dahiku.

Cuma mimpi…?

                                                                                  ***

‘‘Sayang??!‘‘

  Semburat lampu yang menggantung di dinding menyilaukan pandanganku layaknya matahari yang menyembul. Desing kipas angin yang berputar menjadi laguku.Semerbak pengharum ruangan khas klinik menusuk hidungku. Sentuhan hangat menjalari kedua tanganku secara tiba-tiba. ‘‘ Udah Sadar?“

  Laki-laki dihadapanku menatap dengan cemas. Tangannya mulai membelai rambutku selama beberapa haluan sebelum bibirnya merekah kembali penuh kelegaan.

 “Nih, aku bikinin puisi, dengerin aku baca ya..!”

Devita: puisi akrostik” oleh Alious!”

 

D eraian kasih sayang menyertai perasaanmu

E lok bak sucinya hatimu kian menyinari ufuk kalbu

V iolet menjadi bunga yang mengambarkan cantiknya dirimu

I nginkan kelak kau memupuk angkasa bersamaku

T ersirat sebuah cerita yang kian harmoni

A kankah kelak sang pujangga menyertai cerita cintamu?

Depok, 24 November 2024

“Sayang.. aku..//

“Yang, kenapa kamu pilih aku?“

‘‘kenapa aku pilih kamu..?“ ya… karena_

  Laki-laki berambut gondrong itu terlihat mengatup-ngatupkan geliginya gusar, lalu mulai mengacak-ngacak rambutnya. ‘‘aku.. nggak tahu…

‘‘hatiku yang memilih…‘‘[28]

 

Tamat

 

 

‘‘Ini ketiga kalinya kita bertempur dan berlayar menjauh, namun tiba di pelabuhan yang sama“

~Def Tanoshii, Alious

 

 

 If you like this story and want to support me, you can Trakteer me in the link below👇


                   https://trakteer.id/deftan

 

 

 

 

 

 



[1] Dalam paragraf pertama diceritakan bahwa tokoh sedang dalam pelarian dan takut tertangkap oleh orang-orang berjubah . Adegan pertama ini mendeskripsikan ketakutan atau trauma penulis, yang takut terpenjara atau tertawan kembali ke masa kegelapannya: kembali terbelenggu oleh emosi-emosi-emosi negatifnya sendiri: frustasi, depresi, bingung, penyesalan akibat kegagalan dan rasa bersalah. dalam paragraf pertama dijelaskan sudut pandang/pikiran tokoh bahwa ia berusaha melarikan diri atau bersembunyi dari emosi-emosi negatif yang terus memburunya tersebut.

 

[2] Disimbolkan sebagai emosi-emosi negatif tokoh/penulis yang terus memburunya dan mencoba menawannya.

[3] Kerangkeng: Menyimbolkan masa kegelapan penulis/perasaan penulis di masa lalu: terkurung dalam kerangkeng (kotak besi yang ukurannya sangat sempit dan kecil) hal ini juga bisa menyimbolkan emosi penulis yang merasa dirinya begitu kecil dan tidak bebas di masa lalu.

 

[4] Seribu kilo meter di kedalaman perut bumi: hal ini menyimbolkan suasana hati penulis di masa lalunya. Suasana gelap gulita seakan terpenjara di bawah tanah sehingga ia tak bisa melihat Cahaya sedikitpun yang mampu menerangi pandangannya.

 

[5] Menyiratkan dan mengkonfirmasi kecerobohan penulis di masa lalu.

[6] Adegan ini menyimbolkan datangnya keselamatan atau pertolongan bagi penulis dari arah yang tidak disangka-sangka dan begitu tiba-tiba tatkala ia sudah pasrah dan menyerah akan situasinya sembari menanti kejatuhannya sendiri.

[7]‘ Pengacau atau penyelamat?’ mengisyaratkan kebimbangan atau keraguan penulis akan situasi baru yang terjadi di hidupnya Berupa kehadiran karakter kedua yang secara tiba-tiba dan menangkapnya dari kejatuhan.

[8] pernyataan sinis penulis yang tidak mudah lagi mempercayai seseorang akibat traumanya.

[9]  Menyiratkan perasaan dan kejadian familiar tokoh/ penulis ketika pertama kali bertemu karakter kedua. (Alur yang disalin/sama persis dengan naskah gondrong dan manis.

[10] Menyimbolkan Permasalahan /konflik yang terjadi di hubungannya.

[11] Karma (naskah deftan lainnya, yang terinspirasi dari kisah-kisah kekecewaan dan kegagalannya di masa lalu)

[12] Menyiratkan atau menyimbolkan rentang waktu dan keadaan tokoh atau penulis yang berlagak tangguh di saat  berkonflik dengan sang kekasih.

 

[13] (Alur yang disalin/alur yang sama persis seperti kisah pertemuan pertama dan Tedfia dan Dwingga ini menyimbolkan kenangan-kenangan  yang di putar ulang atau tak mau pergi.

[14] Mengkonfirmasi harapan tokoh atau penulis untuk mengulang kenangan-kenangan indah yang pernah terjadi selepas hubungannya berakhir.

[15] Mengkonfirmasi ulang nomor 14

[16] Peta dalam cerita ini sendiri menyimbolkan rencana dan arah dalam hubungan pribadi tokoh atau penulis sebelumya.

[17] Serpihan dari kolase peta melambangkan kepingan-kepingan rencananya

[18] Bahasa Sumeria kuno: menggambarkan seseorang yang memiliki keterampilan dalam menggambar atau mencatat representasi wilayah geografis atau spasial.

[19] Menyimbolkan tugas dan pekerjaan sebagai penulis, adalah salah satunya mengabadikan setiap momen dan kejadian agar tidak lekang dari sejarah atau peradaban.

 

 

[21] Dalam Bahasa sumeria kuno bisa diartikan sebagai para penghapus.

[22] Seorang alim (cendekiawan) asal maroko yang pernah berkelana ke berbagai pelosok dunia sekitar abad pertengahan.

[23] Adegan tokoh utama dan tokoh kedua berusaha merangkai dan memecahkan peta bersama menyimbolkan atau mengisyaratkan bahwa sebelumnya dalam hubungan romantisnya penulis berusaha selalu bekerja sama dalam memecahkan konflik dan permasalahaan dalam hubungan mereka. Mereka juga berusaha merangkai rencana untuk hubungan mereka di masa depan dan kenangan tersebut sulit dilupakan.

[24] Dari bahasa jawa kuno: Bentuknya mirip dengan penggunaan dalam bahasa Jawa modern yang telah diadopsi kedalam bahasa indonesia.

[25] Tedfia adalah bentuk permainan huruf, jika di otak-atik kembali maka akan membentuk nama „‘Defita“ nama pengarang.

 

[26] Kekuatan tokoh kedua/Dwingga yang berupa api yang dianggap sebagai elemen tertinggi dan terkuat menyimbolkan gairah, semangat dan tekad.

[27]  Adegan ini menyimbolkan bahwa sebenarnya karakter Tedfia adalah ego dari si penulis/pengarang.  Musuh atau pangeran api berjubah yang mengambil wujud kekasih pengarang, mengindikasikan rasa ketakutan atau ketidak amanan akan trauma kegagalan dalam menjalani hubungannya.

[28] Adegan ending si ego atau konflik yang terjadi diantara mereka berhasil dimusnahkan, kekasih pengarang pun menemani di sisinya sampai ia tersadar. Hal ini menyimbolkan kegigihan dan komitmen kekasih pengarang dalam mempertahankan hubungannya.

 


Tentang Penulis:

Defita Nur Rohmah atau dikenal dengan nama penanya Def Tanoshii, lahir di Kebumen, 30 Desember 2005. Sekarang tengah menempuh pendidikan tinggi di salah satu Universitas Islam Negeri di Purwokerto yaitu UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Aktif dalam beberapa komunitas Offline dan Online seperti  bergabung menjadi member Youth Ranger Indonesia pada 2024. Ia juga aktif dalam beberapa komunitas offline kebahasaan asing di kampus. Ketertarikannya dalam bidang sastra di mulai sejak SMA, Naskah asli ‘‘Sang Penakhluk?‘‘ merupakan bab kedua dari projek novelnya yang berjudul Gondrong dan Manis yang telah dipublikasikan pada web pribadinya https://www.nearlyarthito.com bergenre fiksi romantis, dan terinspirasi dari pasang surut hubungan pribadinya Namun, Def-Tan sendiri berusaha melakukan alih genre ke fantasi. Ditulis melalui pendekatan penyimbolan (Semiotic) sebagai mahasiswi Tadris Bahasa Inggris, ia mendapatkan pengetahuannya ini dari mata kuliahnya Linguistics. Setiap adegan atau scene, tokoh bukan hanya hasil sebuah rekaan atau imajinasi, namun juga serat akan makna dan nilai. Karyanya ini merupakan sebuah kolaborasi dengan seorang sahabat sekaligus kekasih.

 karyanya berjudul ‘‘Surat Kapal‘‘ (2022) mendapat posisi pertama di lomba kedutaan literasi kebumen yang di usung sebagai karya sastra terbaik yang dibuat oleh difabel. Karya-karyanya berupa Antologi Puisi Kebudayaan dan Pariwisata Kebumen (2022) dan berjudul ‘’Raksasa” termuat dalam ‘‘TARTRAZINE #2 Seputar Sastra dalam Zine untuk Palestina(2023) dan juga Antologi Essay berjudul  PENDIDIKAN UNTUK APA DAN SIAPA? (2023), Kumpulan Fiksi mini Gol A Gong, dkk: Air Terjun (2024)

Song: Speechless (epic orchestra version)

Belum baca Gondrong dan Manis? Klik di Sini!